Category Archives: hikmah

Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu (?)

Alhamdulillah, setelah sekitar 8 (delapan) hari aksi genocide gerombolan (negara) yahudi di tanah Gaza, Palestina, aksi tersebut diakhiri. Kejadian tersebut diakhiri dengan diadakannya gencatan senjata antara kedua belah pihak yang mengharuskan kedua pihak mengehentikan serangan satu sama lain dan juga membuka blokade barang ke sana (untuk berita lebih lengkapnya lihat tautan  http://aje.me/SSiwnM). 

Kesepakatan gencatan senjata itu, yang diperantarai Mesir, berlaku mulai pukul 21.00 waktu setempat (Kamis, 02.00 WIB) (http://bit.ly/QaPIKN). Gencatan sejata tersebut juga menandai berakhirnya pertempuran yang menyebabkan meninggalnya 162 warga Palestina.

Tetapi yang jadi pertanyaan (yang bahkan sebenarnya tidak perlu menjadi pertanyaan karena jawabannya sudah jelas, sejelas matahari di langit cerah khatulistiwa), apakah dengan gencatan senjata ini kepedulian kita yang sudah ditunjukkan dengan gencarnya dukungan yang salah satunya melalui sosial media (sayangnya bukan media) harus berhenti? Juga gelontoran dana untuk pembangunan sarana umum, juga haruskah berhenti? Apakah tautan ekspor amunisi berupa do’a kepada saudara – saudara kita juga harus mengalami “gencatan” ?

Tanpa coba menjawab pertanyaan di atas, beberapa hari yang lalu saya secara “kebetulan” menemukan sebuah karya sastra anak bangsa terkait Palestina. Tentu kita semua sudah mengenal seorang Taufiq Ismail seorang penyair angkatan 66 (kalau gak salah saya dapat istilah ini di pelajaran bahasa Indonesia dulu, mohon di koreksi kalau salah 🙂 ) yang tersohor. Salah satu karyanya yang hampir sama judulnya dengan judul tulisan di atas yaitu “Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu”  adalah karya yang baru saja saya temukan dan baca beberapa hari lalu. Melihat bahwa karya tersebut sudah dibuat sejak tahun1989 (waktu saya masih berstatus bocah ingusan, bahkan jabang bayi 🙂 )  membuat saya kembali tersadar betapa lama dan panjangnya perjuangan saudara Palestina kita. Sedangkan bantuan dana, do’a dan, apapun yang bisa dilakukan hanya ada jika serangan besar atau ada momen-momen khusus terkait negara tersebut.

.

.

Dan penyesalan diringi dengan pertanyaan pun muncul.

“Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu (?) ”

Melupakanmu, sedangkan aku hidup enak di tanah yang damai ini.

Melupakanmu bagai kita adalah bangsa yang tidak berhubungan sama sekali.

Melupakanmu dengan tak acuh akan keadaanmu.

Melupakanmu dengan berhenti mengirim do’a dan dukungan walaupun sesaat.

Berganti dengan pernyataan sumpah dan ikrar dalam diri.

Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu

Sedangkan kita adalah saudara seiman yang diikat tali aqidah.

Sedangkan perjuanganmu adalah perjuangan seluruh umat muslim di dunia.

Sedangkan perjuanganmu  dan perjuanganku memiliki satu vektor besar yang sama.

Vektor ibadah meraih ridha Allah.

.

.

Bismillah, semoga (kita) bisa tetap istiqamah dalam berjuang dan beramal.

Wallahu ‘alam

nb: Berikut saya lampirkan puisi karya Taufiq Ismail berjudul “Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu”, yang menginspirasi tulisan saya kali ini.

Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu

oleh Tufiq Ismail

Ketika     rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer 
dengan suara gemuruh menderu, serasa pasir 
dan batu bata dinding kamartidurku bertebaran 
di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan 
mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika     luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan
apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan lalu di
Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari kantor
agraria, serasa kebun kelapa dan pohon mang-
gaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas 
mereka.

Ketika     kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai
kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu-
sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening
kita semua, serasa runtuh lantai papan surau
tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an
40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan
yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini
ditetesi
air
mataku.

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Ketika     anak-anak kecil di Gaza belasan tahun  bilangan
umur mereka, menjawab laras baja dengan tim-
pukan batu cuma, lalu dipatahi pergelangan
tangan dan lengannya, siapakah yang tak 
menjerit serasa anak-anak kami Indonesia jua yang
dizalimi mereka – tapi saksikan tulang muda
mereka yang patah akan bertaut dan mengulur
kan rantai amat panjangnya, pembelit leher
lawan mereka, penyeret tubuh si zalim ke neraka.

Ketika     kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-
Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim
Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang diba-
cakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami
semua berdegup dua kali lebih gencar lalu ter-
sayat oleh sembilu bambu deritamu, darah kami
pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan
kaligrafi

‘Allahu Akbar!’
dan 
‘Bebaskan Palestina!’

Ketika    pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi
dusta, menebarkannya ke media cetak dan 
elektronika, mengoyaki tenda-tenda pengungsi
di padang pasir belantara, membangkangit reso-
lusi-resolusi majelis terhormat di dunia, mem-
bantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser
Arafat dan semua pejuang negeri anda, aku pun
berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at
sedunia: doakan kolektif dengan kuat seluruh
dan setiap pejuang yang menapak jalanNya, 
yang ditembaki dan kini dalam penjara, lalu
dengan kukuh kita bacalah
‘laquwwatta illa bi-Llah!’

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.

Sumber :  foto dan puisi

Antara Persepsi Iman dan Akal (Bag 1:Pelajaran dari 3 Ekor Lalat)

Apabila seekor lalat hinggap di tempat minum salah seorang dari kalian,hendaknya ia mencelupkan ke dalam minuman tersebut, kemudian membuangnya, karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat penawarnya. (HR. Bukhari)

“Ohh…baiklah”.

Seingat saya, kata itulah yang pertama kali muncul dalam benak pada saat pertama kali mendengar hadits tersebut.  Terkadang beberapa kali terlintas juga secara iseng dalam pikiran, “Gimana yah cara menangkap seekor lalat (untuk dicelupkan) yang kelincahannya cukup terkenal dikalangan golongan serangga tersebut, apa harus belajar kungfu dulu biar bisa nangkep pake sumpit kayak di film (hehe).” Karena memang selama pengalaman berhubungan dengan yang namanya lalat, mentok-mentok paling cuma hinggap aja di pinggiran gelas. Tidak pernah sekalipun sang lalat dengan kesadarannya sendiri terjun bebas ke dalam gelas yang berisi air minum.

