Perjalanan seorang sahabat dalam mencari kebenaran.Part 2: “Aku seorang muslim merdeka”

.

Sambungan dari postingan sebelumnya:  Perjalanan seorang sahabat dalam mencari kebenaran. Part:1 (dari seorang mulia hingga budak).

.

…Mulai saat itu aku tinggal bersama orang yang membeliku, hingga pada suatu hari datang seorang Yahudi Bani Quraidhah yang membeliku dari majikanku saat ini. Lalu aku dibawa ke Madinah. Demi Allah, sejak pertama melihat negeri ini, aku yakin negeri inilah yang dimaksud.

Aku tinggal bersama Yahudi itu dan bekerja di kebun kurma miliknya. Hingga Allah mengutus Rasul-Nya. Hingga dia datang ke Madinah, dan singgah di Quba, di bani Amru bin Auf.

Suatu hari aku berada di atas pohon kurma dan majikanku berada di bawah , sepupu majikanku datang dengan kabar , “Celakalah bani Qailah. Mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di Quba. Dia datang dari Mekah dan mengaku sebagai Nabi.”

Demi Allah, ketika mendengar berita itu , tubuhku gemetar keras hingga pohon kurma itu seakan berguncang dan hampir saja tubuhku jatuh menimpa majikanku. Aku segera turun dan berkata kepada orang tadi , “Apa yang tuan katakan ? Ada berita apa?”

Majikanku mengangkat tangannya dan memukulku dengan keras. Ia membentak, “Apa urusanmu dengan masalah ini. Sana, kembali bekerja. “Maka aku pun kembali bekerja.”

Setelah mulai petang, aku berangkat ke Quba dengan membawa sedikit makanan. Aku menemui Rasulullah yang saat itu bersama beberapa sahabatnya. Aku berkata, “Tuan-tuan adalah perantau yang membutuhkan bantua. Saya punya makanan yang saya siapkan untuk sedekah. Setelah mendengar keadaan tuan-tuan,  saya pikir tuan-tuan lebih berhak menerimanya.” Lalu makanan itu kutaruh di dekat mereka.

Rasulullah berkata kepada para sahabatnya, “Makanlah dengan menyebut nama Allah.” Sedangkan beliau sendiri tidak ikut makan.

Aku berkata dalam hati. “Demi Allah, ini suatu tanda yang disebutkan.Dia tidak memakan sedekah.” Lalu aku pulang.

Keesokan harinya aku kembali menemui Rasulullah dengan membawa makanan. Aku berkata kepadanya, “Aku melihat tuan tidak makan sedekah. Aku mempunyai makanan yang kuberikan sebagai hadiah untuk tuan.” Dan, Makanan itu kutaruh di dekatnya.

Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya, “Makanlahdengan menyebut nama Allah.” Beliaupun makan bersama mereka.

Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, ini tanda kedua. Dia mau memakan hadiah.” Lalu aku pulang.

Beberapa hari kemudian, aku kembali menemui rasulullah yang saat itu berada di pemakaman Baqi’ , sedang mengiringkan jenazah. Beliau bersama para sahabatnya. Beliau mengenakan dua lembar kain lebar. Satu dipakainya untuk sarung dan satu lagi sebagai baju.

Aku mengucapkan sala kepadanya, lalu aku menoleh ke arah punggung atasnya. Rupanya beliau mengerti maksudku. Maka beliau menyingkapkan kain burdah dari pundaknya, hingga tanda yang kucari terlihat di antara dua pundaknya. Tanda kenabian seperti yang disebutkan oleh si pendeta.

Melihat itu, aku merangkul dan menciumnya sambil menangis.

Lalu aku dipanggil menghadap Rasulullah. Aku duduk di hadapannya. Kuceritakan kisahku kepadanya seperti yang kuceritakan kepada kalian saat ini.

Lalu aku masuk islam. Saat terjadi perang Badar dan Uhud, aku tidak bisaikut karena statusku masih menjadi budak belian.

Suatu hari , Rasulullah memerintahkan kepadaku, “Mintalah kepada tuanmu agar ia bersedia membebaskanmu dengan uang tebusan.” Maka aku meminta kepada majikanku sbagaimana diperintahkan Rasulullah. Rasulullah juga menyuruh para sahabat untuk membantuku soal keuangan. Akhirnya aku terbebas dari perbudakan. Aku seorang muslim merdeka. Setelah itu aku ikut dalam perang Khandaq dan peristiwa – peristiwa penting lainnya.

.

Alhamdulillah…

Dengan perjuangan yang seperti itu , tidak heran sahabat tersebut menjadi salah seorang sahabat yang memiliki kontribusi yang tidak sedikit dalam perkembangan dakwah islam. Bahkan dalam perang pertamanya beliaulah salah satu orang yang sangat berjasa memberikan masukan strategi, yang belum pernah dikenal di Arab pada saat itu. Yaitu dengan membuat parit di sekeliling kota, sehingga perang tersebut diabadikan namanya menjadi perang Khandaq (parit). Siapakah beliau…dialah Salman Al-Farisi.

.

