Category Archives: Dakwah

Bulan Ramadlan : Stasiun Besar Musafir Iman (KH Rahmat Abdullah)

Tulisan ustad yang satu ini memang selalu menjadi salah satu favorit saya. Selain gaya bahasanya yang indah walaupun terkadang (bahkan seringkali) membingungkan , makna yang terkandung di dalam penuturan tulisannya selalu sarat akan hikmah,  seolah tidak habis-habis untuk digali dan dibaca berulang-ulang. Kalau katanya kritikus makanan yang terkenal…top markotop deh…hehe. Tanpa berpanjang-lebar ,tema tulisan beliau kali ini tentang Ramadhan yang secara kebetulan saya dapatkan ketika lagi searching2 tulisan tentang Ramadhan. Semoga bermanfaat sahabat. ^^

.

Bulan Ramadlan : Stasiun Besar Musafir Iman

Oleh : Ustadz KH Rahmat Abdullah (Allahu yarham)

Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya, mencari dataran rendah, menjadi semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah minimum dari kawasan maksimum, angin pun berhembus. Edaran yang pasti pada keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer, menulis sejarah, catatan musim dan penanggalan. Semua bergerak dalam harmoni yang menakjubkan.

Ruh pun – dengan karakternya sebagai ciptaan ALLAH – menerobos kesulitan mengaktualisasikan dirinya yang klasik saat tarikan gravitasi ‘bumi jasad’ memberatkan penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala.

Kini – di bulan ini (Ramadhan)– ia jadi begitu ringan, menjelajah ‘langit ruhani’. Carilah bulan – diluar Ramadlan – saat orang dapat mengkhatamkan tilawah satu, dua, tiga sampai empat kali dalam sebulan. Carilah momentum saat orang berdiri lama di malam hari menyelesaikan sebelas atau dua puluh tiga rakaat. Carilah musim kebajikan saat orang begitu santainya melepaskan ‘ular harta’ yang membelitnya.

Inilah momen yang membuka seluas-luasnya kesempatan ruh mengeksiskan dirinya dan mendekap erat-erat fitrah dan karakternya.

Marhaban ya Syahra Ramadlan Marhaban Syahra’ Shiyami

Marhaban ya Syahra Ramadlan Marhaban Syahra’ al-Qiyami

Keqariban di Tengah Keghariban (pendekatan diri ditengah keterasingan)

Ahli zaman kini mungkin leluasa menertawakan muslim badui yang bersahaja, saat ia bertanya: “Ya Rasul ALLAH, dekatkah Tuhan kita, sehingga saya cukup berbisik saja atau jauhkah Ia sehingga saya harus berseru kepada-Nya?”

Sebagian kita telah begitu ‘canggih’ memperkatakan Tuhan. Yang lain merasa bebas ketika ‘beban-beban orang bertuhan’ telah mereka persetankan.

Bagaimana rupa hati yang Ia tiada bertahta disana? Betapa miskinnya anak-anak zaman, saat mereka saling benci dan bantai. Betapa sengsaranya mereka saat menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks, riba, suap,
syahwat, dan seterusnya. padahal mereka masih berpijak di bumi-Nya.

Betapa menyedihkan, kader yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan, padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-Nya. Betapa bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah kawasan rawan, mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun berikut, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang
seterusnya.

Semua ayat dari 183-187 surat Al-Baqarah bicara secara tekstual tentang puasa. Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara tekstual, namun sulit untuk mengeluarkannya dari inti hikmah puasa. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (katakanlah): ‘Sesungguhnya Aku ini dekat…” (Al-Baqarah:185).

Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa kekariban (kedekatan) ini? Mereka jadi pandai tampil dengan wajah tanpa dosa didepan publik, padahal beberapa menit sebelum atau sesudah tampilan ini mereka menjadi drakula dan vampir yang haus darah, bukan lagi menjadi nyamuk yang zuhud. Mereka menjadi lalat yang
terjun langsung ke bangkai-bangkai, menjadi babi rakus yang tak bermalu, atau kera, tukang tiru yang rakus.

Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antar mereka? Bakar rumah, tebang pohon bermil-mil, hancurkan hutan demi kepentingan pribadi dan keluarga, tawuran antar warga atau anggota lembaga tinggi negara, bisniskan hukum,
jual bangsa kepada bangsa asing dan rentenir dunia. Berjuta pil pembunuh mengisi kekosongan hati ini. Berapa lagi bayi lahir tanpa status bapak yang syar’i? Berapa lagi rakyat yang menjadi keledai tunggangan para politisi
bandit? Berapa banyak lagi ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hati tetap membatu? Berapa banyak kurban berjatuhan sementara sesama saudara saling tidak peduli?

Nuzul Qur’an di Hira, Nuzul di Hati

Ketika pertama kali Alqur’an diturunkan, ia telah menjadi petunjuk untuk seluruh manusia. Ia menjadi petunjuk yang sesungguhnya bagi mereka yang menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ia benar-benar
berguna bagi kaum beriman dan menjadi kerugian bagi kaum yang zalim. Kelak saatnya orang menyalahkan rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu kehidupan menjadi kacau. Ada juga orang berfikir, malam qadar itu selesai sudah, karena ALLAH menyatakannya dengan Anzalnahu (kami telah menurunkannya), tanpa melihat tajam-tajam pada katatanazzalu’l Malaikatu wa’l Ruhu (pada malam itu turun menurunlah Malaikat dan Ruh), dengan kata kerja permanen.

Bila malam adalah malam, saat matahari terbenam, siapa warga negeri yang tak menemukan malam; kafirnya dan mukminnya, fasiqnya dan shalihnya, munafiqnya dan shiddiqnya, Yahudinya dan Nasraninya? Jadi apakah malam itu malam fisika yang meliput semua orang di kawasan?

Jadi ketika Ramadlan di gua Hira itu malamnya disebut malam qadar, saat turun sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga, maka betapa bahagianya setiap mukmin yang sadar dengan Nuzulnya Alqur’an di hati pada malam qadarnya masing-masing, saat jiwa menemukan jati dirinya yang selalu merindu dan mencari sang Pencipta. Yang tetap terbelenggu selama hayat dikandung badan, seperti badan pun tak dapat melampiaskan kesenangannya, karena selalu ada keterbatasan bagi setiap kesenangan. Batas makanan dan minuman yang lezat adalah kterbatasan perut dan segala yang lahir dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah menghilangnya kegembiraan di puncak
kesenangan. Batas nikmatnya dunia ialah ketika ajal tiba-tiba menemukan rambu-rambu:Stop!

Alqur’an dulu, baru yang lain

Bacalah Alqur’an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah dan perkaya wawasan dengan sirah, niscaya Islam itu terasa ni’mat, harmoni, mudah, lapang dan serasi. Alqur’an membentuk frame berfikir. Alqur’an
mainstream perjuangan. Nilai-nilainya menjadi tolok ukur keadilan, kewajaran dan kesesuaian dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penguasaan outline-nya menghindarkan pandangan parsial juz-i. Penda’wahannya dengan kelengkapan sunnah yang sederhana, menyentuh dan aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam, menjauhkan perselisihan dan menghemat energi ummat.

Betapa da’wah Alqur’an dengan madrasah tahsin, tahfiz dan tafhimnya telah membangkitkan kembali semangat keislaman, bahkan di jantung tempat kelahirannya sendiri. Ahlinya selalu menjadi pelopor jihad di garis depan,
jauh sejak awal sejarah ummat ini bermula. Bila Rasulullah meminta orang menurunkan jenazah dimintanya yang paling banyak penguasaan Qur’annya. Bila menyusun komposisi pasukan, diletakkannya pasukan yang lebih banyak
hafalannya. Bahkan di masa awal sekali, ‘unjuk rasa’ pertama digelar dengan pertanyaan ‘Siapa yang berani membacakan surat Arrahman di Ka’bah?’. Dan Ibnu Mas’ud tampil dengan berani dan tak menyesal atau jera walaupun pingsan dipukuli musyrikin kota Makkah.