Hari-hari pun berlalu dengan tidak terlalu memikirkan lagi akan hadits tersebut. Hingga pada suatu hari di kota Tanggerang, saat sedang berkunjung ke rumah pembimbing tugas akhir saya waktu berkuliah dulu. Seolah – olah Allah ingin menjawab rasa penasaran saya yang sudah memudar setelah sekian lama.  Entah kenapa tiba-tiba dengan sukarela ada tiga ekor lalat menceburkan diri dengan sukses atau bahasa gaulnya “nyemplung” ke dalam gelas yang berisi kopi hangat yang sedang saya minum. Dan berenang – renang agak meronta dengan santainya. Gak percaya? cekidot…

Kaget dan merasa jijk..tentu adalah reaksi normal bagi orang kebanyakan, apalagi dengan “cap” kotor yang sudah menempel erat pada lalat yang terkenal suka hinggap dimana saja. Dan itu pula yang saya rasakan dan pikirkan saat itu.

Membuang kopi yang sudah terkontaminasi mungkin merupakan solusi terbaik yang terpikir dan dapat dilakukan. Tetapi entah bagaimana, tiba-tiba teringat hadits yang sudah lama saya baca tersebut.  Sesaat, perang singkat pun terjadi dalam pikiran, antara membuang kopi tersebut sehingga memperkecil resiko terkena penyakit bawaan lalat, atau mencoba mengamalkan (sambil bereksperimen) hadist tersebut yang jarang – jarang ada kesempatan kayak gini.

Perang pun berakhir, dan pikiran kedua menang. Dengan sedikit ragu, satu per satu lalat yang masih berenang dengan gaya bebas (atau gaya lalat :)) tersebut saya celupkan kedalam kopi lalu saya buang. (catatan: alhamdulillah begitu dibuang lalat langsung terbang dengan bebas dan sehat wal ‘afiat, jadi buat para pejuang hak asasi lalat, tidak usah repot-repot menuntut saya :p)

Dan akhirnya dengan perasaan bercampur baur, kopi pun saya seruput hingga habis. (Kalau sahabat tidak percaya, sebenarnya ada foto buktinya tapi sengaja tidak dipublikasikan dengan alasan keselamatan kita semua..lho??) Dan hasilnya?? Tidak merasa apa – apa sih sebenarnya selain perasaan lega karena rasa penasaran berhasil terpuaskan, lega karena tidak ada gangguan kesehatan apapun setelahnya, juga lega karena insyaAllah sudah mengamalkan suatu anjuran Rasulullah saw.

Nah apa pelajaran dari kejadian (yang berkesan) gak penting dan iseng – iseng tersebut?

Setelah mencoba memikirkannya dalam – dalam, saya akhirnya mendapat suatu hipotesa yaitu terkadang dalam menghadapi konsekuensi keimanan yang salah satu bentuknya berupa kewajiban, larangan, perintah, ataupun anjuran. Kita seringkali membenturkannya dengan akal kita, sehingga konsekuensi-konsekuensi keimanan yang kita anggap tidak masuk akal (tidak logis) tidak kita amalkan bahkan kita ingkari. Tapi sadarkah kawan kalau ternyata bukannya konsekuensi (keimanan) tersebut yang tidak ‘masuk akal’ tapi akal kita yang tidak ‘masuk iman’. Bingung? Sama… dong, hehe 🙂

Contoh, misalnya yang sering kita lakukan setiap hari, gerakan shalat. Kalau ditanyakan kepada orang diluar muslim, yang sama sekali belum pernah melihat seseorang melakukan shalat, pasti mereka akan merasa aneh dan berfikir sangat tidak masuk diakal gerakan – gerakannya. Setelah sekian lama dilaksanakan oleh umat muslim, ternyata bisa dijelaskan secara logika baru-baru ini salah satu (salah satu lho..) dari hikmah gerakan shalat, yaitu saat orang ramai membicarakan hikmah dan keuntungan gerakan shalat bagi kesehatan. Walaupun begitu insyaAllah kita sebagai seorang muslim melakukannya karena logika iman kita untuk melakukannya sudah terpenuhi, yaitu karena diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah. Nah apakah dulu saat awal melakukannya sibuk mencari alasan logis yang sesuai dengan ilmiah dulu baru mau melakukannya? tentu tidak kan.

Nah kembali ke judul awal, apa sih persepsi iman dan persepsi logika itu sendiri? Persepsi dapat kita artikan secara mudah sebagai sudut pandang. Sehingga persepsi iman adalah bagaimana kita menghadapi/menyikapi suatu persoalan dari sudut pandang iman.  Begitu pula dengan persepsi akal.

Contoh penyikapan tersebut sudah coba saya ilustrasikan dengan kejadian tiga ekor lalat tersebut. Sebuah kejadian yang walaupun remeh , karena diliat dari sudut pandang iman, dapat memberikan suatu hikmah baru khususnya untuk saya pribadi.

Terus kalau ada dua persepsi tadi, iman dan akal itu bersebrangan? Lalu seberapa hebatkah logika iman itu sampai – sampai mengalahkan logika akal sehingga harus dimenangkan di atasnya??

Bersambung…

next: Antara Persepsi Iman dan Akal (Bag 2: Se-cartridge tinta melawan Samudra)

nb: pada awalnya akan saya buat judul dengan tulisan iman vs logika, ternyata setelah difikir lagi judul tersebut kurang tepat. kenapa? lihat di bagian 2 ya..:)

Bulan Ramadlan : Stasiun Besar Musafir Iman (KH Rahmat Abdullah)

Tulisan ustad yang satu ini memang selalu menjadi salah satu favorit saya. Selain gaya bahasanya yang indah walaupun terkadang (bahkan seringkali) membingungkan , makna yang terkandung di dalam penuturan tulisannya selalu sarat akan hikmah,  seolah tidak habis-habis untuk digali dan dibaca berulang-ulang. Kalau katanya kritikus makanan yang terkenal…top markotop deh…hehe. Tanpa berpanjang-lebar ,tema tulisan beliau kali ini tentang Ramadhan yang secara kebetulan saya dapatkan ketika lagi searching2 tulisan tentang Ramadhan. Semoga bermanfaat sahabat. ^^

.

Bulan Ramadlan : Stasiun Besar Musafir Iman

Oleh : Ustadz KH Rahmat Abdullah (Allahu yarham)

Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya, mencari dataran rendah, menjadi semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah minimum dari kawasan maksimum, angin pun berhembus. Edaran yang pasti pada keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer, menulis sejarah, catatan musim dan penanggalan. Semua bergerak dalam harmoni yang menakjubkan.

