Category Archives: Pesona Ramadhan

Bulan Ramadlan : Stasiun Besar Musafir Iman (KH Rahmat Abdullah)

Tulisan ustad yang satu ini memang selalu menjadi salah satu favorit saya. Selain gaya bahasanya yang indah walaupun terkadang (bahkan seringkali) membingungkan , makna yang terkandung di dalam penuturan tulisannya selalu sarat akan hikmah,  seolah tidak habis-habis untuk digali dan dibaca berulang-ulang. Kalau katanya kritikus makanan yang terkenal…top markotop deh…hehe. Tanpa berpanjang-lebar ,tema tulisan beliau kali ini tentang Ramadhan yang secara kebetulan saya dapatkan ketika lagi searching2 tulisan tentang Ramadhan. Semoga bermanfaat sahabat. ^^

.

Bulan Ramadlan : Stasiun Besar Musafir Iman

Oleh : Ustadz KH Rahmat Abdullah (Allahu yarham)

Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya, mencari dataran rendah, menjadi semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah minimum dari kawasan maksimum, angin pun berhembus. Edaran yang pasti pada keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer, menulis sejarah, catatan musim dan penanggalan. Semua bergerak dalam harmoni yang menakjubkan.

Ruh pun – dengan karakternya sebagai ciptaan ALLAH – menerobos kesulitan mengaktualisasikan dirinya yang klasik saat tarikan gravitasi ‘bumi jasad’ memberatkan penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala.

Kini – di bulan ini (Ramadhan)– ia jadi begitu ringan, menjelajah ‘langit ruhani’. Carilah bulan – diluar Ramadlan – saat orang dapat mengkhatamkan tilawah satu, dua, tiga sampai empat kali dalam sebulan. Carilah momentum saat orang berdiri lama di malam hari menyelesaikan sebelas atau dua puluh tiga rakaat. Carilah musim kebajikan saat orang begitu santainya melepaskan ‘ular harta’ yang membelitnya.

Inilah momen yang membuka seluas-luasnya kesempatan ruh mengeksiskan dirinya dan mendekap erat-erat fitrah dan karakternya.

Marhaban ya Syahra Ramadlan Marhaban Syahra’ Shiyami

Marhaban ya Syahra Ramadlan Marhaban Syahra’ al-Qiyami

Keqariban di Tengah Keghariban (pendekatan diri ditengah keterasingan)

Ahli zaman kini mungkin leluasa menertawakan muslim badui yang bersahaja, saat ia bertanya: “Ya Rasul ALLAH, dekatkah Tuhan kita, sehingga saya cukup berbisik saja atau jauhkah Ia sehingga saya harus berseru kepada-Nya?”

Sebagian kita telah begitu ‘canggih’ memperkatakan Tuhan. Yang lain merasa bebas ketika ‘beban-beban orang bertuhan’ telah mereka persetankan.

Bagaimana rupa hati yang Ia tiada bertahta disana? Betapa miskinnya anak-anak zaman, saat mereka saling benci dan bantai. Betapa sengsaranya mereka saat menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks, riba, suap,
syahwat, dan seterusnya. padahal mereka masih berpijak di bumi-Nya.

Betapa menyedihkan, kader yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan, padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-Nya. Betapa bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah kawasan rawan, mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun berikut, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang
seterusnya.

Semua ayat dari 183-187 surat Al-Baqarah bicara secara tekstual tentang puasa. Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara tekstual, namun sulit untuk mengeluarkannya dari inti hikmah puasa. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (katakanlah): ‘Sesungguhnya Aku ini dekat…” (Al-Baqarah:185).

Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa kekariban (kedekatan) ini? Mereka jadi pandai tampil dengan wajah tanpa dosa didepan publik, padahal beberapa menit sebelum atau sesudah tampilan ini mereka menjadi drakula dan vampir yang haus darah, bukan lagi menjadi nyamuk yang zuhud. Mereka menjadi lalat yang
terjun langsung ke bangkai-bangkai, menjadi babi rakus yang tak bermalu, atau kera, tukang tiru yang rakus.

Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antar mereka? Bakar rumah, tebang pohon bermil-mil, hancurkan hutan demi kepentingan pribadi dan keluarga, tawuran antar warga atau anggota lembaga tinggi negara, bisniskan hukum,
jual bangsa kepada bangsa asing dan rentenir dunia. Berjuta pil pembunuh mengisi kekosongan hati ini. Berapa lagi bayi lahir tanpa status bapak yang syar’i? Berapa lagi rakyat yang menjadi keledai tunggangan para politisi
bandit? Berapa banyak lagi ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hati tetap membatu? Berapa banyak kurban berjatuhan sementara sesama saudara saling tidak peduli?

