Blog Archives

Antara Persepsi Iman dan Akal (Bag 1:Pelajaran dari 3 Ekor Lalat)

Apabila seekor lalat hinggap di tempat minum salah seorang dari kalian,hendaknya ia mencelupkan ke dalam minuman tersebut, kemudian membuangnya, karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat penawarnya. (HR. Bukhari)

“Ohh…baiklah”.

Seingat saya, kata itulah yang pertama kali muncul dalam benak pada saat pertama kali mendengar hadits tersebut.  Terkadang beberapa kali terlintas juga secara iseng dalam pikiran, “Gimana yah cara menangkap seekor lalat (untuk dicelupkan) yang kelincahannya cukup terkenal dikalangan golongan serangga tersebut, apa harus belajar kungfu dulu biar bisa nangkep pake sumpit kayak di film (hehe).” Karena memang selama pengalaman berhubungan dengan yang namanya lalat, mentok-mentok paling cuma hinggap aja di pinggiran gelas. Tidak pernah sekalipun sang lalat dengan kesadarannya sendiri terjun bebas ke dalam gelas yang berisi air minum.

Hari-hari pun berlalu dengan tidak terlalu memikirkan lagi akan hadits tersebut. Hingga pada suatu hari di kota Tanggerang, saat sedang berkunjung ke rumah pembimbing tugas akhir saya waktu berkuliah dulu. Seolah – olah Allah ingin menjawab rasa penasaran saya yang sudah memudar setelah sekian lama.  Entah kenapa tiba-tiba dengan sukarela ada tiga ekor lalat menceburkan diri dengan sukses atau bahasa gaulnya “nyemplung” ke dalam gelas yang berisi kopi hangat yang sedang saya minum. Dan berenang – renang agak meronta dengan santainya. Gak percaya? cekidot…

Kaget dan merasa jijk..tentu adalah reaksi normal bagi orang kebanyakan, apalagi dengan “cap” kotor yang sudah menempel erat pada lalat yang terkenal suka hinggap dimana saja. Dan itu pula yang saya rasakan dan pikirkan saat itu.

Membuang kopi yang sudah terkontaminasi mungkin merupakan solusi terbaik yang terpikir dan dapat dilakukan. Tetapi entah bagaimana, tiba-tiba teringat hadits yang sudah lama saya baca tersebut.  Sesaat, perang singkat pun terjadi dalam pikiran, antara membuang kopi tersebut sehingga memperkecil resiko terkena penyakit bawaan lalat, atau mencoba mengamalkan (sambil bereksperimen) hadist tersebut yang jarang – jarang ada kesempatan kayak gini.

Perang pun berakhir, dan pikiran kedua menang. Dengan sedikit ragu, satu per satu lalat yang masih berenang dengan gaya bebas (atau gaya lalat :)) tersebut saya celupkan kedalam kopi lalu saya buang. (catatan: alhamdulillah begitu dibuang lalat langsung terbang dengan bebas dan sehat wal ‘afiat, jadi buat para pejuang hak asasi lalat, tidak usah repot-repot menuntut saya :p)

Dan akhirnya dengan perasaan bercampur baur, kopi pun saya seruput hingga habis. (Kalau sahabat tidak percaya, sebenarnya ada foto buktinya tapi sengaja tidak dipublikasikan dengan alasan keselamatan kita semua..lho??) Dan hasilnya?? Tidak merasa apa – apa sih sebenarnya selain perasaan lega karena rasa penasaran berhasil terpuaskan, lega karena tidak ada gangguan kesehatan apapun setelahnya, juga lega karena insyaAllah sudah mengamalkan suatu anjuran Rasulullah saw.

Nah apa pelajaran dari kejadian (yang berkesan) gak penting dan iseng – iseng tersebut?