Ruh pun – dengan karakternya sebagai ciptaan ALLAH – menerobos kesulitan mengaktualisasikan dirinya yang klasik saat tarikan gravitasi ‘bumi jasad’ memberatkan penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala.

Kini – di bulan ini (Ramadhan)– ia jadi begitu ringan, menjelajah ‘langit ruhani’. Carilah bulan – diluar Ramadlan – saat orang dapat mengkhatamkan tilawah satu, dua, tiga sampai empat kali dalam sebulan. Carilah momentum saat orang berdiri lama di malam hari menyelesaikan sebelas atau dua puluh tiga rakaat. Carilah musim kebajikan saat orang begitu santainya melepaskan ‘ular harta’ yang membelitnya.

Inilah momen yang membuka seluas-luasnya kesempatan ruh mengeksiskan dirinya dan mendekap erat-erat fitrah dan karakternya.

Marhaban ya Syahra Ramadlan Marhaban Syahra’ Shiyami

Marhaban ya Syahra Ramadlan Marhaban Syahra’ al-Qiyami

Keqariban di Tengah Keghariban (pendekatan diri ditengah keterasingan)

Ahli zaman kini mungkin leluasa menertawakan muslim badui yang bersahaja, saat ia bertanya: “Ya Rasul ALLAH, dekatkah Tuhan kita, sehingga saya cukup berbisik saja atau jauhkah Ia sehingga saya harus berseru kepada-Nya?”

Sebagian kita telah begitu ‘canggih’ memperkatakan Tuhan. Yang lain merasa bebas ketika ‘beban-beban orang bertuhan’ telah mereka persetankan.

Bagaimana rupa hati yang Ia tiada bertahta disana? Betapa miskinnya anak-anak zaman, saat mereka saling benci dan bantai. Betapa sengsaranya mereka saat menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks, riba, suap,
syahwat, dan seterusnya. padahal mereka masih berpijak di bumi-Nya.

Betapa menyedihkan, kader yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan, padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-Nya. Betapa bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah kawasan rawan, mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun berikut, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang
seterusnya.

Semua ayat dari 183-187 surat Al-Baqarah bicara secara tekstual tentang puasa. Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara tekstual, namun sulit untuk mengeluarkannya dari inti hikmah puasa. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (katakanlah): ‘Sesungguhnya Aku ini dekat…” (Al-Baqarah:185).

Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa kekariban (kedekatan) ini? Mereka jadi pandai tampil dengan wajah tanpa dosa didepan publik, padahal beberapa menit sebelum atau sesudah tampilan ini mereka menjadi drakula dan vampir yang haus darah, bukan lagi menjadi nyamuk yang zuhud. Mereka menjadi lalat yang
terjun langsung ke bangkai-bangkai, menjadi babi rakus yang tak bermalu, atau kera, tukang tiru yang rakus.

Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antar mereka? Bakar rumah, tebang pohon bermil-mil, hancurkan hutan demi kepentingan pribadi dan keluarga, tawuran antar warga atau anggota lembaga tinggi negara, bisniskan hukum,
jual bangsa kepada bangsa asing dan rentenir dunia. Berjuta pil pembunuh mengisi kekosongan hati ini. Berapa lagi bayi lahir tanpa status bapak yang syar’i? Berapa lagi rakyat yang menjadi keledai tunggangan para politisi
bandit? Berapa banyak lagi ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hati tetap membatu? Berapa banyak kurban berjatuhan sementara sesama saudara saling tidak peduli?

Nuzul Qur’an di Hira, Nuzul di Hati

Ketika pertama kali Alqur’an diturunkan, ia telah menjadi petunjuk untuk seluruh manusia. Ia menjadi petunjuk yang sesungguhnya bagi mereka yang menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ia benar-benar
berguna bagi kaum beriman dan menjadi kerugian bagi kaum yang zalim. Kelak saatnya orang menyalahkan rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu kehidupan menjadi kacau. Ada juga orang berfikir, malam qadar itu selesai sudah, karena ALLAH menyatakannya dengan Anzalnahu (kami telah menurunkannya), tanpa melihat tajam-tajam pada katatanazzalu’l Malaikatu wa’l Ruhu (pada malam itu turun menurunlah Malaikat dan Ruh), dengan kata kerja permanen.

Bila malam adalah malam, saat matahari terbenam, siapa warga negeri yang tak menemukan malam; kafirnya dan mukminnya, fasiqnya dan shalihnya, munafiqnya dan shiddiqnya, Yahudinya dan Nasraninya? Jadi apakah malam itu malam fisika yang meliput semua orang di kawasan?

Jadi ketika Ramadlan di gua Hira itu malamnya disebut malam qadar, saat turun sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga, maka betapa bahagianya setiap mukmin yang sadar dengan Nuzulnya Alqur’an di hati pada malam qadarnya masing-masing, saat jiwa menemukan jati dirinya yang selalu merindu dan mencari sang Pencipta. Yang tetap terbelenggu selama hayat dikandung badan, seperti badan pun tak dapat melampiaskan kesenangannya, karena selalu ada keterbatasan bagi setiap kesenangan. Batas makanan dan minuman yang lezat adalah kterbatasan perut dan segala yang lahir dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah menghilangnya kegembiraan di puncak
kesenangan. Batas nikmatnya dunia ialah ketika ajal tiba-tiba menemukan rambu-rambu:Stop!

Alqur’an dulu, baru yang lain

Bacalah Alqur’an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah dan perkaya wawasan dengan sirah, niscaya Islam itu terasa ni’mat, harmoni, mudah, lapang dan serasi. Alqur’an membentuk frame berfikir. Alqur’an
mainstream perjuangan. Nilai-nilainya menjadi tolok ukur keadilan, kewajaran dan kesesuaian dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penguasaan outline-nya menghindarkan pandangan parsial juz-i. Penda’wahannya dengan kelengkapan sunnah yang sederhana, menyentuh dan aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam, menjauhkan perselisihan dan menghemat energi ummat.

Betapa da’wah Alqur’an dengan madrasah tahsin, tahfiz dan tafhimnya telah membangkitkan kembali semangat keislaman, bahkan di jantung tempat kelahirannya sendiri. Ahlinya selalu menjadi pelopor jihad di garis depan,
jauh sejak awal sejarah ummat ini bermula. Bila Rasulullah meminta orang menurunkan jenazah dimintanya yang paling banyak penguasaan Qur’annya. Bila menyusun komposisi pasukan, diletakkannya pasukan yang lebih banyak
hafalannya. Bahkan di masa awal sekali, ‘unjuk rasa’ pertama digelar dengan pertanyaan ‘Siapa yang berani membacakan surat Arrahman di Ka’bah?’. Dan Ibnu Mas’ud tampil dengan berani dan tak menyesal atau jera walaupun pingsan dipukuli musyrikin kota Makkah.