Sumber:  dimodifikasi dari “60 sirah sahabat Rasulullah saw”-khalid muhammad khalid

Sejauh Mana Kadar Kemuliaan Kita

Kemuliaan dan fitrah manusia

Sudah menjadi fitrah manusia untuk menjadikan dirinya seorang manusia yang mulia. Kata mulia sendiri jika kita lihat dalam KBBI(kamus besar bahasa indonesia-red) berarti tinggi kedudukan, pangkat ,atau  martabatnya, atau bisa juga tertinggi maupun terhormat. Dengan menjadi mulia seorang manusia akan dihargai dan mendapatkan kedudukan yang terhormat. Dalam “Hierarki kebutuhan Maslow” yang cukup terkenal dalam bidang psikologi, juga disebutkan bahwa kebutuhan untuk dihargai atau esteem needs adalah kebutuhan yang dimilki oleh setiap orang.

Jika kita lihat realita yang terjadi sekarang, banyak sekali fenomena yang terjadi di masyarakat dalam hal mencari kemuliaan ini. Khususnya mencari kemuliaan dimata manusia. Banyak cara mereka lakukan untuk mendapat kemuliaan, bahkan hingga menggunakan berbagai macam cara. Mulai dari membeli ijazah agar terlihat sebagai orang pintar, mengeluarkan uang yang tidak sedikit dan menggunakan berbagai cara yang kotor untuk mendapatkan jabatan, melakukan hal yang tidak baik untuk mendapatkan poularitas semata, dan lain-lain.

Lalu , apakah islam melarang kita mencari kemuliaan? Tentu sebagai dien yang mulia dan fitrah (yang sangat sesuai degan fitrah manusia, karena diturunkan langsung oleh Sang Pencipta manusia itu sendiri), islam sangat mengerti betul kebutuhan manusia yang satu ini. Lalu bagai mana islam memandang kemuliaan?

Kemuliaan sejati adalah kemuliaan di mata Allah

Dari Sulaiman bin Yasar, dia berkata: Suatu saat, ketika orang-orang mulai bubar meninggalkan majelis Abu Hurairah –radhiyallahu’anhu-, maka Natil berkata kepadanya, “Wahai Syaikh, tuturkanlah kepada kami suatu hadits yang pernah anda dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Abu Hurairah menjawab, “Baiklah. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah: Seorang lelaki yang telah berjuang demi mencari mati syahid. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya,“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku menemui mati syahid.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu berperang agar disebut-sebut sebagai pemberani, dan sebutan itu telah kamu peroleh di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.

Seorang lelaki yang menimba ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca/menghafal al-Qur’an. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku menimba ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca/menghafal al-Qur’an di jalan-Mu.” Allah menimpali jawabannya,“Kamu dusta. Sebenarnya kamu menimba ilmu agar disebut-sebut sebagai orang alim, dan kamu membaca al-Qur’an agar disebut sebagai qari’. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.

Seorang lelaki yang diberi kelapangan oleh Allah serta mendapatkan karunia berupa segala macam bentuk harta. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Tidak ada satupun kesempatan yang Engkau cintai agar hamba-Mu berinfak padanya melainkan aku telah berinfak padanya untuk mencari ridha-Mu.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sesungguhnya kamu berinfak hanya demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang dermawan. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.”

(HR. Muslim [1903], lihat Syarh Muslim [6/529-530])

Dari hadist yang cukup terkenal tersebut, dapat kita lihat bahwa bagi kita seorang muslim, kemuliaan dan penghargaan di mata manusia dapat saja bernilai kecil bahkan nol di hadapan Allah. Sudah barang tentu kita ingin dan bahkan lebih baik jika kita  menjadi mulia dimanapun kita berada dan dihadapan siapapun. Tetapi jika kita merujuk dari salah satu  hikmah yang bisa diambil dari hadits di atas adalah, kemuliaan kita di hadapan Allah adalah lebih kita prioritaskan dibading kemuliaan dihadapan siapapun.

Dapatkan kemuliaan itu 

Mendapatkan kemuliaan (di hadapan Allah) bukan perkara yang sulit sebenarnya, tetapi juga bukan perkara yang gampang. Karena Allah sudah banyak memberikan kita petunjuk , baik itu dari Al-Qur’an , Hadits, maupun hikmah dari para ulama. Dapat menjadi sulit karena banyak halangan dan kekurangan kita sebagai manusia yang itu dapat menghambatnya, seperti, keodohan, kesombongan, dll. Ada banyak jalan kemuliaan yang Allah tunjukkan kepada kita, salah satunya adalah:

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Yap, kebermanfaatan. Islam memberikan konsep yang sangat berbeda dengan hawa nafsu kita kebanyakan, yang menilai kemuliaan dari harta dan jabatan. Dimana orang yang mulia adalah orang yang mempunyai kebermanfaatan untuk sekitar dimanapun ia berada.

Juga

“Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang menzhalimimu, memberi orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu.” (H.R. Baihaqi).

Tidak jarang orang beranggapan bahwa orang yang minta maaf atau memaafkan itu hina, dan statusnya lebih rendah. Tapi islam berkata lain, dengan meminta maaf dan memaafkan ternyata memang kita menjadi orang yang  jauh lebih mulia. Lalu banyak cara-cara lainnya dalam memperoleh kemuliaan yang akan terlalu banyak jika disebutkan satu-satu.