Nuzul Qur’an di Hira, Nuzul di Hati

Ketika pertama kali Alqur’an diturunkan, ia telah menjadi petunjuk untuk seluruh manusia. Ia menjadi petunjuk yang sesungguhnya bagi mereka yang menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ia benar-benar
berguna bagi kaum beriman dan menjadi kerugian bagi kaum yang zalim. Kelak saatnya orang menyalahkan rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu kehidupan menjadi kacau. Ada juga orang berfikir, malam qadar itu selesai sudah, karena ALLAH menyatakannya dengan Anzalnahu (kami telah menurunkannya), tanpa melihat tajam-tajam pada katatanazzalu’l Malaikatu wa’l Ruhu (pada malam itu turun menurunlah Malaikat dan Ruh), dengan kata kerja permanen.

Bila malam adalah malam, saat matahari terbenam, siapa warga negeri yang tak menemukan malam; kafirnya dan mukminnya, fasiqnya dan shalihnya, munafiqnya dan shiddiqnya, Yahudinya dan Nasraninya? Jadi apakah malam itu malam fisika yang meliput semua orang di kawasan?

Jadi ketika Ramadlan di gua Hira itu malamnya disebut malam qadar, saat turun sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga, maka betapa bahagianya setiap mukmin yang sadar dengan Nuzulnya Alqur’an di hati pada malam qadarnya masing-masing, saat jiwa menemukan jati dirinya yang selalu merindu dan mencari sang Pencipta. Yang tetap terbelenggu selama hayat dikandung badan, seperti badan pun tak dapat melampiaskan kesenangannya, karena selalu ada keterbatasan bagi setiap kesenangan. Batas makanan dan minuman yang lezat adalah kterbatasan perut dan segala yang lahir dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah menghilangnya kegembiraan di puncak
kesenangan. Batas nikmatnya dunia ialah ketika ajal tiba-tiba menemukan rambu-rambu:Stop!

Alqur’an dulu, baru yang lain

Bacalah Alqur’an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah dan perkaya wawasan dengan sirah, niscaya Islam itu terasa ni’mat, harmoni, mudah, lapang dan serasi. Alqur’an membentuk frame berfikir. Alqur’an
mainstream perjuangan. Nilai-nilainya menjadi tolok ukur keadilan, kewajaran dan kesesuaian dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penguasaan outline-nya menghindarkan pandangan parsial juz-i. Penda’wahannya dengan kelengkapan sunnah yang sederhana, menyentuh dan aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam, menjauhkan perselisihan dan menghemat energi ummat.

Betapa da’wah Alqur’an dengan madrasah tahsin, tahfiz dan tafhimnya telah membangkitkan kembali semangat keislaman, bahkan di jantung tempat kelahirannya sendiri. Ahlinya selalu menjadi pelopor jihad di garis depan,
jauh sejak awal sejarah ummat ini bermula. Bila Rasulullah meminta orang menurunkan jenazah dimintanya yang paling banyak penguasaan Qur’annya. Bila menyusun komposisi pasukan, diletakkannya pasukan yang lebih banyak
hafalannya. Bahkan di masa awal sekali, ‘unjuk rasa’ pertama digelar dengan pertanyaan ‘Siapa yang berani membacakan surat Arrahman di Ka’bah?’. Dan Ibnu Mas’ud tampil dengan berani dan tak menyesal atau jera walaupun pingsan dipukuli musyrikin kota Makkah.

Puasa: Da’wah, tarbiah, jihad dan disiplin

Orang yang tertempa makan (sahur) di saat enaknya orang tertidur lelap atau berdiri lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadlan setelah siangnya berlapar-haus, atau menahan semua pembatal lahir-batin, sudah sepantasnya mampu mengatasi masalah-masalah da’wah dan kehidupannya, tanpa keluhan, keputusasaan atau kepanikan. Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan di tengah badai takkan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air di akhir malam, lapar dan haus di terik siang.

Mereka terbiasa memburu dan menunggu target perjuangan, jauh sampai ke akhirat negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang melebihi kepastian fajar menyingsing. Namun bagaimana mungkin bisa mengajar orang lain, orang yang tak mampu memahami ajarannya sendiri? “Faqidu’s Syai’ la Yu’thihi” (Yang tak punya apa-apa tak akan mampu memberi apa-apa).

Wahyu pertama turun di bulan Ramadlan, pertempuran dan mubadarah (inisiatif) awal di Badar juga di bulan Ramadlan dan Futuh (kemenangan) juga di bulan Ramadlan. Ini menjadi inspirasi betapa madrasah Ramadlan telah memproduk begitu banyak alumni unggulan yang izzah-nya membentang dari masyriq ke maghrib zaman.

Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits, mulut mereka juga menggetarkan kalimat yang sama. Adapun hati dan bukti, itu soal besar yg menunggu jawaban serius.