Puasa: Da’wah, tarbiah, jihad dan disiplin

Orang yang tertempa makan (sahur) di saat enaknya orang tertidur lelap atau berdiri lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadlan setelah siangnya berlapar-haus, atau menahan semua pembatal lahir-batin, sudah sepantasnya mampu mengatasi masalah-masalah da’wah dan kehidupannya, tanpa keluhan, keputusasaan atau kepanikan. Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan di tengah badai takkan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air di akhir malam, lapar dan haus di terik siang.

Mereka terbiasa memburu dan menunggu target perjuangan, jauh sampai ke akhirat negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang melebihi kepastian fajar menyingsing. Namun bagaimana mungkin bisa mengajar orang lain, orang yang tak mampu memahami ajarannya sendiri? “Faqidu’s Syai’ la Yu’thihi” (Yang tak punya apa-apa tak akan mampu memberi apa-apa).

Wahyu pertama turun di bulan Ramadlan, pertempuran dan mubadarah (inisiatif) awal di Badar juga di bulan Ramadlan dan Futuh (kemenangan) juga di bulan Ramadlan. Ini menjadi inspirasi betapa madrasah Ramadlan telah memproduk begitu banyak alumni unggulan yang izzah-nya membentang dari masyriq ke maghrib zaman.

Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits, mulut mereka juga menggetarkan kalimat yang sama. Adapun hati dan bukti, itu soal besar yg menunggu jawaban serius.

.

sumber

tulisan:http://www.al-ikhwan.net/bulan-ramadlan-stasiun-besar-musafir-iman-2965/

gambar: railfanskulonrailwaysblogspot.com

Shaum Ayyamul Bidh yuk (hadits, keutamaan, dan hikmah)

Sahabat, tidak terasa kita sudah memasuki tengah bulan pada bulan hijriah. Bulan pun bersinar dengan terangnya dan tak lagi malu – malu menampakkan wajahnya. Bagi sebagian orang, mungkin menganggap fenomena ini adalah fenomena alam biasa dan harinya pun dilalui dengan biasa-biasa saja.  Untuk seorang peneliti fenomena pasut (pasang – surut) air laut, mungkin fenomena ini adalah salah satu dari sekian  fenomena yang akan mempengaruhi hasil penelitiannya (sekadar info, bahwa pengamatan untuk  penelitian dan pemodelan pasut air laut biasanya memakan waktu berhari – hari, bahkan bertahun – tahun lamanya).

Tapi lain halnya dengan seorang muslim, hari tersebut menjadi suatu hari yang istimewa dimana ia telah diberikan kesempatan untuk bertemu dengan suatu amal ibadah yang mendapakan tempat istimewa, dan melaksanakannya dengan sepenuh hati. Apa itu? Shaum Ayyamul bidh (terjemahan kasar: puasa hari putih/terang ).

Apa sih istimewanya?

Kenapa puasa ini begitu istimewa? Ada beberapa Alasan mengapa puasa ini terasa begitu istimewa ,antara lain:

Bahwa puasa ini memiliki ganjaran yang sangat besar di sisi Allah, sudah tentu kita sebagai umat muslim akan rugi jika melewatkannya.

Dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Puasalah tiga hari dari setiap bulan. Sesungguhnya amal kebajikan itu ganjarannya sepuluh kali lipat, seolah ia seperti berpuasa sepanjang masa.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan an Nasai)

Puasa ini juga puasa yang selalu dilakukan (sunah muakkad) oleh teladan terbaik kita Rasulullah Muhammad Saw, dan beliau juga mewasiatkannya kepada para sahabatnya juga umatnya:

Abu Hurairah ra. Berkata, “Teman dekatku (Nabi Muhammad saw.) berpesan tiga hal kepadaku: berpuasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.” (Muttafaq ‘alaih)

Ibnu Abbas ra. berkata, “Rasulullah saw. tidak pernah berbuka (tidak berpuasa) pada Ayyamul-Bidh, baik di rumah maupun sedang bepergian.” (h.r. Nasa’i. Sanad hadits ini hasan)

Luar biasa? pastinya…jadi tunggu apa lagi, pasang reminder di HP dan niatkan untuk melakukan puasa ini setiap bulannya.

Kapan, nih?

Terus gimana kalau terlewat atau lupa, atau hari tersebut jatuh pada hari dimana tidak diperbolehkan puasa misalnya…dan apakah harus di tiga hari tersebut?

Mu’adzah Al-Adawiyyah menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah ra., “Apakah Rasulullah saw. berpuasa tiga hari setiap bulan?” Aisyah menjawab, “Ya.” Saya bertanya, “Dari bagian bulan mana beliau berpuasa?” Aisyah menjawab, “beliau tidak peduli dari bagian mana beliau berpuasa.” (h.r. Muslim)

Imam Nawawi berpendapat bahwa tidak ada pengkhususan di hari berapa puasa sunah 3 hari setiap bulannya. Dan Yusuf Qardhawi dalam fiqh puasa juga berpendapat bahwa perbedaan hadits dalam menetapkan hari- hari puasa menunjukkan adanya toleransi. Setiap muslim boleh saja berpuasa di awal bulan, tengah bulan, atau akhir bulan, sesuai dengan kemudahan dan kesempatan yang ia miliki. Tapi kembali kata imam Nawawi, dalam hadits lain dijelaskan bahwa yang paling utamaadalah di harike -13, 14, dan 15 , seprti  dalam hadist:

Wahai Abu Dzarr, jika engkau ingin berpuasa tiga hari dari salah satu bulan, maka berpuasalah pada hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas.” (HR. At Tirmidzi)

Nah , gak bingung lagi kan? pastinya…jadi tunggu apa lagi, pasang reminder di HP dan niatkan untuk melakukan puasa ini setiap bulannya.

Hikmah

Wah kalau kita berbicara tentang hikmah pasti akan sangat banyak sekali hikmahnya. Apalagi suatu amalan yang memiliki ganjaran dan keistimewaan seperti ini. Gak akan sampai rasanya pikiran kita untuk melihat hikmahnya satu-persatu.