Mengukur Kadar Kemuliaan kita

Setelah mengetahui apa pentingnya dan hakikat kemuliaan itu sendiri, tentu kita ingin tahu semulia apa kedudukan kita disisi Allah , ternyata dengan sangat indah Allah memberitahu kita melalui baginda Rasulullah saw, tentang hal itu:

Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah hendaklah dia mengamati bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya. Sesungguhnya Allah menempatkan hambaNya dalam kedudukan sebagaimana dia menempatkan kedudukan Allah pada dirinya. (HR. Al Hakim)

Sebagaimana kedudukan Allah didalam diri kita , seperti itu pulalah Allah menempatkan kita di sisi-Nya. Mari kita sama-sama introspeksi diri seperti apa keadaannya sekarang? Apakah panggilan-Nya untuk shalat tepat waktu sering kita abaikan. Apakah Qalam-Nya yang agung yaitu Al-Qur’an sering kita abaikan (tidak dibaca, ditaddaburi , dihafalkan, maupun diamalkan) , juga bila diperdengarkan kepada kita tidak membekas apapun pada diri kita?

Sudah terlalu banyak sepertinya jika kita ingat – ingat hal yang membuktikan bahwa kedudukan Allah dalam diri kita tidak setinggi harapan akan kedudukan kita di sisi-Nya. Jadi tunggu apa lagi, raih kemuliaan dan kita pertanyakan lagi pada diri kita sejauh mana kadar kemuliaan kita di sisi Allah.

Wallahu a’lam.

80 Persen Wartawan Indonesia Belum Profesional?

aksi keprihatinan wartawan (hileud.com)

Judul diatas diambil dari artikel dalam republika online yang saya baca beberapa hari yang lalu. Miris memang  jika melihat judul diatas, tak ayal banyak berita dan informasi yang beredar terkadang bukannya mencerdaskan masyarakat tapi malah membuat kekhawatiran berlebih atau membodohi masyarakat. Saya memang bukan seorang jurnalis maupun pakar dalam jurnalisme, juga tidak punya dendam pribadi terhadap wartawan. Tapi seperti yang kita tahu bagaimana besarnya peran wartawan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Membuat saya mengangkat tema ini dan selalu menjadi berfikir berkali-kali lalu berhati – hati dalam mengambil informasi dari media massa. Yah semoga para jurnalis juga sering-sering introspeksi diri jangan selalu menuntut “kebebasan pers” tapi  laksanakan juga “kewajiban pers” dengan sebaik-baiknya.  Sehingga bisa bergerak bersama rakyat untuk mencerdaskan dan memajukan bangsa. Berikut artikelnya yang dimuat republika online 25 april 2011:

REPUBLIKA.CO.ID, KALIANDA, LAMPUNG SELATAN – Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Margiono menyebutkan sekitar 80 persen wartawan atau pekerja media di Indonesia masih belum profesional dalam menjalankan tugas kewartawanan. “Masih ada wartawan yang tidak memahami kode etik jurnalistik sebagai salah satu pegangan atau tuntunan wartawan dalam menjalankan tugas peliputannya,” katanya saat peringatan Hari Pers Nasional 2011 dan HUT ke-65 PWI, di Kalianda Kabupaten Lampung Selatan, Senin (25/4).

Menurut dia, sebagai wartawan harus profesional dalam setiap melaksanakan peliputan sehingga tidak terjadi permasalahan dengan hukum. “Kalau wartawan suka dan gemar membaca buku, khususnya buku kode etik jurnalistik (KEJ), maka tidak ada lagi wartawan yang tersangkut permasalahan hukum, karena sudah memahami KEJ tersebut,” kata dia.

Ia juga menegaskan, tidak ada wartawan yang kebal hukum sehingga siapapun wartawan yang berani melanggar hukum maka dapat dipidanakan. “Pejabat pemerintah atau apapun apabila ada wartawan yang tidak mematuhi kode etik maka jangan segan-segan untuk melaporkannya kepada pihak yang berwajib,” katanya.

Untuk itulah, ia menambahkan, perlu adanya pemahaman yang matang tentang kode etik jurnalistik sehingga wartawan dapat bertindak profesional dalam menjalankan tugasnya. “Semakin banyaknya wartawan yang memahami kode etik maka akan menciptakan pekerja pers yang profesional,” ujarnya.

Wartawan, sambung Ketua Umum PWI Pusat itu, jangan hanya bisa mengeritik dan mengoreksi kesalahan saja, namun harus dapat melihat serta mengakui keunggulan orang lain sehingga dapat bersinergi dalam menjalankan tugasnya. Untuk itu, ia mengharapkan seluruh ketua-ketua cabang PWI dapat selalu memberikan pemahanan kode etik jurnalistik bagi anggotanya sehingga dapat menciptakan wartawan yang profesional.

Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara

Bakosurtanal Akan Berubah Jadi Badan Informasi Geospasial

Jakarta (ANTARA News) – Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) akan mengubah nama menjadi Badan Informasi Geospasial (BIG) sesuai Undang-undang tentang Informasi Geospasial yang baru saja disahkan oleh DPR pada 5 April 2011.

“Sekarang kami memang bersiap ke arah sana. Harus segera dalam waktu dua tahun menjadi BIG. Saat ini kami sedang menunggu peraturan-peraturan lain yang menjabarkan UU tersebut seperti PP dan Perpres-nya,” kata Kepala Bakosurtanal Asep Karsidi usai ramah tamah antara Bakosurtanal dan para pemangku kepentingan di bidang Geospasial di Sentul, Bogor, Jumat.

Menurut dia, perubahan nama tersebut untuk mengantisipasi perubahan zaman di mana Survei dan Pemetaan hanya kegiatan yang merupakan bagian dari pengembangan informasi geospasial.

Dalam UU yang akan segera ditandatangani Presiden itu, disampaikan bahwa geospasial atau ruang kebumian adalah aspek keruangan yang menunjukkan lokasi, letak, dan posisi suatu objek atau kejadian yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi yang dinyatakan dalam sistem koordinat tertentu.

Sebagai negara kepulauan yang terluas di dunia dan memiliki potensi sumber daya alam yang berlimpah, Indonesia membutuhkan peta dan informasi geospasial yang akurat, kredibel serta dapat dipertanggungjawabkan.

Menurut UU itu BIG adalah badan yang berwenang dalam pembuatan Informasi Geospasial, khususnya untuk Informasi Geospasial Dasar.

Pengaturan informasi geospasial juga dibutuhkan Indonesia sebagai sistem pendukung pengambilan kebijakan dalam rangka mengoptimalkan pembangunan di bidang ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan nasional.

Khususnya pengelolaan sumber daya alam, penyusunan rencana tata ruang, perencanaan lokasi investasi, penentuan batas wilayah, pertanahan dan kepariwisataan juga penanggulangan bencana, hingga pelestarian lingkungan.

Ia mengatakan, arti penting UU tersebut adalah untuk mewujudkan sebuah referensi tunggal (single reference) di dalam industri informasi geospasial atau survei pemetaan yang mencakup seluruh wilayah Indonesia dan wilayah yurisdiksinya.

UU ini juga menegaskan bahwa informasi geospasial dasar hanya diselenggarakan oleh Pemerintah c.q. BIG, sedangkan informasi geospasial tematik yang memuat tema tertentu dapat diselenggarakan oleh Instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah, badan usaha, kelompok atau perseorangan.

Informasi geospasial tematik misalnya peta pertanahan, kehutanan, pertanian, perkebunan, kelautan, pertambangan, lingkungan, penataan ruang, pariwisata, hingga penanggulangan bencana harus mengacu pada informasi geospasial dasar.

Dalam kesempatan itu, Asep juga mengatakan, sumber informasi geospasial yang sering diambil masyarakat seperti “googlemap”, “wikimapia” dan sejenisnya, tidak bisa menjadi sumber acuan suatu peta dan hanya sekedar “overview” yang berasal dari citra satelit.

“Googlemap dan semacamnya hanya merupakan `image` dari citra satelit, belum mengikuti kaidah `mapping` dan tak ada informasi geomatriknya. Masih memerlukan `geo correction` berupa pengecekan di lapangan ke sistem jaringan kontrol geodesi,” katanya.
(D009/Z003)

sumber: www.antaranews.com

(AKHIRNYA) UU INFORMASI GEOSPASIAL DISETUJUI DPR

Rapat Paripurna DPR-RI tentang RUU-IG (bakosurtanal.go.id)

Alhamdulillah,akhirnya disetujui juga RUU-IG ini, berita ini tentu menjadi kabar baik bagi praktisi atau orang – orang yang bergelut di bidang informasi geospasial khususnya dan masyarakat pada umumnya. Sudah kenyang sepertinya saya pribadi sebagai orang geodesi, salah satu bidang yang cukup mendalami bidang geospasial dengan permasalahan – permasalahan yang ada saat ini.Dan besar harapannya UU ini dapat menjadi salah satu jalan untuk  menyelesaikan berbagai permasalahan yang kerap terjadi. OK, rencana sudah ada dan bagus, tinggal realisasinya nih. Semangat buat bapak-bapak yang berwenang, soalnya saya belum ada kemampuan buat bantu banyak nih ^_^ . Mau tahu gambaran umum dari UU yang sudah diajukan pemerintah kepada DPR-RI sejak tanggal 16 Februari 2010 ini dan urgensinya?

Bakosurtanal — Rancangan Undang-Undang tentang Informasi Geospasial (RUU-IG) disetujui Dewan Perwakilan Rakyat untuk segera diundangkan. Demikian hasil Sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat, Selasa, 5 April 2011 di Gedung DPR RI Senayan Jakarta. Sidang paripurna  dibuka oleh Wakil Ketua DPR-RI, Pramono Anung dan dilanjutkan oleh Paparan dari Pemerintah  yang diwakili oleh Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata. Hadir dalam Sidang tersebut, Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, Asep Karsidi dan segenap pejabat terkait.