Puasa: Da’wah, tarbiah, jihad dan disiplin

Orang yang tertempa makan (sahur) di saat enaknya orang tertidur lelap atau berdiri lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadlan setelah siangnya berlapar-haus, atau menahan semua pembatal lahir-batin, sudah sepantasnya mampu mengatasi masalah-masalah da’wah dan kehidupannya, tanpa keluhan, keputusasaan atau kepanikan. Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan di tengah badai takkan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air di akhir malam, lapar dan haus di terik siang.

Mereka terbiasa memburu dan menunggu target perjuangan, jauh sampai ke akhirat negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang melebihi kepastian fajar menyingsing. Namun bagaimana mungkin bisa mengajar orang lain, orang yang tak mampu memahami ajarannya sendiri? “Faqidu’s Syai’ la Yu’thihi” (Yang tak punya apa-apa tak akan mampu memberi apa-apa).

Wahyu pertama turun di bulan Ramadlan, pertempuran dan mubadarah (inisiatif) awal di Badar juga di bulan Ramadlan dan Futuh (kemenangan) juga di bulan Ramadlan. Ini menjadi inspirasi betapa madrasah Ramadlan telah memproduk begitu banyak alumni unggulan yang izzah-nya membentang dari masyriq ke maghrib zaman.

Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits, mulut mereka juga menggetarkan kalimat yang sama. Adapun hati dan bukti, itu soal besar yg menunggu jawaban serius.

.

sumber

tulisan:http://www.al-ikhwan.net/bulan-ramadlan-stasiun-besar-musafir-iman-2965/

gambar: railfanskulonrailwaysblogspot.com

Sejauh Mana Kadar Kemuliaan Kita

Kemuliaan dan fitrah manusia

Sudah menjadi fitrah manusia untuk menjadikan dirinya seorang manusia yang mulia. Kata mulia sendiri jika kita lihat dalam KBBI(kamus besar bahasa indonesia-red) berarti tinggi kedudukan, pangkat ,atau  martabatnya, atau bisa juga tertinggi maupun terhormat. Dengan menjadi mulia seorang manusia akan dihargai dan mendapatkan kedudukan yang terhormat. Dalam “Hierarki kebutuhan Maslow” yang cukup terkenal dalam bidang psikologi, juga disebutkan bahwa kebutuhan untuk dihargai atau esteem needs adalah kebutuhan yang dimilki oleh setiap orang.

Jika kita lihat realita yang terjadi sekarang, banyak sekali fenomena yang terjadi di masyarakat dalam hal mencari kemuliaan ini. Khususnya mencari kemuliaan dimata manusia. Banyak cara mereka lakukan untuk mendapat kemuliaan, bahkan hingga menggunakan berbagai macam cara. Mulai dari membeli ijazah agar terlihat sebagai orang pintar, mengeluarkan uang yang tidak sedikit dan menggunakan berbagai cara yang kotor untuk mendapatkan jabatan, melakukan hal yang tidak baik untuk mendapatkan poularitas semata, dan lain-lain.

Lalu , apakah islam melarang kita mencari kemuliaan? Tentu sebagai dien yang mulia dan fitrah (yang sangat sesuai degan fitrah manusia, karena diturunkan langsung oleh Sang Pencipta manusia itu sendiri), islam sangat mengerti betul kebutuhan manusia yang satu ini. Lalu bagai mana islam memandang kemuliaan?

Kemuliaan sejati adalah kemuliaan di mata Allah

Dari Sulaiman bin Yasar, dia berkata: Suatu saat, ketika orang-orang mulai bubar meninggalkan majelis Abu Hurairah –radhiyallahu’anhu-, maka Natil berkata kepadanya, “Wahai Syaikh, tuturkanlah kepada kami suatu hadits yang pernah anda dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Abu Hurairah menjawab, “Baiklah. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah: Seorang lelaki yang telah berjuang demi mencari mati syahid. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya,“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku menemui mati syahid.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu berperang agar disebut-sebut sebagai pemberani, dan sebutan itu telah kamu peroleh di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.