Salah satu hikmahnya adalah datang dari penelitian fenomenal seorang Psikolog dari Amerika Serikat bernama Arnold Lieber pada tahun 70-an. Bahwa perilaku manusia pada saat bulan purnama akan berubah menjadi  lebih buruk daripada biasanya. Terlepas dari segala kontroversi dan benar atau tidaknya penelitian tersebut. (kalau saya tidak salah baca di sini dan di sini sih masih diperdebatkan  kebenaran dan keabsahan penelitian itu).  Ketika ilmu sains modern mengungkapkan adanya kelabilan emosi manusia saat bulan purnama, Islam telah menganjurkan untuk melaksanakan puasa tepat saat munculnya sang bulan purnama. Islam telah memberi jalan pada umatnya agar tidak terkena pengaruh kelabilan emosi yang terjadi pada tanggal tersebut. Rasulullah menganjurkan kita berpuasa, agar hati kita selalu terjaga dari amarah, nafsu, dan segala sifat buruk lain yang cendrung lebih meluap pada saat itu dibanding saat-saat lainnya. Dengan kata lain Puasa yang umat muslim kenal sebagai pengendali hawa nafsu dan syahwat ini, seakan ditempatkan begitu pas pada saat potensi berbuat keburukan sedang dalam potensi tertingginya.Kebetulan? Pastinya enggak dong.

Luar biasa? pastinya…jadi tunggu apa lagi, pasang reminder di HP dan niatkan untuk melakukan puasa ini setiap bulannya. (haha…pasti bosen sama reminder ini, tenang…kesalah bukan pada mata anda.., emang sengaja kok)

Semoga bermanfaat dan bisa menjadi motivasi kita dalam beramal..Amiin.

Wallahu A’lam Bishawab.

.

Sumber:
-Buku Fiqh Puasa-Ust Yusuf Qardhawi
-Syarah Riyadushshalihin – Imam Nawawi
http://www.associatedcontent.com/article/612189/does_a_full_moon_influence_human_behavior.html?cat=58
http://abcnews.go.com/TheLaw/bad-moon-rising-myth-full-moon/story?id=3426758&page=3
http://nandahanyfa.blogspot.com/2010/03/rahasia-ayyamul-bidh.html

Ketika Rajab Menyapa

Allahumma bariklana fii Rajaba wa Sya’ban wa balighna Ramadhan 

Itulah bunyi dari suatu SMS yang dikirim oleh seorang sahabat kepada saya. Selang beberapa saat SMS lain dengan bunyi serupa, hadir secara tiba-tiba dan serentak di ponsel saya beberapa hari yang lalu.

yang artinya kurang lebih:

Ya Allah berkahi kami di Bulan Rajab dan Sya;ban dn sampaikan usia kami hingga Ramadhan

Memang ada perbedaan pendapat tentang keshahihan doa ini. Tapi kalau saya pribadi memilih untuk tidak ambil pusing dan mengambil hikmahnya saja. Bahwa Bulan Rajab sudah datang dan menyapa tanpa ragu, bertanda Ramadhan sudah dekat.

Sudah siapkah kita untuk menyambutnya dengan sebaik-baiknya?

Dan dengan segala keutamaan yang ada, sebesar apakah harapan kita untuk bertemu dengannya?

Oleh karena itu sahabat, yuk kita meminta kepada Allah..untuk mempersiapkan diri kita dan menyampaikan diri kita kepada Ramadhan kedepan.

Amiin..

🙂

Perjalanan seorang sahabat dalam mencari kebenaran.Part 2: “Aku seorang muslim merdeka”

.

Sambungan dari postingan sebelumnya:  Perjalanan seorang sahabat dalam mencari kebenaran. Part:1 (dari seorang mulia hingga budak).

.

…Mulai saat itu aku tinggal bersama orang yang membeliku, hingga pada suatu hari datang seorang Yahudi Bani Quraidhah yang membeliku dari majikanku saat ini. Lalu aku dibawa ke Madinah. Demi Allah, sejak pertama melihat negeri ini, aku yakin negeri inilah yang dimaksud.

Aku tinggal bersama Yahudi itu dan bekerja di kebun kurma miliknya. Hingga Allah mengutus Rasul-Nya. Hingga dia datang ke Madinah, dan singgah di Quba, di bani Amru bin Auf.

Suatu hari aku berada di atas pohon kurma dan majikanku berada di bawah , sepupu majikanku datang dengan kabar , “Celakalah bani Qailah. Mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di Quba. Dia datang dari Mekah dan mengaku sebagai Nabi.”

Demi Allah, ketika mendengar berita itu , tubuhku gemetar keras hingga pohon kurma itu seakan berguncang dan hampir saja tubuhku jatuh menimpa majikanku. Aku segera turun dan berkata kepada orang tadi , “Apa yang tuan katakan ? Ada berita apa?”

Majikanku mengangkat tangannya dan memukulku dengan keras. Ia membentak, “Apa urusanmu dengan masalah ini. Sana, kembali bekerja. “Maka aku pun kembali bekerja.”

Setelah mulai petang, aku berangkat ke Quba dengan membawa sedikit makanan. Aku menemui Rasulullah yang saat itu bersama beberapa sahabatnya. Aku berkata, “Tuan-tuan adalah perantau yang membutuhkan bantua. Saya punya makanan yang saya siapkan untuk sedekah. Setelah mendengar keadaan tuan-tuan,  saya pikir tuan-tuan lebih berhak menerimanya.” Lalu makanan itu kutaruh di dekat mereka.

Rasulullah berkata kepada para sahabatnya, “Makanlah dengan menyebut nama Allah.” Sedangkan beliau sendiri tidak ikut makan.

Aku berkata dalam hati. “Demi Allah, ini suatu tanda yang disebutkan.Dia tidak memakan sedekah.” Lalu aku pulang.

Keesokan harinya aku kembali menemui Rasulullah dengan membawa makanan. Aku berkata kepadanya, “Aku melihat tuan tidak makan sedekah. Aku mempunyai makanan yang kuberikan sebagai hadiah untuk tuan.” Dan, Makanan itu kutaruh di dekatnya.

Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya, “Makanlahdengan menyebut nama Allah.” Beliaupun makan bersama mereka.

Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, ini tanda kedua. Dia mau memakan hadiah.” Lalu aku pulang.

Beberapa hari kemudian, aku kembali menemui rasulullah yang saat itu berada di pemakaman Baqi’ , sedang mengiringkan jenazah. Beliau bersama para sahabatnya. Beliau mengenakan dua lembar kain lebar. Satu dipakainya untuk sarung dan satu lagi sebagai baju.