Lahirnya UU Informasi Geospasial didedikasikan untuk mendukung pengelolaan sumberdaya alam dan sumberdaya lainnya di negeri ini bagi kemakmuran seluruh rakyat Indonesia, dimasa kini dan masa yang akan datang, sebagaimana diamanatkan pasal 33 ayat (3) UUD 1945.

Bagi segenap Warga Negara Indonesia (WNI), hadirnya UU-IG merupakan satu jaminan yang melengkapi hak dalam memperoleh informasi untuk meningkatkan kualitas pribadi dan kualitas lingkungan sosial sebagaimana dituangkan pada Pasal 28F, UUD 1945. Lahirnya UU-IG juga didedikasikan untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya di negeri ini bagi kemakmuran seluruh rakyat Indonesia, di masa kini dan masa yang akan datang, sebagaimana diamanatkan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.
UU-IG memuat prinsip penting, bahwa informasi geospasial dasar (IGD) dan secara umum informasi geospasial tematik (IGT) yang diselenggarakan instansi pemerintah dan pemerintah daerah bersifat terbuka. Semangat UU ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Artinya segenap WNI dapat mengakses dan memperoleh IGD dan sebagian besar IGT untuk dipergunakan dan dimanfaatkan dalam berbagai aspek kehidupan. Masyarakat pun dapat berkontribusi aktif dalam pelaksanaan penyelenggaraan IG, sehingga diharapkan industri IG dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Sementara itu segenap penyelenggaraan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah yang terkait dengan geospasial (ruang-kebumian) wajib menggunakan IG yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Perlu pula disampaikan prinsip lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu bahwa IGT wajib mengacu kepada IGD. Prinsip atau aturan ini diberlakukan untuk menjamin adanya kesatupaduan (single referency) seluruh IG yang ada. Sehingga tidak ada lagi kejadian tumpang tindih IG dan perbedaan referensi geometri pada IG. Sebagaimana dimaklumi, tumpang tindihnya pembuatan berbagai IG, atau lebih dikenal secara umum dengan kata “peta”, saat ini masih sering terjadi, hal ini mengakibatkan borosnya anggaran pembangunan. Sementara itu perbedaan referensi geometris sering berakibat pada ketidakpastian hukum. Ketika dua atau lebih kawasan digambarkan secara tidak akurat di lapangan, misalnya terjadi pada ketidaksepahaman masalah batas wilayah administratif hingga masalah batas wilayah negara, atau antara kawasan tertentu kehutanan dengan kawasan pengelolaan pertambangan.

IGD secara definisi di dalam UU-IG terdiri atas jaring kontrol geodesi dan peta dasar. Jaring kontrol geodesi menjadi acuan referensi posisi horizontal dan vertikal serta acuan gayaberat. Peta dasar merepresentasikan berbagai unsur penting di muka bumi yang dapat menjadi acuan geometris (titik, garis dan poligon atau luasan) di darat, pesisir dan laut, seperti garis pantai, hipsografi (garis kontur dan/atau garis batimetri), jaringan transportasi dan utilitas, hidrologi (perairan), batas wilayah, nama geografis (atau nama rupabumi), bangunan dan fasilitas umum, dan penutup lahan.

IGT adalah informasi geospasial yang memuat satu atau lebih tema tertentu. IGT sangat beragam, baik pada pemerintahan ataupun pada masyarakat. Instansi pemerintah bertanggung jawab menyelenggarakan IG terkait dengan tugas, fungsi dan kewenangan masing-masing. Contoh IGT yang diselenggarakan dalam rangka pemerintahan antara lain IG: pertanahan, kehutanan, pertanian, perkebunan, kelautan, pertambangan, perhubungan, komunikasi dan informasi, lingkungan hidup, penataan ruang, pariwisata, cagar alam, dan penanggulangan bencana. Sementara masyarakat dan badan usaha dapat menyelenggarakan IGT, seperti informasi perkotaan, perhotelan, restoran, panduan navigasi elektronik, perumahan/real estate, dan lain-lain. Mereka dapat membuat IG untuk kepentingan sendiri atau sebagai komoditas komersial dalam jasa IG.

Kami berharap dengan lahirnya UU-IG ini dapat menjamin kemudahan akses untuk memperoleh IG yang sistematis, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga kebijakan dan pelayanan publik, khususnya yang terkait dengan kebijakan ruang-kebumian, akan lebih akurat dan terpercaya. Selain itu industri IG dapat tumbuh, hingga pemanfaatan IG dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat di tanah air.

sumber : bakosurtanal.go.id

.

Naskah RUU dan naskah akademiknya (tipe yang lebih enak dibaca) bisa di DL di:

RUU

Naskah Akademik

Perjalanan seorang sahabat dalam mencari kebenaran. Part:1 (dari seorang mulia hingga budak)

deset dunes (beijinghikers.com)

Disuatu hari, dibawah pohon rindang di kota Madinah. Terdapat seorang sahabat Rasulullah yang mulia. Tampak terlihat ia sedang berada di dalam suatu majelis bersama rekan – rekannya. Di sana ia menceritakan kepada rekan – rekannya, perjuangan berat yang ia alami demi mencari kebenaran.