.

sumber

tulisan:http://www.al-ikhwan.net/bulan-ramadlan-stasiun-besar-musafir-iman-2965/

gambar: railfanskulonrailwaysblogspot.com

Advertisements

Menyambut Ramadhan dengan Asa

Alhamdulillah setelah lebih dari sebulan tidak muncul dalam dunia tulis-menulis blog. Hari ini di hari pertama di bulan Ramadhan yang mulia ini saya kembali mendapatkan kesempatan untuk berbagi inspirasi. Dan untuk tema tulisan kali ini tidak jauh dengan realita yang ada, yaitu menyambut bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan seperti yang mayoritas umat muslim ketahui, adalah suatu waktu yang sangat agung dan istimewa dalam ajaran islam. Sehingga tidak jarang Ramadhan dijadikan suatu momentum dan inspirasi untuk melakukan suatu perubahan diri menuju yang lebih baik.

Di Negeri kita yang tercinta ini, banyak cara dan gaya dalam menyambut Ramadhan. Kesemuanya berbeda tergantung keadaan dan budaya masyarakat sekitar. Di Jawa Barat kita kenal ada acara “Munggahan”, di Jawa Timur kita kenal “Padusan”, dan lain-lain. Karena bukan ini yang akan saya angkat jadi dicukupkan saja bahasannya :).

Kembali dalam rangka menyambut Ramadhan. Sesuai dengan judulnya, terinspirasi oleh ceramah taraweh pembukaan Ramadhan yang saya rasa hampir mirip di berbagai tempat (pake khutbah nya Rasulullah yang memaparkan keutamaan-keutamaan Ramadhan) . Ternyata salah satu cara menyambut Ramadhan adalah dengan memupuk asa.

Asa a.k.a harapan memang harus senantiasa kita pupuk jika kita mau menjadi pribadi yang sukses dalam bidang apapun. Termasuk dalam menyambut dan menjalani Ramadhan. Yakin deh dengan setumpuk asa, insyaAllah kita akan dapat menjalani segala kegiatan di dalam Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Apa hubungannya asa dengan sukses dibulan Ramadhan?  Terus gimana cara agar asa selalu terpupuk sehingga Ramadhan kita insyaAllah sukses?

Ramadhan adalah salah satu waktu yang istimewa, dimana Allah banyak memberikan kita keistimewaan yang banyak. Salah satunya adalah dibukanya lebar-lebar pintu surga dan rahmat, juga ditutupnya rapat-rapat pintu neraka, dan masih banyak lagi.  Tentu kita berharap agar segala yang kita lakukan dapat dinilai sebagai ibadah di sisi Allah sehingga kita dapat mendapatkan keutamaan yang banyak dan tidak didapat diwaktu yang lain tersebut.

Ternyata untuk menumbuhkan dan memupuk asa, tidak semudah untuk diucap (tulis) kan, ada dua hal minimal yang harus kita persiapkan. Yang pertama adalah ilmu, yang kedua adalah keyakinan (keimanan).

Persiapan pertama adalah ilmu, dengan ilmu kita dapat mengetahui segala kebaikan dan keutamaan dalam bulan Ramadhan. Sehingga dapat menjadi moivasi kita dalam beribadah. Seperti contohnya:

“Jika datang Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan syetan dibelenggu” (HR. Muslim)

Lalu dengan ilmu, kita juga kita dapat mengetahui segalam macam cara beribadah yang  benar sehingga segala ibadah kita tidak sia-sia oleh karena kita salah dalam mengamalkannya. Contoh tidur untuk ibadah dalam bulan Ramadhan. Emang gak salah sih, tapi alangkah lebih baiknya kan jika kita isi waktu kita untuk hal yang jauh lebih bermanfaat selain tidur :).  Juga dalam hal tarawih, kecil emang tapi pernah diingatkan bahwa terkadang kita ke masjid pada saat adzan isya itu niatnya buat tarawih, bukan buat shalat isya berjamaah tepat waktu dimasjid dulu. Emang gak salah – salah amat juga sih, tapi kan sayang kalau kita lebih “mendahulukan” yang sunnah daripada yang wajib (yang insyaAllah pahalanya juga lebih besar).

Lalau..yang kedua, setelah ilmu yang ternyata tidak cukup. Kita juga harus berusaha memiliki keyakinan (keimanan). Kenapa tidak cukup? Coba saja kita tanya ke dalam diri kita. Apakah kita sudah tahu keutamaan dalam bulan Ramadhan? Kalau sudah apakah kita sudah bersungguh-sungguh mengejar keutamaan tersebut? Jika belum bisa dibilang keimanan kita belum cukup untuk mengaktivasi ilmu kita menjadi amal nyata.

So…mumpung masih awal Ramadhan. Muailah cari sebanyak-banyaknya ilmu tentang keutamaan dan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan.  Dekatkan diri kita kepada Allah, dan minta (berdo’a) kepada Allah agar kita diberi keimanan untuk meyakini dan mengamalkan ilmu yang kita punya. Sehingga asa dalam diri kita akan terpupuk sedikit demi sedikit bukan hanya dalam bulan Ramadhan tapi dibulan lain juga insyaAllah.