Aku mengucapkan sala kepadanya, lalu aku menoleh ke arah punggung atasnya. Rupanya beliau mengerti maksudku. Maka beliau menyingkapkan kain burdah dari pundaknya, hingga tanda yang kucari terlihat di antara dua pundaknya. Tanda kenabian seperti yang disebutkan oleh si pendeta.

Melihat itu, aku merangkul dan menciumnya sambil menangis.

Lalu aku dipanggil menghadap Rasulullah. Aku duduk di hadapannya. Kuceritakan kisahku kepadanya seperti yang kuceritakan kepada kalian saat ini.

Lalu aku masuk islam. Saat terjadi perang Badar dan Uhud, aku tidak bisaikut karena statusku masih menjadi budak belian.

Suatu hari , Rasulullah memerintahkan kepadaku, “Mintalah kepada tuanmu agar ia bersedia membebaskanmu dengan uang tebusan.” Maka aku meminta kepada majikanku sbagaimana diperintahkan Rasulullah. Rasulullah juga menyuruh para sahabat untuk membantuku soal keuangan. Akhirnya aku terbebas dari perbudakan. Aku seorang muslim merdeka. Setelah itu aku ikut dalam perang Khandaq dan peristiwa – peristiwa penting lainnya.

.

Alhamdulillah…

Dengan perjuangan yang seperti itu , tidak heran sahabat tersebut menjadi salah seorang sahabat yang memiliki kontribusi yang tidak sedikit dalam perkembangan dakwah islam. Bahkan dalam perang pertamanya beliaulah salah satu orang yang sangat berjasa memberikan masukan strategi, yang belum pernah dikenal di Arab pada saat itu. Yaitu dengan membuat parit di sekeliling kota, sehingga perang tersebut diabadikan namanya menjadi perang Khandaq (parit). Siapakah beliau…dialah Salman Al-Farisi.

.

Sumber:  dimodifikasi dari “60 sirah sahabat Rasulullah saw”-khalid muhammad khalid

Sejauh Mana Kadar Kemuliaan Kita

Kemuliaan dan fitrah manusia

Sudah menjadi fitrah manusia untuk menjadikan dirinya seorang manusia yang mulia. Kata mulia sendiri jika kita lihat dalam KBBI(kamus besar bahasa indonesia-red) berarti tinggi kedudukan, pangkat ,atau  martabatnya, atau bisa juga tertinggi maupun terhormat. Dengan menjadi mulia seorang manusia akan dihargai dan mendapatkan kedudukan yang terhormat. Dalam “Hierarki kebutuhan Maslow” yang cukup terkenal dalam bidang psikologi, juga disebutkan bahwa kebutuhan untuk dihargai atau esteem needs adalah kebutuhan yang dimilki oleh setiap orang.

Jika kita lihat realita yang terjadi sekarang, banyak sekali fenomena yang terjadi di masyarakat dalam hal mencari kemuliaan ini. Khususnya mencari kemuliaan dimata manusia. Banyak cara mereka lakukan untuk mendapat kemuliaan, bahkan hingga menggunakan berbagai macam cara. Mulai dari membeli ijazah agar terlihat sebagai orang pintar, mengeluarkan uang yang tidak sedikit dan menggunakan berbagai cara yang kotor untuk mendapatkan jabatan, melakukan hal yang tidak baik untuk mendapatkan poularitas semata, dan lain-lain.

Lalu , apakah islam melarang kita mencari kemuliaan? Tentu sebagai dien yang mulia dan fitrah (yang sangat sesuai degan fitrah manusia, karena diturunkan langsung oleh Sang Pencipta manusia itu sendiri), islam sangat mengerti betul kebutuhan manusia yang satu ini. Lalu bagai mana islam memandang kemuliaan?

Kemuliaan sejati adalah kemuliaan di mata Allah

Dari Sulaiman bin Yasar, dia berkata: Suatu saat, ketika orang-orang mulai bubar meninggalkan majelis Abu Hurairah –radhiyallahu’anhu-, maka Natil berkata kepadanya, “Wahai Syaikh, tuturkanlah kepada kami suatu hadits yang pernah anda dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Abu Hurairah menjawab, “Baiklah. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah: Seorang lelaki yang telah berjuang demi mencari mati syahid. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya,“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku menemui mati syahid.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu berperang agar disebut-sebut sebagai pemberani, dan sebutan itu telah kamu peroleh di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.

Seorang lelaki yang menimba ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca/menghafal al-Qur’an. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku menimba ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca/menghafal al-Qur’an di jalan-Mu.” Allah menimpali jawabannya,“Kamu dusta. Sebenarnya kamu menimba ilmu agar disebut-sebut sebagai orang alim, dan kamu membaca al-Qur’an agar disebut sebagai qari’. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.

Seorang lelaki yang diberi kelapangan oleh Allah serta mendapatkan karunia berupa segala macam bentuk harta. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Tidak ada satupun kesempatan yang Engkau cintai agar hamba-Mu berinfak padanya melainkan aku telah berinfak padanya untuk mencari ridha-Mu.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sesungguhnya kamu berinfak hanya demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang dermawan. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.”

(HR. Muslim [1903], lihat Syarh Muslim [6/529-530])

Dari hadist yang cukup terkenal tersebut, dapat kita lihat bahwa bagi kita seorang muslim, kemuliaan dan penghargaan di mata manusia dapat saja bernilai kecil bahkan nol di hadapan Allah. Sudah barang tentu kita ingin dan bahkan lebih baik jika kita  menjadi mulia dimanapun kita berada dan dihadapan siapapun. Tetapi jika kita merujuk dari salah satu  hikmah yang bisa diambil dari hadits di atas adalah, kemuliaan kita di hadapan Allah adalah lebih kita prioritaskan dibading kemuliaan dihadapan siapapun.

Dapatkan kemuliaan itu 

Mendapatkan kemuliaan (di hadapan Allah) bukan perkara yang sulit sebenarnya, tetapi juga bukan perkara yang gampang. Karena Allah sudah banyak memberikan kita petunjuk , baik itu dari Al-Qur’an , Hadits, maupun hikmah dari para ulama. Dapat menjadi sulit karena banyak halangan dan kekurangan kita sebagai manusia yang itu dapat menghambatnya, seperti, keodohan, kesombongan, dll. Ada banyak jalan kemuliaan yang Allah tunjukkan kepada kita, salah satunya adalah:

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Yap, kebermanfaatan. Islam memberikan konsep yang sangat berbeda dengan hawa nafsu kita kebanyakan, yang menilai kemuliaan dari harta dan jabatan. Dimana orang yang mulia adalah orang yang mempunyai kebermanfaatan untuk sekitar dimanapun ia berada.