Mari sejenak kita mendekat ke dalam majelis ilmu dan hikmah tersebut untuk mendengarkan lalu menyimak dengan seksama penuturan beliau.

“Aku berasal dari wilayah Ishafan , dari desa Ji, ayahku seorang kepala wilayah. Aku adalah orang yang paling disayanginya. Aku membaktikan diri dalam agama Majusi. Aku bertugas sebagai penjaga api peribadatan agar tetap menyala.

Ayahku memiliki sebidang tanah. Suatu hari aku disuruhnya kesana. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, aku melewati sebuah gereja. Kudengar mereka sedang sembahyang, maka aku masuk untuk melihat apa yang mereka lakukan. Aku kagum melihat cara mereka sembahyang. Aku berkata dalam hati , “ini lebih baik dari agama Majusi yang kuanut selama ini.”

Aku berada di gereja itu sampai matahari terbenam. Aku tidak ke ladang ayahku dan juga tidak pulang, hingga ayah mengirim oarng untuk menyusulku.

Karena agama mereka menarik perhatianku, kutanya kepada orang-orang Kristen itu, dari mana asal-usul agama mereka. Mereka menjawab, “Dari negeri Syam.”

Ketika pulang kuceritakan pada ayah, “Aku melewati suatu kaum yang sedang sembahyang di gereja. Aku tertarik dengan cara sembahyang mereka. Menurutku , agama mereka lebih baik dari agama kita.”

Terjadi dialog antara kami. Ayah marah. Aku dirantai dan dikurung.

Aku kirim kabar kepada orang – orang kristen bahwa aku telah menganut agama mereka. Aku meminta kepada mereka untuk mengabariku jika ada rombongan dari Syam yang datang. Aku akan ikut mereka saat pulang ke Syam. Permintaanku itu mereka kabulkan. Aku putuskan ikatanku lalu keluar dari kurungan dan bergabung dengan rombongan itu menuju Syam.

Sesampainya disana , aku bertanya tentang ahli agama mereka. Mereka menjawab, “Uskup pemilik gereja.” Maka aku menemuinya, meneritakan keadaanku. Aku tinggal bersamanya, menjadi pelayan gereja, sembahyang dan belajar. Sayang , uskup ini orangyang tidak baik. Ia mengumpulkan sedekah dari warga yang semstinya dibagikan, namu ia simpan untuk kepentingan pribadinya.

Kemudian, uskup itu meninggal dunia. Mereka mengangkat orang lain sebagai penggantinya. Uskup baru ini saat taat beragama . Aku belum menjumpai orang lain yang  lebih zuhud dan lebih rajin beribadah darinya.

Aku sangat menghormatinya, melebihi yang lain. Saat ia akan meninggal dunia, aku bertanya kepadanya, “Anda tahu bahwa kematian akan menjemput anda. Apa yang harus kuperbuat? Kepada siapa aku harus berguru?”

“Anakku, hanya ada satu orang yang sepertiku. Dia tinggal di Mosul.”

Setelah ia wafat, aku berangkat ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkannya. Kuceritakan apa yang terjadi. Aku tinggal bersamanya cukup lama, hingga ia meninggal dunia. Sebelum ia meninggal , aku bertanya kepadanya. Dia menunjukkanku kepada seorang ahli ibadah di Nasibin. Aku datang kepadanya dan kuceritakan keadaanku. Aku tinggal bersamanya cukup lama , hingga ia meninggal dunia. Sebelum ia meninggal dunia , aku bertanya kepadanya. Aku disuruh berguru kepada sesorang lelaki di Amuria, Romawi. Aku berangkat ke sana dan tinggal bersamanya. Untuk memenuhi kebutuhanku , aku berternak sapi dan kambing.

Ketika dia akan meninggal dunia, aku memintannya menunjukkanku orangyang harus kuikuti. Dia berkata, “Anakku, aku tidak menyuruhmu datang ke siapa pun. Saat ini sudah diutus seorang Nabi yang membawa risalah Nabi Ibrahim. Dia akan hijrah ke satu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak diantara dua bebatuan hitam. Jika kau bisa pergi ke sana, lakukanlah. Dia mempunyai tanda-tanda yang jelas. Dia tidak menerima sedekah, tapi menerima hadiah. Dipundaknya ada tanda kenabian. Jika kamu melihatnya, kamu pasti mengenalnya.”

Suatu hari, ada rombongn lewat. Kutanyakan asal – usul mereka. Merka dari jazirah Arab. Maka aku berkata kepada mereka, “Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, dan sebagai imbalannya kuberikan kepada kaliansapi-sapi dan kambing-kambingku ini?”

“Baiklah,” kata mereka.

Aku ikut bersama rombongan itu. Ketika Sampai di daerah Wadil Qura, mereka berkhianat. Aku dijual ke seorang Yahudi. Aku melewati daerah yang penuh dengan pohon kurma. Aku mengira tempat itulah yang dimaksud oleh pendeta. Tempat yangakan dijadikan tujuan hijrah Nabi. Tapi ternyata bukan… (Bersambung ke Part 2: Aku seorang muslim merdeka)

.