Setelah mencoba memikirkannya dalam – dalam, saya akhirnya mendapat suatu hipotesa yaitu terkadang dalam menghadapi konsekuensi keimanan yang salah satu bentuknya berupa kewajiban, larangan, perintah, ataupun anjuran. Kita seringkali membenturkannya dengan akal kita, sehingga konsekuensi-konsekuensi keimanan yang kita anggap tidak masuk akal (tidak logis) tidak kita amalkan bahkan kita ingkari. Tapi sadarkah kawan kalau ternyata bukannya konsekuensi (keimanan) tersebut yang tidak ‘masuk akal’ tapi akal kita yang tidak ‘masuk iman’. Bingung? Sama… dong, hehe 🙂

Contoh, misalnya yang sering kita lakukan setiap hari, gerakan shalat. Kalau ditanyakan kepada orang diluar muslim, yang sama sekali belum pernah melihat seseorang melakukan shalat, pasti mereka akan merasa aneh dan berfikir sangat tidak masuk diakal gerakan – gerakannya. Setelah sekian lama dilaksanakan oleh umat muslim, ternyata bisa dijelaskan secara logika baru-baru ini salah satu (salah satu lho..) dari hikmah gerakan shalat, yaitu saat orang ramai membicarakan hikmah dan keuntungan gerakan shalat bagi kesehatan. Walaupun begitu insyaAllah kita sebagai seorang muslim melakukannya karena logika iman kita untuk melakukannya sudah terpenuhi, yaitu karena diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah. Nah apakah dulu saat awal melakukannya sibuk mencari alasan logis yang sesuai dengan ilmiah dulu baru mau melakukannya? tentu tidak kan.

Nah kembali ke judul awal, apa sih persepsi iman dan persepsi logika itu sendiri? Persepsi dapat kita artikan secara mudah sebagai sudut pandang. Sehingga persepsi iman adalah bagaimana kita menghadapi/menyikapi suatu persoalan dari sudut pandang iman.  Begitu pula dengan persepsi akal.

Contoh penyikapan tersebut sudah coba saya ilustrasikan dengan kejadian tiga ekor lalat tersebut. Sebuah kejadian yang walaupun remeh , karena diliat dari sudut pandang iman, dapat memberikan suatu hikmah baru khususnya untuk saya pribadi.

Terus kalau ada dua persepsi tadi, iman dan akal itu bersebrangan? Lalu seberapa hebatkah logika iman itu sampai – sampai mengalahkan logika akal sehingga harus dimenangkan di atasnya??

Bersambung…

next: Antara Persepsi Iman dan Akal (Bag 2: Se-cartridge tinta melawan Samudra)

nb: pada awalnya akan saya buat judul dengan tulisan iman vs logika, ternyata setelah difikir lagi judul tersebut kurang tepat. kenapa? lihat di bagian 2 ya..:)

Menyambut Ramadhan dengan Asa

Alhamdulillah setelah lebih dari sebulan tidak muncul dalam dunia tulis-menulis blog. Hari ini di hari pertama di bulan Ramadhan yang mulia ini saya kembali mendapatkan kesempatan untuk berbagi inspirasi. Dan untuk tema tulisan kali ini tidak jauh dengan realita yang ada, yaitu menyambut bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan seperti yang mayoritas umat muslim ketahui, adalah suatu waktu yang sangat agung dan istimewa dalam ajaran islam. Sehingga tidak jarang Ramadhan dijadikan suatu momentum dan inspirasi untuk melakukan suatu perubahan diri menuju yang lebih baik.

Di Negeri kita yang tercinta ini, banyak cara dan gaya dalam menyambut Ramadhan. Kesemuanya berbeda tergantung keadaan dan budaya masyarakat sekitar. Di Jawa Barat kita kenal ada acara “Munggahan”, di Jawa Timur kita kenal “Padusan”, dan lain-lain. Karena bukan ini yang akan saya angkat jadi dicukupkan saja bahasannya :).

Kembali dalam rangka menyambut Ramadhan. Sesuai dengan judulnya, terinspirasi oleh ceramah taraweh pembukaan Ramadhan yang saya rasa hampir mirip di berbagai tempat (pake khutbah nya Rasulullah yang memaparkan keutamaan-keutamaan Ramadhan) . Ternyata salah satu cara menyambut Ramadhan adalah dengan memupuk asa.

Asa a.k.a harapan memang harus senantiasa kita pupuk jika kita mau menjadi pribadi yang sukses dalam bidang apapun. Termasuk dalam menyambut dan menjalani Ramadhan. Yakin deh dengan setumpuk asa, insyaAllah kita akan dapat menjalani segala kegiatan di dalam Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Apa hubungannya asa dengan sukses dibulan Ramadhan?  Terus gimana cara agar asa selalu terpupuk sehingga Ramadhan kita insyaAllah sukses?