Juga

“Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang menzhalimimu, memberi orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu.” (H.R. Baihaqi).

Tidak jarang orang beranggapan bahwa orang yang minta maaf atau memaafkan itu hina, dan statusnya lebih rendah. Tapi islam berkata lain, dengan meminta maaf dan memaafkan ternyata memang kita menjadi orang yang  jauh lebih mulia. Lalu banyak cara-cara lainnya dalam memperoleh kemuliaan yang akan terlalu banyak jika disebutkan satu-satu.

Mengukur Kadar Kemuliaan kita

Setelah mengetahui apa pentingnya dan hakikat kemuliaan itu sendiri, tentu kita ingin tahu semulia apa kedudukan kita disisi Allah , ternyata dengan sangat indah Allah memberitahu kita melalui baginda Rasulullah saw, tentang hal itu:

Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah hendaklah dia mengamati bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya. Sesungguhnya Allah menempatkan hambaNya dalam kedudukan sebagaimana dia menempatkan kedudukan Allah pada dirinya. (HR. Al Hakim)

Sebagaimana kedudukan Allah didalam diri kita , seperti itu pulalah Allah menempatkan kita di sisi-Nya. Mari kita sama-sama introspeksi diri seperti apa keadaannya sekarang? Apakah panggilan-Nya untuk shalat tepat waktu sering kita abaikan. Apakah Qalam-Nya yang agung yaitu Al-Qur’an sering kita abaikan (tidak dibaca, ditaddaburi , dihafalkan, maupun diamalkan) , juga bila diperdengarkan kepada kita tidak membekas apapun pada diri kita?

Sudah terlalu banyak sepertinya jika kita ingat – ingat hal yang membuktikan bahwa kedudukan Allah dalam diri kita tidak setinggi harapan akan kedudukan kita di sisi-Nya. Jadi tunggu apa lagi, raih kemuliaan dan kita pertanyakan lagi pada diri kita sejauh mana kadar kemuliaan kita di sisi Allah.

Wallahu a’lam.

Perjalanan seorang sahabat dalam mencari kebenaran. Part:1 (dari seorang mulia hingga budak)

deset dunes (beijinghikers.com)

Disuatu hari, dibawah pohon rindang di kota Madinah. Terdapat seorang sahabat Rasulullah yang mulia. Tampak terlihat ia sedang berada di dalam suatu majelis bersama rekan – rekannya. Di sana ia menceritakan kepada rekan – rekannya, perjuangan berat yang ia alami demi mencari kebenaran.

Mari sejenak kita mendekat ke dalam majelis ilmu dan hikmah tersebut untuk mendengarkan lalu menyimak dengan seksama penuturan beliau.

“Aku berasal dari wilayah Ishafan , dari desa Ji, ayahku seorang kepala wilayah. Aku adalah orang yang paling disayanginya. Aku membaktikan diri dalam agama Majusi. Aku bertugas sebagai penjaga api peribadatan agar tetap menyala.

Ayahku memiliki sebidang tanah. Suatu hari aku disuruhnya kesana. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, aku melewati sebuah gereja. Kudengar mereka sedang sembahyang, maka aku masuk untuk melihat apa yang mereka lakukan. Aku kagum melihat cara mereka sembahyang. Aku berkata dalam hati , “ini lebih baik dari agama Majusi yang kuanut selama ini.”

Aku berada di gereja itu sampai matahari terbenam. Aku tidak ke ladang ayahku dan juga tidak pulang, hingga ayah mengirim oarng untuk menyusulku.

Karena agama mereka menarik perhatianku, kutanya kepada orang-orang Kristen itu, dari mana asal-usul agama mereka. Mereka menjawab, “Dari negeri Syam.”

Ketika pulang kuceritakan pada ayah, “Aku melewati suatu kaum yang sedang sembahyang di gereja. Aku tertarik dengan cara sembahyang mereka. Menurutku , agama mereka lebih baik dari agama kita.”

Terjadi dialog antara kami. Ayah marah. Aku dirantai dan dikurung.

Aku kirim kabar kepada orang – orang kristen bahwa aku telah menganut agama mereka. Aku meminta kepada mereka untuk mengabariku jika ada rombongan dari Syam yang datang. Aku akan ikut mereka saat pulang ke Syam. Permintaanku itu mereka kabulkan. Aku putuskan ikatanku lalu keluar dari kurungan dan bergabung dengan rombongan itu menuju Syam.

Sesampainya disana , aku bertanya tentang ahli agama mereka. Mereka menjawab, “Uskup pemilik gereja.” Maka aku menemuinya, meneritakan keadaanku. Aku tinggal bersamanya, menjadi pelayan gereja, sembahyang dan belajar. Sayang , uskup ini orangyang tidak baik. Ia mengumpulkan sedekah dari warga yang semstinya dibagikan, namu ia simpan untuk kepentingan pribadinya.

Kemudian, uskup itu meninggal dunia. Mereka mengangkat orang lain sebagai penggantinya. Uskup baru ini saat taat beragama . Aku belum menjumpai orang lain yang  lebih zuhud dan lebih rajin beribadah darinya.

Aku sangat menghormatinya, melebihi yang lain. Saat ia akan meninggal dunia, aku bertanya kepadanya, “Anda tahu bahwa kematian akan menjemput anda. Apa yang harus kuperbuat? Kepada siapa aku harus berguru?”

“Anakku, hanya ada satu orang yang sepertiku. Dia tinggal di Mosul.”

Setelah ia wafat, aku berangkat ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkannya. Kuceritakan apa yang terjadi. Aku tinggal bersamanya cukup lama, hingga ia meninggal dunia. Sebelum ia meninggal , aku bertanya kepadanya. Dia menunjukkanku kepada seorang ahli ibadah di Nasibin. Aku datang kepadanya dan kuceritakan keadaanku. Aku tinggal bersamanya cukup lama , hingga ia meninggal dunia. Sebelum ia meninggal dunia , aku bertanya kepadanya. Aku disuruh berguru kepada sesorang lelaki di Amuria, Romawi. Aku berangkat ke sana dan tinggal bersamanya. Untuk memenuhi kebutuhanku , aku berternak sapi dan kambing.

Ketika dia akan meninggal dunia, aku memintannya menunjukkanku orangyang harus kuikuti. Dia berkata, “Anakku, aku tidak menyuruhmu datang ke siapa pun. Saat ini sudah diutus seorang Nabi yang membawa risalah Nabi Ibrahim. Dia akan hijrah ke satu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak diantara dua bebatuan hitam. Jika kau bisa pergi ke sana, lakukanlah. Dia mempunyai tanda-tanda yang jelas. Dia tidak menerima sedekah, tapi menerima hadiah. Dipundaknya ada tanda kenabian. Jika kamu melihatnya, kamu pasti mengenalnya.”