Siapakah beliau? karena ceritanya cukup terkanal, sepertinya banyak sahabat yang bisa menebak. Yang belum..tunggu part selanjutnya dari kisah sarat hikmah ini.

.

Sumber:  dimodifikasi dari “60 sirah sahabat Rasulullah saw”-khalid muhammad khalid

Syair: Sang Pencari Cahaya

Sang Pencari Cahaya

by: APandiN

.

Digulitanya gelap

Seorang diri, tanpa daya kucari cahaya

Dibenderangya terang

Seorang diri, tanpa sadar kucari cahaya

.

Tiap kita butuh hangatnya cahaya

Tiap kita butuh semangatnya cahaya

Tiap kita butuh tampaknya cahaya

.

Cahaya…

adalah kehidupan

adalah kebaikan

adalah petunjuk

.

Cahaya…

adalah kebenaran

adalah keadilan

adalah penjaga

.

Cahaya…

adalah kekuatan

adalah kesejahteraan

adalah pemberi harapan

.

Walau ia ada

Walau ia selalu disisi

Walau ia sejatinya tak pernah berhenti bersinar

Entah kenapa selalu kucari

.

Apakah mataku buta?

Ataukah hatiku yang buta?

.

Buta karena lumuran dosa yang tak bertepi?

Buta karena sang pemilik cahaya tak kunjung di hati?

Buta karena sombong dan bodoh diri?

.

Entahlah…

Hanya Dia dan mungkin aku yang tau

.

Wahai Sang Pemilik cahaya

Bimbinglah diri ini

Izinkanlah diri ini

Untuk melihat cahaya

.

Selamanya…

Isi SKB 3 Menteri, Ahmadiyah, Masalah, dan Solusi.

Seakan kembali mengorek luka lama,dalam beberapa minggu ini kembali mencuat kasus yang jika kita ingat sudah lama sekali terjadi. Bahkan sebelum saya lahir. Yap, kasus Ahmadiyah.

Dengan maraknya pemberitaan dimedia beberapa minggu terakhir, akhirnya kembali rasa penasaran saya tergelitik. Apa sih sebenarnya isi dari SKB tiga menteri yang diterbitkan tiga tahun silam itu. Yang dengannya seakan kasus ini dianggap beres oleh pemerintah dan masyarakat pada umumnya saat itu, yang dulu sebenarnya saya tidak terlalu peduli sehingga baru kali ini saya mencari tahu.

Setelah sedikit searching , akhirnya isi SKB yang disahkan tanggal 9 Juni 2008   yang ditandatangani oleh Jaksa Agung Hendarman Supandji, Mendagri Mardiyanto dan Menteri Agama Maftuh Basyuni. Yang ketiganyapun menghadiri pengumuman SKB tersebut saya dapatkan.  Ternyata SKB tersebut memiliki 6 poin didalamnya, yaitu:

1. Memberi peringatan dan memerintahkan untuk semua warga negara untuk tidak menceritakan, menafsirkan suatu agama di Indonesia yang menyimpang sesuai UU No 1 PNPS 1965 tentang pencegahan penodaan agama.

2. Memberi peringatan dan memerintahkan bagi seluruh penganut, pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) sepanjang menganut agama Islam agar menghentikan semua kegiatan yang tidak sesuai dengan penafsiran Agama Islam pada umumnya. Seperti pengakuaan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW.

3. Memberi peringatan dan memerintahkan kepada anggota atau pengurus JAI yang tidak mengindahkan peringatan tersebut dapat dikenani saksi sesuai peraturan perundangan.

4. Memberi peringatan dan memerintahkan semua warga negara menjaga dan memelihara kehidupan umat beragama dan tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap penganut JAI.

5. Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah dapat dikenakan sanksi sesuai perundangan yang berlaku.

6. Memerintahkan aparat pemerintah dan pemerintah daerah agar melakukan langkah-langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksanaan keputusan bersama ini.

Demikian kurang lebih isi dalam SKB tersebut. Jika kita lihat lebih seksama untuk mensukseskan SKB itu harus didukung dan dilakukan oleh tiga pihak. Pihak pertama adalah Pemerintah , Masyarakat, dan Jamaah Ahmadiyah itu sendiri.  Tapi kembali muncul pertanyaan, apakah SKB ini sudah cukup menjadi solusi atas permasalahan ini?

Oleh karena itu untuk kedepannya, pemerintah diharapkan seperti yang juga diharapkan semua pihak, lebih tegas lagi dalam menegakkan hukum,  Dan bertindak tegas terhadap jemaat Ahmadiyah. Yang jelas – jelas sudah dinyatakan sesat oleh umat islam secara nasional (MUI) bahkan internasional.

Lalu untuk masyarakat, diharapkan untuk selalu menahan diri dan bersikap sesuai dengan proporsinya. Jangan berlebihan. Dan untuk Ahmadiyah, selama mengakui Mirza Gulam A. sebagai nabi, maka tidak ada opsi lain selain mendirikan agama baru seperti yang dikatakan para ulama yang ditulis disini.