Ramadhan adalah salah satu waktu yang istimewa, dimana Allah banyak memberikan kita keistimewaan yang banyak. Salah satunya adalah dibukanya lebar-lebar pintu surga dan rahmat, juga ditutupnya rapat-rapat pintu neraka, dan masih banyak lagi.  Tentu kita berharap agar segala yang kita lakukan dapat dinilai sebagai ibadah di sisi Allah sehingga kita dapat mendapatkan keutamaan yang banyak dan tidak didapat diwaktu yang lain tersebut.

Ternyata untuk menumbuhkan dan memupuk asa, tidak semudah untuk diucap (tulis) kan, ada dua hal minimal yang harus kita persiapkan. Yang pertama adalah ilmu, yang kedua adalah keyakinan (keimanan).

Persiapan pertama adalah ilmu, dengan ilmu kita dapat mengetahui segala kebaikan dan keutamaan dalam bulan Ramadhan. Sehingga dapat menjadi moivasi kita dalam beribadah. Seperti contohnya:

“Jika datang Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan syetan dibelenggu” (HR. Muslim)

Lalu dengan ilmu, kita juga kita dapat mengetahui segalam macam cara beribadah yang  benar sehingga segala ibadah kita tidak sia-sia oleh karena kita salah dalam mengamalkannya. Contoh tidur untuk ibadah dalam bulan Ramadhan. Emang gak salah sih, tapi alangkah lebih baiknya kan jika kita isi waktu kita untuk hal yang jauh lebih bermanfaat selain tidur :).  Juga dalam hal tarawih, kecil emang tapi pernah diingatkan bahwa terkadang kita ke masjid pada saat adzan isya itu niatnya buat tarawih, bukan buat shalat isya berjamaah tepat waktu dimasjid dulu. Emang gak salah – salah amat juga sih, tapi kan sayang kalau kita lebih “mendahulukan” yang sunnah daripada yang wajib (yang insyaAllah pahalanya juga lebih besar).

Lalau..yang kedua, setelah ilmu yang ternyata tidak cukup. Kita juga harus berusaha memiliki keyakinan (keimanan). Kenapa tidak cukup? Coba saja kita tanya ke dalam diri kita. Apakah kita sudah tahu keutamaan dalam bulan Ramadhan? Kalau sudah apakah kita sudah bersungguh-sungguh mengejar keutamaan tersebut? Jika belum bisa dibilang keimanan kita belum cukup untuk mengaktivasi ilmu kita menjadi amal nyata.

So…mumpung masih awal Ramadhan. Muailah cari sebanyak-banyaknya ilmu tentang keutamaan dan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan.  Dekatkan diri kita kepada Allah, dan minta (berdo’a) kepada Allah agar kita diberi keimanan untuk meyakini dan mengamalkan ilmu yang kita punya. Sehingga asa dalam diri kita akan terpupuk sedikit demi sedikit bukan hanya dalam bulan Ramadhan tapi dibulan lain juga insyaAllah.

Terakhir…dengan memupuk asa, kita insyaallah akan selalu termotivasi untuk mengejar target akan janji-janji Allah tersebut. Juga mengisi tiap waktu (detik) kita pada bulan yang mulia ini dengan amal-amal (perbuatan-perbuatan) terbaik kita. Sehingga bulan ini harus jadi Ramadhan yang  jauuuuhhhhh…lebih baik dari Ramadhan tahun lalu.

.

Selamat memupuk asa sahabat. 🙂

Wallahu A’lam

Shaum Ayyamul Bidh yuk (hadits, keutamaan, dan hikmah)

Sahabat, tidak terasa kita sudah memasuki tengah bulan pada bulan hijriah. Bulan pun bersinar dengan terangnya dan tak lagi malu – malu menampakkan wajahnya. Bagi sebagian orang, mungkin menganggap fenomena ini adalah fenomena alam biasa dan harinya pun dilalui dengan biasa-biasa saja.  Untuk seorang peneliti fenomena pasut (pasang – surut) air laut, mungkin fenomena ini adalah salah satu dari sekian  fenomena yang akan mempengaruhi hasil penelitiannya (sekadar info, bahwa pengamatan untuk  penelitian dan pemodelan pasut air laut biasanya memakan waktu berhari – hari, bahkan bertahun – tahun lamanya).