Terakhir…dengan memupuk asa, kita insyaallah akan selalu termotivasi untuk mengejar target akan janji-janji Allah tersebut. Juga mengisi tiap waktu (detik) kita pada bulan yang mulia ini dengan amal-amal (perbuatan-perbuatan) terbaik kita. Sehingga bulan ini harus jadi Ramadhan yang  jauuuuhhhhh…lebih baik dari Ramadhan tahun lalu.

.

Selamat memupuk asa sahabat. 🙂

Wallahu A’lam

Ketika Rajab Menyapa

Allahumma bariklana fii Rajaba wa Sya’ban wa balighna Ramadhan 

Itulah bunyi dari suatu SMS yang dikirim oleh seorang sahabat kepada saya. Selang beberapa saat SMS lain dengan bunyi serupa, hadir secara tiba-tiba dan serentak di ponsel saya beberapa hari yang lalu.

yang artinya kurang lebih:

Ya Allah berkahi kami di Bulan Rajab dan Sya;ban dn sampaikan usia kami hingga Ramadhan

Memang ada perbedaan pendapat tentang keshahihan doa ini. Tapi kalau saya pribadi memilih untuk tidak ambil pusing dan mengambil hikmahnya saja. Bahwa Bulan Rajab sudah datang dan menyapa tanpa ragu, bertanda Ramadhan sudah dekat.

Sudah siapkah kita untuk menyambutnya dengan sebaik-baiknya?

Dan dengan segala keutamaan yang ada, sebesar apakah harapan kita untuk bertemu dengannya?

Oleh karena itu sahabat, yuk kita meminta kepada Allah..untuk mempersiapkan diri kita dan menyampaikan diri kita kepada Ramadhan kedepan.

Amiin..

🙂

Menyelami Sedikit Lebih Dalam Makna Kata “Maaf”

.

Keadaan hari itu di kota Madinah,mungkin sama seperti hari-hari yang sebelumnya yang juga tenang. Kalaupun ada yang tidak biasa di hari tersebut, adalah rencana kunjungan rombongan Bani Tamim kepada Rasulullah saw. Tanpa mengetahui apa maksud kedatangan mereka, Rasul pun menunggu kedatangan tamunya dengan tenang. Hingga pada akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun datang. Rasul mempersilahkan mereka semua duduk dengan tertib.  Semua tamu disalaminya dan mendapat senyuman yang paling tulus, yang membuat masing-masing mereka selalu menganggap bahwa mereka adalah orang yang paling penting dalam kehidupan Rasul.

.

Ketika semua sudah duduk dan menyantap hidangan yang dihidangkan oleh Rasulullah, maka Rasulullah pun berkata, “Semoga Allah swt senantiasa memberkahi kita semua. Apakah maksud kedatangan kalian ini, wahai sahabat-sahabatku semua?”

“Kami semua baik-baik saja ya Rasulullah. Terima kasih telah menerima kami semua. Sesungguhnya kami sekarang ini sedang berada dalam keadaan yang sangat pelik. Kami membutuhkan bantuanmu sekali, jika engkau sekiranya tidak keberatan.”

Rasulullah mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menunggu saja.

Salah seorang dari mereka bicara lagi, “Sesungguhnya kami ini hendak memilih pemimpin di antara kami….”

“Dan?” Rasulullah berkata ketika ia tidak melanjutkan bicaranya.

“Dan kami tidak punya pengetahuan yang sebagus engkau. Kami sebelumnya telah berselisih siapa kiranya yang akan dan harus jadi pemimpin kami……”

“Begitu ya….?”

Semua orang diam sekarang. Mereka menundukkan kepala mereka. Ada sejumput perasaan malu karena mereka telah melibatkan Rasul dalam urusan yang tampaknya tidak seberapa itu. Rasul masih terus mengangguk-angguk kepalanya. Beliau terdiam. Cukup lama.

Dan ketika Rasulullah hendak membuka mulut, tiba-tiba Abu bakar yang berada bersama rombongan berkata cukup keras, “Angkat Al-Qa’qa bin Ma’bad sebagai pemimpin!”

Semua kepala mendongak memandang Abu Bakar. Ada mata yang setuju namun ada juga yang kelihatannya menentang.

Umar yang juga datang bersama Abu Bakar berdiri, “Tidak, angkatlah Al-Aqra bin Habis.”

Kedua orang itu kini berdiri. Suasana tampak tegang. Rasulullah hanya diam saja. Apakah Abu Bakar dan Umar akan bertengkar?

Abu Bakar dengan sedikit mendelik berkata, “Kau hanya ingin membantah aku saja, hai Sahabatku!”

“Aku tidak bermaksud membantahmu!” jawab Umar.

Keduanya untuk beberapa saat masih saja saling berkata-kata sehingga suara mereka terdengar makin keras. Mereka tampaknya tidak peduli bahwa di situ ada orang lain. Tidak peduli bahwa di tempat itu pun ada Rasulullah, panutan mereka.

Waktu itu, turunlah ayat, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari..” (Al-hujurat: 1-2).