Suatu hari, ada rombongn lewat. Kutanyakan asal – usul mereka. Merka dari jazirah Arab. Maka aku berkata kepada mereka, “Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, dan sebagai imbalannya kuberikan kepada kaliansapi-sapi dan kambing-kambingku ini?”

“Baiklah,” kata mereka.

Aku ikut bersama rombongan itu. Ketika Sampai di daerah Wadil Qura, mereka berkhianat. Aku dijual ke seorang Yahudi. Aku melewati daerah yang penuh dengan pohon kurma. Aku mengira tempat itulah yang dimaksud oleh pendeta. Tempat yangakan dijadikan tujuan hijrah Nabi. Tapi ternyata bukan… (Bersambung ke Part 2: Aku seorang muslim merdeka)

.

Siapakah beliau? karena ceritanya cukup terkanal, sepertinya banyak sahabat yang bisa menebak. Yang belum..tunggu part selanjutnya dari kisah sarat hikmah ini.

.

Sumber:  dimodifikasi dari “60 sirah sahabat Rasulullah saw”-khalid muhammad khalid

Syair: Sang Pencari Cahaya

Sang Pencari Cahaya

by: APandiN

.

Digulitanya gelap

Seorang diri, tanpa daya kucari cahaya

Dibenderangya terang

Seorang diri, tanpa sadar kucari cahaya

.

Tiap kita butuh hangatnya cahaya

Tiap kita butuh semangatnya cahaya

Tiap kita butuh tampaknya cahaya

.

Cahaya…

adalah kehidupan

adalah kebaikan

adalah petunjuk

.

Cahaya…

adalah kebenaran

adalah keadilan

adalah penjaga

.

Cahaya…

adalah kekuatan

adalah kesejahteraan

adalah pemberi harapan

.

Walau ia ada

Walau ia selalu disisi

Walau ia sejatinya tak pernah berhenti bersinar

Entah kenapa selalu kucari

.

Apakah mataku buta?

Ataukah hatiku yang buta?

.

Buta karena lumuran dosa yang tak bertepi?

Buta karena sang pemilik cahaya tak kunjung di hati?

Buta karena sombong dan bodoh diri?

.

Entahlah…

Hanya Dia dan mungkin aku yang tau

.

Wahai Sang Pemilik cahaya

Bimbinglah diri ini

Izinkanlah diri ini

Untuk melihat cahaya

.

Selamanya…

Isi SKB 3 Menteri, Ahmadiyah, Masalah, dan Solusi.

Seakan kembali mengorek luka lama,dalam beberapa minggu ini kembali mencuat kasus yang jika kita ingat sudah lama sekali terjadi. Bahkan sebelum saya lahir. Yap, kasus Ahmadiyah.

Dengan maraknya pemberitaan dimedia beberapa minggu terakhir, akhirnya kembali rasa penasaran saya tergelitik. Apa sih sebenarnya isi dari SKB tiga menteri yang diterbitkan tiga tahun silam itu. Yang dengannya seakan kasus ini dianggap beres oleh pemerintah dan masyarakat pada umumnya saat itu, yang dulu sebenarnya saya tidak terlalu peduli sehingga baru kali ini saya mencari tahu.

Setelah sedikit searching , akhirnya isi SKB yang disahkan tanggal 9 Juni 2008   yang ditandatangani oleh Jaksa Agung Hendarman Supandji, Mendagri Mardiyanto dan Menteri Agama Maftuh Basyuni. Yang ketiganyapun menghadiri pengumuman SKB tersebut saya dapatkan.  Ternyata SKB tersebut memiliki 6 poin didalamnya, yaitu:

1. Memberi peringatan dan memerintahkan untuk semua warga negara untuk tidak menceritakan, menafsirkan suatu agama di Indonesia yang menyimpang sesuai UU No 1 PNPS 1965 tentang pencegahan penodaan agama.

2. Memberi peringatan dan memerintahkan bagi seluruh penganut, pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) sepanjang menganut agama Islam agar menghentikan semua kegiatan yang tidak sesuai dengan penafsiran Agama Islam pada umumnya. Seperti pengakuaan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW.

3. Memberi peringatan dan memerintahkan kepada anggota atau pengurus JAI yang tidak mengindahkan peringatan tersebut dapat dikenani saksi sesuai peraturan perundangan.

4. Memberi peringatan dan memerintahkan semua warga negara menjaga dan memelihara kehidupan umat beragama dan tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap penganut JAI.

5. Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah dapat dikenakan sanksi sesuai perundangan yang berlaku.

6. Memerintahkan aparat pemerintah dan pemerintah daerah agar melakukan langkah-langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksanaan keputusan bersama ini.

Demikian kurang lebih isi dalam SKB tersebut. Jika kita lihat lebih seksama untuk mensukseskan SKB itu harus didukung dan dilakukan oleh tiga pihak. Pihak pertama adalah Pemerintah , Masyarakat, dan Jamaah Ahmadiyah itu sendiri.  Tapi kembali muncul pertanyaan, apakah SKB ini sudah cukup menjadi solusi atas permasalahan ini?

Oleh karena itu untuk kedepannya, pemerintah diharapkan seperti yang juga diharapkan semua pihak, lebih tegas lagi dalam menegakkan hukum,  Dan bertindak tegas terhadap jemaat Ahmadiyah. Yang jelas – jelas sudah dinyatakan sesat oleh umat islam secara nasional (MUI) bahkan internasional.

Lalu untuk masyarakat, diharapkan untuk selalu menahan diri dan bersikap sesuai dengan proporsinya. Jangan berlebihan. Dan untuk Ahmadiyah, selama mengakui Mirza Gulam A. sebagai nabi, maka tidak ada opsi lain selain mendirikan agama baru seperti yang dikatakan para ulama yang ditulis disini.

Sehingga ahmadiyah dapat melaksanakan ajarannya dengan tenang , dan umat muslim pun tidak merasa dilecehkan dengan ajaran tersebut. Karena sejatinya ajaran islam adalah ajaran yang jauh dari anarkisme, yaitu ajaran yang ditujukan untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin (rahmat semesta alam) , jangankan manusia yang berbeda keyakinan , lah wong bahkan hewan,tumbuhan, lalu alam aja seharusnya gak dizhalimi kok sama orang muslim. Apalagi manusia yang derajatnya lebih tinggi.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS 21:107)

wallahu a’lam.

dari berbagai sumber