Tapi lain halnya dengan seorang muslim, hari tersebut menjadi suatu hari yang istimewa dimana ia telah diberikan kesempatan untuk bertemu dengan suatu amal ibadah yang mendapakan tempat istimewa, dan melaksanakannya dengan sepenuh hati. Apa itu? Shaum Ayyamul bidh (terjemahan kasar: puasa hari putih/terang ).

Apa sih istimewanya?

Kenapa puasa ini begitu istimewa? Ada beberapa Alasan mengapa puasa ini terasa begitu istimewa ,antara lain:

Bahwa puasa ini memiliki ganjaran yang sangat besar di sisi Allah, sudah tentu kita sebagai umat muslim akan rugi jika melewatkannya.

Dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Puasalah tiga hari dari setiap bulan. Sesungguhnya amal kebajikan itu ganjarannya sepuluh kali lipat, seolah ia seperti berpuasa sepanjang masa.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan an Nasai)

Puasa ini juga puasa yang selalu dilakukan (sunah muakkad) oleh teladan terbaik kita Rasulullah Muhammad Saw, dan beliau juga mewasiatkannya kepada para sahabatnya juga umatnya:

Abu Hurairah ra. Berkata, “Teman dekatku (Nabi Muhammad saw.) berpesan tiga hal kepadaku: berpuasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.” (Muttafaq ‘alaih)

Ibnu Abbas ra. berkata, “Rasulullah saw. tidak pernah berbuka (tidak berpuasa) pada Ayyamul-Bidh, baik di rumah maupun sedang bepergian.” (h.r. Nasa’i. Sanad hadits ini hasan)

Luar biasa? pastinya…jadi tunggu apa lagi, pasang reminder di HP dan niatkan untuk melakukan puasa ini setiap bulannya.

Kapan, nih?

Terus gimana kalau terlewat atau lupa, atau hari tersebut jatuh pada hari dimana tidak diperbolehkan puasa misalnya…dan apakah harus di tiga hari tersebut?

Mu’adzah Al-Adawiyyah menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah ra., “Apakah Rasulullah saw. berpuasa tiga hari setiap bulan?” Aisyah menjawab, “Ya.” Saya bertanya, “Dari bagian bulan mana beliau berpuasa?” Aisyah menjawab, “beliau tidak peduli dari bagian mana beliau berpuasa.” (h.r. Muslim)

Imam Nawawi berpendapat bahwa tidak ada pengkhususan di hari berapa puasa sunah 3 hari setiap bulannya. Dan Yusuf Qardhawi dalam fiqh puasa juga berpendapat bahwa perbedaan hadits dalam menetapkan hari- hari puasa menunjukkan adanya toleransi. Setiap muslim boleh saja berpuasa di awal bulan, tengah bulan, atau akhir bulan, sesuai dengan kemudahan dan kesempatan yang ia miliki. Tapi kembali kata imam Nawawi, dalam hadits lain dijelaskan bahwa yang paling utamaadalah di harike -13, 14, dan 15 , seprti  dalam hadist:

Wahai Abu Dzarr, jika engkau ingin berpuasa tiga hari dari salah satu bulan, maka berpuasalah pada hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas.” (HR. At Tirmidzi)

Nah , gak bingung lagi kan? pastinya…jadi tunggu apa lagi, pasang reminder di HP dan niatkan untuk melakukan puasa ini setiap bulannya.

Hikmah

Wah kalau kita berbicara tentang hikmah pasti akan sangat banyak sekali hikmahnya. Apalagi suatu amalan yang memiliki ganjaran dan keistimewaan seperti ini. Gak akan sampai rasanya pikiran kita untuk melihat hikmahnya satu-persatu.

Salah satu hikmahnya adalah datang dari penelitian fenomenal seorang Psikolog dari Amerika Serikat bernama Arnold Lieber pada tahun 70-an. Bahwa perilaku manusia pada saat bulan purnama akan berubah menjadi  lebih buruk daripada biasanya. Terlepas dari segala kontroversi dan benar atau tidaknya penelitian tersebut. (kalau saya tidak salah baca di sini dan di sini sih masih diperdebatkan  kebenaran dan keabsahan penelitian itu).  Ketika ilmu sains modern mengungkapkan adanya kelabilan emosi manusia saat bulan purnama, Islam telah menganjurkan untuk melaksanakan puasa tepat saat munculnya sang bulan purnama. Islam telah memberi jalan pada umatnya agar tidak terkena pengaruh kelabilan emosi yang terjadi pada tanggal tersebut. Rasulullah menganjurkan kita berpuasa, agar hati kita selalu terjaga dari amarah, nafsu, dan segala sifat buruk lain yang cendrung lebih meluap pada saat itu dibanding saat-saat lainnya. Dengan kata lain Puasa yang umat muslim kenal sebagai pengendali hawa nafsu dan syahwat ini, seakan ditempatkan begitu pas pada saat potensi berbuat keburukan sedang dalam potensi tertingginya.Kebetulan? Pastinya enggak dong.