Setelah mendengar teguran itu langsung dari Allah, semua orang di situ tertegun. Sebaliknya Abu Bakar langsung menangis. Setelah ia meminta maaf kepada sahabatnya Umar, ia menghadap Rasulullah. “Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia.”

Rasulullah mendegar itu hanya mengelus-elus punggung Abu Bakar. Ia tersenyum kepadanya. Sedangkan Umar bin Khattab setelah itu berbicara kepada Nabi hanya dengan suara yang lembut. Bahkan kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus.

.

Sahabat, mendengar dan menyelami kisah Rasul dan para sahabatnya yang penuh dengan dinamika tetapi selalu dibalut dengan indahnya islam, membuat kita seakan sedang menyelami samudra hikmah yang sangat luas. Banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil dari kisah – kisah mereka.

.

Kisah yang melatarbelakangi turunnya beberapa ayat Al-Qur’an tersebut mungkin memang tidak secara eksplisit memberikan kepada kita makna dan pentingnya kata maaf, tapi dapat memberikan keteladanan untuk kita tentang bab bertaubat dan kerendahan hati, yang akan sangat erat hubungannya dengan satu kata yang akan kita bahas nantinya.

.

Bertaubatlah Karena Kita Berlumuran Dosa

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya…”(TQS 66: 8 )

Jika kita membahas kata maaf maka tidak dapat kita pungkiri bahwa hal tersebut akan sangat erat kaitannya dengan kata taubat. Karena dalam makna kata maaf yang murni terdapat unsur-unsur penyesalan, janji untuk tidak mengulangi kesalahan, dan tekad yang kuat untuk menebus segala kesalahan yang kesemuanya juga adalah syarat pemenuhan suatu taubat.

.

Sudah menjadi pengetahuan dan pemakluman bahwa manusia adalah salah satu sarang tempat dosa, kesalahan, dan kekhilafan berkumpul. Kalau kita coba hitung dan bayangkan seberapa banyak dosa – dosa yang sudah kita perbuat selama hidup kita, maka pasti akan sangat sulit untuk mengkuantifikasikannya. Bahkan waktu yang singkat antar shalat saja sangat besar kemungkinannya kita melakukan suatu kesalahan, jadi mungkin saja karena memaklumi hal itulah Allah mewajibkan kita untuk shalat lima waktu setiap harinya.

Abu Hurairah r.a. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. Bersabda, ‘ Bagaimana pendapat kalian, seandainya ada sungai di depan pintu rumah seorang dari kalian. Dia mandi di sungai itu lima kali sehari. Apakah masih ada kotoran yang tersisa?’ Para sahabat menjawab,’Tidak akan ada kotoran yang tersisa.’ Rasulullah saw. bersabda, Begitulah perumpamaan shalat lima waktu. Dengannya Allah menghapuskan dosa-dosa. (Muttafaq ‘alaih).

.

Bahkan Rasulullah saw. teladan kita dalam segala hal, yang dirinya ma’shum (terpelihara dari kesalahan) dan diampuni dosanya yang telah lewat dan yang akan datang mencontohkan kepada kita bahwa beliau tidak pernah kurang dari 70 kali beristighfar setiap harinya. Subhanallah!

.

Membuka Pintu Gerbang Ampunan Allah dengan Kata Maaf

“…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An Nuur, 24:22)

Mari renungi lebih dalam dan kita akan mendapati bahwa bertaubat langsung kepada Allah yang Maha Pengampun prosesnya relatif jauh lebih mudah. Karena menurut Imam Nawawi dalam kitabnya yang tersohor, Riyadhus Shalihin,  jika kemaksiatan yang kita lakukan tidak berkaitan dengan hak sesama manusia kita “hanya” (walaupun dalam praktiknya kita semua tahu betapa sulitnya melakukan hal ini) perlu memenuhi tiga syarat,yaitu menghentikan kemaksiatan yang dilakukan, menyesalinya ,dan bertekad untuk tidak melakukan kemaksiatan itu lagi. Maka akan sangat berbeda bila dalam kemaksiatan yang kita lakukan terkandung hak sesama manusia. Selain tiga syarat yang sudah disebutkan di atas, ada satu syarat lagi yang harus kita penuhi, yaitu membebaskan diri dari hak tersebut. Yang salah satu caranya adalah meminta maaf.

.

Kata Maaf, jika kita merujuk ke KBBI (Kamu Besar Bahasa Indonesia- red) artinya adalah 1 pembebasan seseorang dr hukuman (tuntutan, denda, dsb) karena suatu kesalahan; ampun:minta –; 2 ungkapan permintaan ampun atau penyesalan. Maaf juga adalah sebuah kata yang sangat singkat dan terdiri hanya terdiri dari empat huruf, m, a, a, dan f. Tetapi seringkali sangat sulit kita ucapkan. Bahkan ketika kita tahu ada kontribusi kesalahan kita dalam suatu masalah dan masalah tersebut akan selesai jika kita mau minta maaf. Sifat sombong dan khawatir dianggap sebagai orang yang hina adalah salah satu penyebab kenapa sangat sulit sekali untuk meminta maaf. Padahal dalam Allah sangat membenci orang yang bersikap congak lagi sombong.