Sehingga ahmadiyah dapat melaksanakan ajarannya dengan tenang , dan umat muslim pun tidak merasa dilecehkan dengan ajaran tersebut. Karena sejatinya ajaran islam adalah ajaran yang jauh dari anarkisme, yaitu ajaran yang ditujukan untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin (rahmat semesta alam) , jangankan manusia yang berbeda keyakinan , lah wong bahkan hewan,tumbuhan, lalu alam aja seharusnya gak dizhalimi kok sama orang muslim. Apalagi manusia yang derajatnya lebih tinggi.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS 21:107)

wallahu a’lam.

dari berbagai sumber

Sadari dan bersiaplah, karena setiap hal ada konsekuensinya.

Bismillahirrahmannirrahim.

Hidup adalah pilihan dan setiap pilihan mempunyai konsekuensinya masing –  masing. Entah dari mana kata – kata itu aslinya berasal tapi jika kita lihat lagi dalam konteks kehidupan nyata mungkin kata – kata ini ada benarnya juga.

Diawali dari tadabbur salah satu firman Allah :

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS 29:2-3)

Ayat tersebut mengatakan kepada kita bahwa menjadi seorang yang mendeklarasikan diri sebagai orang beriman beriman (mukmin) mempunyai konsekuensinya sendiri, yaitu berupa ujian dari Allah SWT yang akan memisahkan antara yang “benar” dan yang “dusta”.  Dan dengan menjadi orang yang “benar” konsekuensinya adalah balasan yang terbaik.

Dan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. (QS 29:7)

Melalui perumpamaan tentang mukmin tadi, saya pun berfikir bahwa bukan hanya deklarasi keimanan kita saja yang mempunyai konsekuensi , tapi setiap hal dalam hidup ini mempunyai konsekuensinya sendiri. Dengan menjadi seorang pekerja kita mempunyai konsekuensi kita sendiri,dengan menjadi seorang pemimpin kita mempunyai konsekuensi sendiri, dengan menjadi seorang pelajar ataupun mahasiswa kita mempunyai konsekuensi sendiri, bahkan dengan hanya menjadi seorang manusiapun kita mempunyai konsekuensi sendiri.

Sebelum berlanjut lebih jauh , mari kita lihat arti kata konsekuensi itu sendiri. Kalau menurut KBBI online, konsekuensi adalah “akibat (dr suatu perbuatan, pendirian, dsb)” atau “persesuaian dng yg dahulu”. Nah terus memang kenapa kalau setiap hal mempunyai konsekuensi?

….Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS 4 : 78-79)

Karena setiap hal mempunyai konsekuensi, maka sudah seharusnya kita harus selalu mengisi kehidupan kita dengan kebaikan. Karena setiap hal mempunyai konsekuensi maka kita harus menyelesaikan dengan baik segala kewajiban maupun amanah kita. Karena segala hal yang buruk yang terjadi dalam diri kita  , seperti dalam ayat diatas adalah hasil dari perbuatan kita sendiri. Oleh karena itu , menyadari konsekuensi dari suatu hal yang akan kita lakukan akan membatu kita agar dapat melaksanakan sesuatu dan mendapatkan hasil yang terbaik.

Terlihat mudah memang , tapi ternyata tidak semua orang menyadari konsekuensi dari hal yang ia lakukan. Hal yang paling mendasar saja dalam islam. Banyak orang yang bersyahadat, tapi ada berapa banyak dari orang yang bersyahadat tersebut menyadari konsekuensi dari syahadat yang sudah mereka ucapkan. Bahwa syahadat adalah janji, ikrar, dan sumpah yang kita ucapkan kepada Allah sehingga konsekuensinya menuntut kita untuk selalu berpegang teguh dan tidak pernah mengkhianati (dengan berbagai macam cara) ikrar tersebut. Juga syahadat adalah satunya-satunya jalan menuju kebahagiaan (sejati) dunia dan akhirat,  jika kita istiqamah dalam iman kita.

Ternyata menyadarinya saja belumlah cukup, setelah kita menyadari dan tau konsekuensinya. Yang kita lakukan selanjutnya adalah bersiap – siap. Sehingga kita siap atas segala kemungkinan yang terjadi.  Karena melalui penyadaran diri atas konsekuensi, pasti persiapan yang harus kita lakukan berbeda tergantung hal yang kita lakukan.

Jadi..Sahabat, Sadari dan bersiaplah , karena setiap hal ada konsekuensinya. Jangan sampai kita menyesal karena kesalahan dan kelalaian kita sendiri.

Wallahu a’lam

Dakwah adalah cinta (Ust Rahmat Abdullah)

Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan
meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu.
Berjalan, duduk, dan tidurmu.

Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang
umat yg kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu.
Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di
tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang
hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang
akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat
yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya
sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi
orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.
Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang
segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah
kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai
jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga
terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa
pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya
diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang
sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang
bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah
bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah
bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama
mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan
segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu
menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana
pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan
rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus
mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk
mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka.
Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda
dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar
wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar.
Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi
kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..

Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya
adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan
pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan
Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya
besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu
mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru
jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah
dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya
dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta…
Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

(alm. Ust Rahmat Abdullah)