Luar biasa? pastinya…jadi tunggu apa lagi, pasang reminder di HP dan niatkan untuk melakukan puasa ini setiap bulannya. (haha…pasti bosen sama reminder ini, tenang…kesalah bukan pada mata anda.., emang sengaja kok)

Semoga bermanfaat dan bisa menjadi motivasi kita dalam beramal..Amiin.

Wallahu A’lam Bishawab.

.

Sumber:
-Buku Fiqh Puasa-Ust Yusuf Qardhawi
-Syarah Riyadushshalihin – Imam Nawawi
http://www.associatedcontent.com/article/612189/does_a_full_moon_influence_human_behavior.html?cat=58
http://abcnews.go.com/TheLaw/bad-moon-rising-myth-full-moon/story?id=3426758&page=3
http://nandahanyfa.blogspot.com/2010/03/rahasia-ayyamul-bidh.html

Sejauh Mana Kadar Kemuliaan Kita

Kemuliaan dan fitrah manusia

Sudah menjadi fitrah manusia untuk menjadikan dirinya seorang manusia yang mulia. Kata mulia sendiri jika kita lihat dalam KBBI(kamus besar bahasa indonesia-red) berarti tinggi kedudukan, pangkat ,atau  martabatnya, atau bisa juga tertinggi maupun terhormat. Dengan menjadi mulia seorang manusia akan dihargai dan mendapatkan kedudukan yang terhormat. Dalam “Hierarki kebutuhan Maslow” yang cukup terkenal dalam bidang psikologi, juga disebutkan bahwa kebutuhan untuk dihargai atau esteem needs adalah kebutuhan yang dimilki oleh setiap orang.

Jika kita lihat realita yang terjadi sekarang, banyak sekali fenomena yang terjadi di masyarakat dalam hal mencari kemuliaan ini. Khususnya mencari kemuliaan dimata manusia. Banyak cara mereka lakukan untuk mendapat kemuliaan, bahkan hingga menggunakan berbagai macam cara. Mulai dari membeli ijazah agar terlihat sebagai orang pintar, mengeluarkan uang yang tidak sedikit dan menggunakan berbagai cara yang kotor untuk mendapatkan jabatan, melakukan hal yang tidak baik untuk mendapatkan poularitas semata, dan lain-lain.

Lalu , apakah islam melarang kita mencari kemuliaan? Tentu sebagai dien yang mulia dan fitrah (yang sangat sesuai degan fitrah manusia, karena diturunkan langsung oleh Sang Pencipta manusia itu sendiri), islam sangat mengerti betul kebutuhan manusia yang satu ini. Lalu bagai mana islam memandang kemuliaan?

Kemuliaan sejati adalah kemuliaan di mata Allah

Dari Sulaiman bin Yasar, dia berkata: Suatu saat, ketika orang-orang mulai bubar meninggalkan majelis Abu Hurairah –radhiyallahu’anhu-, maka Natil berkata kepadanya, “Wahai Syaikh, tuturkanlah kepada kami suatu hadits yang pernah anda dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Abu Hurairah menjawab, “Baiklah. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah: Seorang lelaki yang telah berjuang demi mencari mati syahid. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya,“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku menemui mati syahid.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu berperang agar disebut-sebut sebagai pemberani, dan sebutan itu telah kamu peroleh di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.

Seorang lelaki yang menimba ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca/menghafal al-Qur’an. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku menimba ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca/menghafal al-Qur’an di jalan-Mu.” Allah menimpali jawabannya,“Kamu dusta. Sebenarnya kamu menimba ilmu agar disebut-sebut sebagai orang alim, dan kamu membaca al-Qur’an agar disebut sebagai qari’. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.