Seorang lelaki yang menimba ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca/menghafal al-Qur’an. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku menimba ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca/menghafal al-Qur’an di jalan-Mu.” Allah menimpali jawabannya,“Kamu dusta. Sebenarnya kamu menimba ilmu agar disebut-sebut sebagai orang alim, dan kamu membaca al-Qur’an agar disebut sebagai qari’. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.

Seorang lelaki yang diberi kelapangan oleh Allah serta mendapatkan karunia berupa segala macam bentuk harta. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Tidak ada satupun kesempatan yang Engkau cintai agar hamba-Mu berinfak padanya melainkan aku telah berinfak padanya untuk mencari ridha-Mu.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sesungguhnya kamu berinfak hanya demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang dermawan. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.”

(HR. Muslim [1903], lihat Syarh Muslim [6/529-530])

Dari hadist yang cukup terkenal tersebut, dapat kita lihat bahwa bagi kita seorang muslim, kemuliaan dan penghargaan di mata manusia dapat saja bernilai kecil bahkan nol di hadapan Allah. Sudah barang tentu kita ingin dan bahkan lebih baik jika kita  menjadi mulia dimanapun kita berada dan dihadapan siapapun. Tetapi jika kita merujuk dari salah satu  hikmah yang bisa diambil dari hadits di atas adalah, kemuliaan kita di hadapan Allah adalah lebih kita prioritaskan dibading kemuliaan dihadapan siapapun.

Dapatkan kemuliaan itu 

Mendapatkan kemuliaan (di hadapan Allah) bukan perkara yang sulit sebenarnya, tetapi juga bukan perkara yang gampang. Karena Allah sudah banyak memberikan kita petunjuk , baik itu dari Al-Qur’an , Hadits, maupun hikmah dari para ulama. Dapat menjadi sulit karena banyak halangan dan kekurangan kita sebagai manusia yang itu dapat menghambatnya, seperti, keodohan, kesombongan, dll. Ada banyak jalan kemuliaan yang Allah tunjukkan kepada kita, salah satunya adalah:

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Yap, kebermanfaatan. Islam memberikan konsep yang sangat berbeda dengan hawa nafsu kita kebanyakan, yang menilai kemuliaan dari harta dan jabatan. Dimana orang yang mulia adalah orang yang mempunyai kebermanfaatan untuk sekitar dimanapun ia berada.

Juga

“Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang menzhalimimu, memberi orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu.” (H.R. Baihaqi).

Tidak jarang orang beranggapan bahwa orang yang minta maaf atau memaafkan itu hina, dan statusnya lebih rendah. Tapi islam berkata lain, dengan meminta maaf dan memaafkan ternyata memang kita menjadi orang yang  jauh lebih mulia. Lalu banyak cara-cara lainnya dalam memperoleh kemuliaan yang akan terlalu banyak jika disebutkan satu-satu.

Mengukur Kadar Kemuliaan kita

Setelah mengetahui apa pentingnya dan hakikat kemuliaan itu sendiri, tentu kita ingin tahu semulia apa kedudukan kita disisi Allah , ternyata dengan sangat indah Allah memberitahu kita melalui baginda Rasulullah saw, tentang hal itu:

Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah hendaklah dia mengamati bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya. Sesungguhnya Allah menempatkan hambaNya dalam kedudukan sebagaimana dia menempatkan kedudukan Allah pada dirinya. (HR. Al Hakim)

Sebagaimana kedudukan Allah didalam diri kita , seperti itu pulalah Allah menempatkan kita di sisi-Nya. Mari kita sama-sama introspeksi diri seperti apa keadaannya sekarang? Apakah panggilan-Nya untuk shalat tepat waktu sering kita abaikan. Apakah Qalam-Nya yang agung yaitu Al-Qur’an sering kita abaikan (tidak dibaca, ditaddaburi , dihafalkan, maupun diamalkan) , juga bila diperdengarkan kepada kita tidak membekas apapun pada diri kita?