.

dari Haritsah bin Wahab r.a. bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Senangkah kalian jika aku beritahukan tentang ahli surga? Ia (ahli surga itu), setiap orang yang lemah dan memandang diri (sendiri) lemah, yang jika bersumpah kepada Allah pasti dikabulkan. Dan, sukakah kalian aku beritahukan tentang ahli neraka? Ia (ahli neraka itu) adalah setiap orang yang kasar, tidak sabaran, dan congkak lagi sombong.” (Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).

.

Dibalik Segala Kesulitan Tersebutlah Tersimpan Ridha Allah

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (TQS.7:199)

Jika meminta maaf saja tantangannya sudah besar maka memberi maaf punya tantangan dan keutamaannya tersendiri yang bahkan jauh lebih besar dari meminta maaf. Maka tidak berlebihan Rasulullah menempatkan sikap memberi lebih baik daripada meminta, “Tangan diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah.Tangan yang di atas itu ialah tangan yang memberi; sedangkan tangan yang di bawah ialah yang meminta-minta.” , ungkapnya.

Seakan mempertegas keutamaannya Rasulullah pun memposisikan memberi maaf adalah sebagai akhlak yang paling mulia di dunia dan akhirat  Nabi saw bersabda: “Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang menzhalimimu, memberi orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu.” (H.R. Baihaqi).

.

Selain kebaikan ruhani dan akhlak, sifat memberi maaf bahkan juga memiliki kebaikan jasmani, yaitu membuat tubuh kita menjadi lebih sehat. Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres.

.

Dibalik semua keutamaan tersebut, yang sudah tentu tidak kita ragukan lagi kebaikannya. Mamang membuat setan tidak bisa diam, dengan segala bujuk rayunya setan selalu menggelitik sifat sombong kita dan mebisikkan kepada kita betapa hinanya bila seseorang meminta maaf, apalagi memberi maaf. Maka sifat sombong dan khawatir menjadi hina kembali menjadi hambatan kita untuk memberi maaf. Padahal dihadapan Allah tidak ada penghargaan lain terhadap orang yang redah hati (tawadhu’) dan suka memaafkan kecuali kemuliaan di sisi-Nya.

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tiada berkurang harta karena sedekah, dan tiada Allah menambah seseorang karena (mau) memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidak ada seorang hamba pun yang tawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah kecuali Allah akan mengangkatnya.” (Muslim no. 2588)

“Allah lebih gembira terhadap taubat hamba-Nya daripada seseorang diantara kamu yang mendapatkan untana yang telah hilang di Gurun Sahara. (Muttafaq ‘alaih)

Sebagai seorang muslim yang taat, sudah tentu kita ingin semua hal yang kita lakukan lebih mendekatkan kita kapada Allah dan membuka jalan menuju Ridha-Nya. Maka sudah sepatutnya taubat  (termasuk meminta maaf)  dan memberi maaf kita masukkan menjadi menu makanan harian yang tidak pernah kita lewatkan. Karena kita tidak tahu, kapan kesempatan kita untuk bertaubat akan berkhir.

.

Wallahu a’lam.

(dari berbagai sumber)

Keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

.

Keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Oleh: Tim dakwatuna.com

.

dakwatuna.com – Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر

“Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim).

Filosofi pahala puasa 6 hari di bulan Syawal setelah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan sama dengan puasa setahun, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali lipatnya.

Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya:

1. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.

2. Puasa Syawal dan Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.

3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Taala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan: “Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.” Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.

4. Puasa Ramadhan – sebagaimana disebutkan di muka – dapat mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lain. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya ‘ldul Fitri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah ‘Idul Fitri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.

5. Dan di antara manfaat puasa enam hari bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup.

Sebaiknya orang yang memiliki utang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan utangnya. Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal, dengan demikian ia telah melakukan puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal.

Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa sunnah serta sedekah yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Taala pada bulan Ramadhan adalah disyariatkan sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai macam manfaat, di antaranya: ia sebagai pelengkap dari kekurangan yang terdapat pada fardhu, merupakan salah satu faktor yang mendatangkan mahabbah (kecintaan) Allah kepada hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sebagai sebab dihapusnya dosa dan dilipatgandakannya pahala kebaikan dan ditinggikannya kedudukan.

Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan, shalawat dan salam semoga tercurahkan selalu ke haribaan Nabi, segenap keluarga dan sahabatnya.

Lirik lagu: Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum (oleh:Bimbo)

Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum

Bimbo

.

Kumandangnya Takbir Mulai Bergema

Selesailah Sudah Puasa Kita

Wajahpun Berseri Penuh Gembira

Esok Lebaran Tiba

.

Shalat Led Bersama Di Pagi Hari

Amatlah Khidmatnya Sepenuh Hati

Bersatulah Kami Di Dalam Doa

Tuhan Ampuni Kami

.

Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum

Shiaa Mana Washiaa Makum

Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum

Minal Aidin Walfaidzin

Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum

Shiaa Mana Washiaa Makum

Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum

Maafkan Lahir dan Bathin

.

Mudiknya Lebaran Dimana-mana

Pulang Ke Kampung Amatlah Bermakna

Meskipun Jauh Ditempuh Juga

Jangan Paksakan Diri

.

Makanlah Ketupat Rasanya Nikmat

Bermaaf-maafan Bersihkan Dosa

Janganlah Lupakan Yang Tidak Mampu

Agar Semua Gembira

.

Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum

Shiaa Mana Washiaa Makum

Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum

Terimalah Puasa Kami

Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum

Shiaa Mana Washiaa Makum

Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum

Sucikan Lahir dan Batin

.

(Instrument)

.

Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum

Shiaa Mana Washiaa Makum

Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum

Minal Aidin Walfaidzin

Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum

Shiaa Mana Washiaa Makum

Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum

Terimalah Puasa Kami

.

Mudiknya Lebaran Dimana-mana

Pulang Ke Kampung Amatlah Bermakna

Meskipun Jauh Ditempuh Juga

Jangan Paksakan Diri

.

Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum

Shiaa Mana Washiaa Makum

Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum

Minal Aidin Walfaidzin

Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum

Shiaa Mana Washiaa Makum

Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum

Terimalah Puasa Kami

Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum

Shiaa Mana Washiaa Makum

Taqabbalallaahu Minnaa Waminkum

Sucikan Lahir dan Batin

—Farewell Ramadhan— Agar “minal a’idzin wal faidzin” bukan sekedar ucapan dan tradisi

Sahabat, Ramadhan sudah pergi meninggalkan kita. Bebagai penyikapan dari umat islam di Indonesia menjadi bumbu tersendiri yang memberikan cita rasa yang tinggi akan  indahnya ragam kebudayaan umat muslim.

Ada yang menyikapi dengan kegembiraan, gembira karena idul fitri merupakan salah satu hari raya “resmi” seluruh kaum muslimin yang kita dianjurkan bergembira pada hari tersebut, gembira karena akan segera bertemu dengan sanak keluarga yang lama tidak ditemui, gembira karena terlepas dari belenggu puasa??? ^^! yang terakhir ini semoga tidak.

Ada yang menyikapi dengan kesedihan, sedih karena merasa belum maksimal memanfaatkan segala fasilitas setingkat dengan pelayanan “VIP”, yang diberikan Allah melalui Bulan Ramadhan kepada para insan yang haus akan ampunan dan balasan yang besar dari Allah SWT,  sedih karena tidak tahu apakah diri yang lemah ini akan diberikan kekuatan oleh Allah untuk bertemu lagi dengan Ramadhan selanjutnya.

Ada yang menyikapinya dengan kecemasan, cemas karena belum punya baju baru,cemas karena belum beli ayam untuk bikin opor, cemas karena jalanan macet sehingga belum sampai-sampai juga ke kampung halaman. Haha…kembali , inilah indahnya ragam kebudayaan umat muslim.

Lalu apa ada yang salah dengan penyikapan tersebut? menurut hemat penulis yang awam ini, selama sikap kita dilandaskan untuk mencari ridha Allah dan tidak berlebih – lebihan maka sikap manapun yang kita ambil. InsyaAllah tidak masalah.

Selain fenomena-fenomena unik diatas, terdapat juga budaya unik umat muslim Indonesia lainnya. Yaitu mudik (a.k.a. pulang kampung) , bersilaturahim, saling memaafkan, dan saling mengucapkan “Taqabalallahu minna wa minkum siamana wa siamakum minal aidzin wa faidzin, mohon maaf lahir dan batin”.

Yap, “minal aidzin….dst” sudah tidak asing dan bahkan sering kita ucapkan dalam momen idul fitri/”lebaran”.Tapi tahukah kita sedikit sejarah dan makna dari ucapan tersebut? Mungkin sebagian besar kita tidak mengetahuinya dan hanya sekedar mengucapkannya saja, padahal kalau kita renungi dan perdalam lagi, didalam do’a tersebut terdapat arti yang sangat indah yang bisa membantu kita untuk memaknai lagi perayaan Idul Fitri kita.

Idul fitri sendiri secara bahasa dan maknawi dapat kita artikan sebagai “kembali kepada fitrah atau kesucian” karena tempaan selama sebulan di bulan ramadhan dan sudah tentu berkat ampunan dari Allah  atau “hari raya berbuka” dimana setelah sebulan berpuasa,umat muslim berbuka sebagai ungkapan syukur kepada Allah.

Melihat kedua makna tersebut, tidak salahlah do’a yang sering dibacakan orang muslim ketika berjabat tangan dan saling memaafkan

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ الْفَائِزِيْنَ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

yang artinya kurang lebih: “Semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang kembali (kepada fitrah) dan sebagai hamba-hamba-Nya yang menang (melawan hawa nafsu). Dan semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita semua.