Seorang lelaki yang diberi kelapangan oleh Allah serta mendapatkan karunia berupa segala macam bentuk harta. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Tidak ada satupun kesempatan yang Engkau cintai agar hamba-Mu berinfak padanya melainkan aku telah berinfak padanya untuk mencari ridha-Mu.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sesungguhnya kamu berinfak hanya demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang dermawan. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.”

(HR. Muslim [1903], lihat Syarh Muslim [6/529-530])

Dari hadist yang cukup terkenal tersebut, dapat kita lihat bahwa bagi kita seorang muslim, kemuliaan dan penghargaan di mata manusia dapat saja bernilai kecil bahkan nol di hadapan Allah. Sudah barang tentu kita ingin dan bahkan lebih baik jika kita  menjadi mulia dimanapun kita berada dan dihadapan siapapun. Tetapi jika kita merujuk dari salah satu  hikmah yang bisa diambil dari hadits di atas adalah, kemuliaan kita di hadapan Allah adalah lebih kita prioritaskan dibading kemuliaan dihadapan siapapun.

Dapatkan kemuliaan itu 

Mendapatkan kemuliaan (di hadapan Allah) bukan perkara yang sulit sebenarnya, tetapi juga bukan perkara yang gampang. Karena Allah sudah banyak memberikan kita petunjuk , baik itu dari Al-Qur’an , Hadits, maupun hikmah dari para ulama. Dapat menjadi sulit karena banyak halangan dan kekurangan kita sebagai manusia yang itu dapat menghambatnya, seperti, keodohan, kesombongan, dll. Ada banyak jalan kemuliaan yang Allah tunjukkan kepada kita, salah satunya adalah:

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Yap, kebermanfaatan. Islam memberikan konsep yang sangat berbeda dengan hawa nafsu kita kebanyakan, yang menilai kemuliaan dari harta dan jabatan. Dimana orang yang mulia adalah orang yang mempunyai kebermanfaatan untuk sekitar dimanapun ia berada.

Juga

“Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang menzhalimimu, memberi orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu.” (H.R. Baihaqi).

Tidak jarang orang beranggapan bahwa orang yang minta maaf atau memaafkan itu hina, dan statusnya lebih rendah. Tapi islam berkata lain, dengan meminta maaf dan memaafkan ternyata memang kita menjadi orang yang  jauh lebih mulia. Lalu banyak cara-cara lainnya dalam memperoleh kemuliaan yang akan terlalu banyak jika disebutkan satu-satu.

Mengukur Kadar Kemuliaan kita

Setelah mengetahui apa pentingnya dan hakikat kemuliaan itu sendiri, tentu kita ingin tahu semulia apa kedudukan kita disisi Allah , ternyata dengan sangat indah Allah memberitahu kita melalui baginda Rasulullah saw, tentang hal itu:

Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah hendaklah dia mengamati bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya. Sesungguhnya Allah menempatkan hambaNya dalam kedudukan sebagaimana dia menempatkan kedudukan Allah pada dirinya. (HR. Al Hakim)

Sebagaimana kedudukan Allah didalam diri kita , seperti itu pulalah Allah menempatkan kita di sisi-Nya. Mari kita sama-sama introspeksi diri seperti apa keadaannya sekarang? Apakah panggilan-Nya untuk shalat tepat waktu sering kita abaikan. Apakah Qalam-Nya yang agung yaitu Al-Qur’an sering kita abaikan (tidak dibaca, ditaddaburi , dihafalkan, maupun diamalkan) , juga bila diperdengarkan kepada kita tidak membekas apapun pada diri kita?

Sudah terlalu banyak sepertinya jika kita ingat – ingat hal yang membuktikan bahwa kedudukan Allah dalam diri kita tidak setinggi harapan akan kedudukan kita di sisi-Nya. Jadi tunggu apa lagi, raih kemuliaan dan kita pertanyakan lagi pada diri kita sejauh mana kadar kemuliaan kita di sisi Allah.

Wallahu a’lam.

Isi SKB 3 Menteri, Ahmadiyah, Masalah, dan Solusi.

Seakan kembali mengorek luka lama,dalam beberapa minggu ini kembali mencuat kasus yang jika kita ingat sudah lama sekali terjadi. Bahkan sebelum saya lahir. Yap, kasus Ahmadiyah.

Dengan maraknya pemberitaan dimedia beberapa minggu terakhir, akhirnya kembali rasa penasaran saya tergelitik. Apa sih sebenarnya isi dari SKB tiga menteri yang diterbitkan tiga tahun silam itu. Yang dengannya seakan kasus ini dianggap beres oleh pemerintah dan masyarakat pada umumnya saat itu, yang dulu sebenarnya saya tidak terlalu peduli sehingga baru kali ini saya mencari tahu.

Setelah sedikit searching , akhirnya isi SKB yang disahkan tanggal 9 Juni 2008   yang ditandatangani oleh Jaksa Agung Hendarman Supandji, Mendagri Mardiyanto dan Menteri Agama Maftuh Basyuni. Yang ketiganyapun menghadiri pengumuman SKB tersebut saya dapatkan.  Ternyata SKB tersebut memiliki 6 poin didalamnya, yaitu:

1. Memberi peringatan dan memerintahkan untuk semua warga negara untuk tidak menceritakan, menafsirkan suatu agama di Indonesia yang menyimpang sesuai UU No 1 PNPS 1965 tentang pencegahan penodaan agama.

2. Memberi peringatan dan memerintahkan bagi seluruh penganut, pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) sepanjang menganut agama Islam agar menghentikan semua kegiatan yang tidak sesuai dengan penafsiran Agama Islam pada umumnya. Seperti pengakuaan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW.

3. Memberi peringatan dan memerintahkan kepada anggota atau pengurus JAI yang tidak mengindahkan peringatan tersebut dapat dikenani saksi sesuai peraturan perundangan.

4. Memberi peringatan dan memerintahkan semua warga negara menjaga dan memelihara kehidupan umat beragama dan tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap penganut JAI.

5. Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah dapat dikenakan sanksi sesuai perundangan yang berlaku.

6. Memerintahkan aparat pemerintah dan pemerintah daerah agar melakukan langkah-langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksanaan keputusan bersama ini.

Demikian kurang lebih isi dalam SKB tersebut. Jika kita lihat lebih seksama untuk mensukseskan SKB itu harus didukung dan dilakukan oleh tiga pihak. Pihak pertama adalah Pemerintah , Masyarakat, dan Jamaah Ahmadiyah itu sendiri.  Tapi kembali muncul pertanyaan, apakah SKB ini sudah cukup menjadi solusi atas permasalahan ini?

Oleh karena itu untuk kedepannya, pemerintah diharapkan seperti yang juga diharapkan semua pihak, lebih tegas lagi dalam menegakkan hukum,  Dan bertindak tegas terhadap jemaat Ahmadiyah. Yang jelas – jelas sudah dinyatakan sesat oleh umat islam secara nasional (MUI) bahkan internasional.

Lalu untuk masyarakat, diharapkan untuk selalu menahan diri dan bersikap sesuai dengan proporsinya. Jangan berlebihan. Dan untuk Ahmadiyah, selama mengakui Mirza Gulam A. sebagai nabi, maka tidak ada opsi lain selain mendirikan agama baru seperti yang dikatakan para ulama yang ditulis disini.

Sehingga ahmadiyah dapat melaksanakan ajarannya dengan tenang , dan umat muslim pun tidak merasa dilecehkan dengan ajaran tersebut. Karena sejatinya ajaran islam adalah ajaran yang jauh dari anarkisme, yaitu ajaran yang ditujukan untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin (rahmat semesta alam) , jangankan manusia yang berbeda keyakinan , lah wong bahkan hewan,tumbuhan, lalu alam aja seharusnya gak dizhalimi kok sama orang muslim. Apalagi manusia yang derajatnya lebih tinggi.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS 21:107)

wallahu a’lam.

dari berbagai sumber

Dakwah adalah cinta (Ust Rahmat Abdullah)

Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan
meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu.
Berjalan, duduk, dan tidurmu.

Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang
umat yg kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu.
Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di
tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang
hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang
akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat
yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya
sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi
orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.
Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang
segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah
kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai
jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga
terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa
pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya
diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang
sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang
bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah
bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah
bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama
mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan
segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu
menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana
pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan
rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus
mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk
mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka.
Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda
dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar
wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar.
Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi
kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..

Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya
adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan
pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan
Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya
besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu
mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru
jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah
dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya
dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta…
Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

(alm. Ust Rahmat Abdullah)

Karena Kita Keluarga

Dengarlah wahai keluargaku!

Sesungguhnya Allah swt telah berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 103 yang artinya:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah keadaanmu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.”,

dan pada surat Al-Hujurat ayat 10 yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara.”,

pada surat At-Taubah ayat 71 yang artinya:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain.”

Dan Rasul yang mulia, Muhammad saw. juga pernah bersabda:

“Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.”

Begitulah generasi Islam pertama -semoga keridhaan Allah atas mereka-  dalam memahami makna persaudaraan dan kekeluargaan dalam Islam yang agung ini. Iman dalam dada telah menumbuhkan rasa cinta, kedekatan, dan persaudaraan yang paling luhur dan abadi di antara mereka. Mereka ibarat satu tubuh, satu hati, dan satu tangan. Dan inilah karunia Allah yang selalu diingat-ingatkan kepada mereka oleh-Nya pada surat Al-Anfal ayat 63 yang artinya:

“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.”

Dalam sirah yang nyata, kita dapat ambil hikmah Sang Muhajir yang telah pergi meninggalkan keluarga dan tanah tumpah darahnya (Mekkah) untuk menyelamatkan agamanya, akhirnya mendapati para pemuda Yatsrib menanti kedatangan mereka dengan penuh rindu dan kehangatan cinta. Mereka semua bergembira menyambutnya, walaupun mereka tidak mengenalnya sebelum itu, tak ada hubungan kekeluargaan yang mengikat mereka, dan tak ada ambisi atau kepentingan tertentu yang mereka harapkan.

Tapi begitulah, aqidah Islam membuat mereka (kaum Anshar) merindukan dan menyatu dengan kehidupan kaum Muhajirin. Orang-orang Anshar menganggap kaum Muhajirin sebagai belahan jiwanya yang tak terpisahkan, maka sesaat setelah tiba di masjid, orang-orang Aus dan Khazraj segera menghambur mengelilingi mereka. Masing-masing orang dari mereka mengajak kaum muhajirin untuk tinggal di rumahnya, dan untuk itu mereka bersedia mengorbankan harta, jiwa, serta kepentingan keluarganya, Situasinya semakin mengharukan ketika mereka berkeras dengan permintaan mereka, hingga akhirnya rumah kediaman kaum Muhajirin ditetapkan berdasarkan undian. Imam Bukhari meriwayatkan,

“Tak seorang pun Muhajir yang menetap di rumah seorang Anshar melainkan dengan undian.”

Begitulah, sehingga Allah berkenan mengabadikan keluhuran budi kaum Anshar itu dalam Al-Qur’an agar dikenang oleh manusia sepanjang zaman. Hingga kini keluhuran itu masih tampak bersinar terang di permukaan wajah zaman. Tentang kaum Anshar Allah berfirman,

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan mereka (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)

Begitulah putera-putera Islam selanjutnya menapaki tangga keluhuran khususnya generasi pertama yang jiwa-jiwa mereka dipenuhi oleh rasa persaudaraan imani. Pada mereka tak ada perbedaan antara Muhajir dan Anshar, tak ada jarak antara orang Mekkah dengan orang Yaman. Bahkan dalam salah satu sabdanya, Rasulullah saw. pernah memuji kabilah Asy’ariyah dari Yaman.

“Sebaik-baik kaum adalah kaum Asy’ariyah, bila mereka kesusahan dalam perjalanan atau dalam keadaan menetap, maka mereka mengumpulkan semua yang mereka miliki, lalu mereka simpan di tempat perbekalan mereka, kemudian membaginya secara merata,”

Bila anda membaca Al-Qur’an, Sunah Rasul yang agung, dan sejarah para leluhur dari putera-putera terbaik agama ini, niscaya akan kita temukan semua yang dapat menyejukkan mata dan menenteramkan telinga dan hati kita. Dan itulah arti keluarga bagi kita, keluarga yang bersatu atas dasar kekuatan aqidah dan kekuatan iman. Karena itulah saudaraku, mengapa kita bersatu dan bergerak bersama dalam langkah gerak meraih keridhoanNya. Karena kita keluarga…

(sumber: Bluprint GAMAIS ITB 2008-2013)