Ya…ucapan tersebut memang bukan hadist, melainkan do’a, adapun hadistnya (walaupunnya menurut Ibnu Hajar hadist ini dha’if (lemah)) adalah

Dari Khalid bin Ma’dan ra, berkata, Aku menemui Watsilah bin Al-Asqo’ pada hari Ied, lalu aku mengatakan, ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka”. Lalu ia menjawab, ‘Iya, Taqabbalallah Minna Wa Minka,’. Kemudian Watsilah berkata, ‘Aku menemui Rasulullah SAW pada hari Ied lalu aku mengucapkan ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka’, kemudian Rasulullah SAW menjawab, ‘Ya, Taqabbalallah Minna Wa Minka’ (HR. Baihaqi Dalam Sunan Kubra).

“Taqobbalalloohu Minnaa Waminkum” yang berarti do’a yang berisi harapan semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita semua dan “Minal ‘aidzin wal faidzin” yang juga do’a yang berisi harapan agar kita menjadi hamba-hamba-Nya yang kembali (kepada fitrah) dan sebagai hamba-hamba-Nya yang menang (melawan hawa nafsu).

Jadi walaupun bukan hadist,InsyaAllah do’a itu baik dan dapat mengingatkan kita akan makna Idul Fitri itu sendiri. Jadi dengan kita mengetahui arti dan makna yang terdapat didalam do’a tersebut semoga ucapan “Taqobbalalloohu Minnaa Waminkum” dan “Minal ‘aidzin wal faidzin” kita bukan sekedar ucapan dan tradisi, melainkan benar – benar menjadi do’a yang kita paham benar artinya dan benar – benar kita harapkan hal itu terkabul.

Terkabul Untuk orang yang kita doakan, juga untuk kita yang mendo’akan. Amiin.

(dari berbagai sumber)

Lirik Lagu: Buka Puasa (Kuburan feat. Ebith Beat A)

Buka Puasa

Kuburan feat. Ebith Beat A

Hei hei hei hei Assalamu alaikum
Ada Kuburan disini dan Ebith Beat A
Puasa beat beat puasa beat beat
Insya Allah puasa dong
Emangnya kalian, kalian puasa gak?
Puasa dong
Nih buktinya puasa haah..
Jangan deket deket bau ah

*Maghrib sudah tiba
Saat buka puasa
Ayo semuanya jangan lupa berdo’a
Makan secukupnya gak usah berlebihan
Perhatikan makan jagalah kesehatan

Sambil nunggu buka puasa
Kita jalan-jalan keliling kota
Sama teman-teman naik sepeda
Baru lima menit sudah cape terasa

Daripada keliling tak karuan
Niat hari ini ikut pengajian
Dapat penuh berkah di bulan Ramadhan
Kalau beruntung kan bisa dapat tajil gratisan

Betul kata orang tua
Biar puasa lebih berpahala
Dari mulai sahur sampai maghrib tiba
Kita isi dengan hal yang lebih bermakna

[Back to * 2x]

Dalam pikiran cuma ngabuburit
Perut terasa makin menjerit
tanggal tua dompetpun pailit
Mudah-mudahan Ramadhan inipun gugur penyakit

Penyakit hati penyakit malas
Penyakit iri penyakit ganas
Penyakit marah penyakit parah
Penyakit khilaf begitu sudah

Yang di desa yang di kota
Yang tua atau yang muda
Yang pria atau wanita
Yang lagi di jalan
Yang lagi di kerjaan
Jangan liatin jam terus
Kalau puasa sabar lebih bagus
Nantipun kalau sudah waktunya
Maghrib pasti akan tiba
Setelah maghrib tiba
Jangan lupa berdo’a
Allahumma laka sumtu wa bika aamantu
Wa ‘alaa rizqika afthartu
Birahmatika ya arhamarrohimin Amin…

[Back to *2x]

Klo maghrib belum tiba ya sudah sabar aja…

New Category: Pesona Ramadhan!

Alhamdulillah , setelah sekian lama. Akhirnya diberi kekuatan lagi untuk melanjutkan karya di blog ini.

Memasuki hari ke 14 di bulan Ramadhan 1431H ini, saya kembali disadarkan oleh Allah melalui berbagai peristiwa untuk meningkatkan dan menambah amal-amal yang dilakukan. Khususnya dibulan Ramadhan,bulan di mana seharusnya seorang muslim memiliki semangat untuk berkarya besar, lebih besar daripada karya-karya di bulan lain. Seperti yang tentu saja dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan orang-orang shalih terdahulu.

InsyaAllah category ini akan berisi tentang tentu saja Ramadhan…”All about Ramadhan” lah pokoknya. Lalu kenapa namanya pesona Ramadhan??

Karena Segala Tentang Ramadhan adalah Mempesona.

Jadi…selamat terpesona.

.

gambar :http://akhmadguntar.com/tag/wallpaper-gratis/