Sudah terlalu banyak sepertinya jika kita ingat – ingat hal yang membuktikan bahwa kedudukan Allah dalam diri kita tidak setinggi harapan akan kedudukan kita di sisi-Nya. Jadi tunggu apa lagi, raih kemuliaan dan kita pertanyakan lagi pada diri kita sejauh mana kadar kemuliaan kita di sisi Allah.

Wallahu a’lam.

Isi SKB 3 Menteri, Ahmadiyah, Masalah, dan Solusi.

Seakan kembali mengorek luka lama,dalam beberapa minggu ini kembali mencuat kasus yang jika kita ingat sudah lama sekali terjadi. Bahkan sebelum saya lahir. Yap, kasus Ahmadiyah.

Dengan maraknya pemberitaan dimedia beberapa minggu terakhir, akhirnya kembali rasa penasaran saya tergelitik. Apa sih sebenarnya isi dari SKB tiga menteri yang diterbitkan tiga tahun silam itu. Yang dengannya seakan kasus ini dianggap beres oleh pemerintah dan masyarakat pada umumnya saat itu, yang dulu sebenarnya saya tidak terlalu peduli sehingga baru kali ini saya mencari tahu.

Setelah sedikit searching , akhirnya isi SKB yang disahkan tanggal 9 Juni 2008   yang ditandatangani oleh Jaksa Agung Hendarman Supandji, Mendagri Mardiyanto dan Menteri Agama Maftuh Basyuni. Yang ketiganyapun menghadiri pengumuman SKB tersebut saya dapatkan.  Ternyata SKB tersebut memiliki 6 poin didalamnya, yaitu:

1. Memberi peringatan dan memerintahkan untuk semua warga negara untuk tidak menceritakan, menafsirkan suatu agama di Indonesia yang menyimpang sesuai UU No 1 PNPS 1965 tentang pencegahan penodaan agama.

2. Memberi peringatan dan memerintahkan bagi seluruh penganut, pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) sepanjang menganut agama Islam agar menghentikan semua kegiatan yang tidak sesuai dengan penafsiran Agama Islam pada umumnya. Seperti pengakuaan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW.

3. Memberi peringatan dan memerintahkan kepada anggota atau pengurus JAI yang tidak mengindahkan peringatan tersebut dapat dikenani saksi sesuai peraturan perundangan.

4. Memberi peringatan dan memerintahkan semua warga negara menjaga dan memelihara kehidupan umat beragama dan tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap penganut JAI.

5. Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah dapat dikenakan sanksi sesuai perundangan yang berlaku.

6. Memerintahkan aparat pemerintah dan pemerintah daerah agar melakukan langkah-langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksanaan keputusan bersama ini.

Demikian kurang lebih isi dalam SKB tersebut. Jika kita lihat lebih seksama untuk mensukseskan SKB itu harus didukung dan dilakukan oleh tiga pihak. Pihak pertama adalah Pemerintah , Masyarakat, dan Jamaah Ahmadiyah itu sendiri.  Tapi kembali muncul pertanyaan, apakah SKB ini sudah cukup menjadi solusi atas permasalahan ini?

Oleh karena itu untuk kedepannya, pemerintah diharapkan seperti yang juga diharapkan semua pihak, lebih tegas lagi dalam menegakkan hukum,  Dan bertindak tegas terhadap jemaat Ahmadiyah. Yang jelas – jelas sudah dinyatakan sesat oleh umat islam secara nasional (MUI) bahkan internasional.

Lalu untuk masyarakat, diharapkan untuk selalu menahan diri dan bersikap sesuai dengan proporsinya. Jangan berlebihan. Dan untuk Ahmadiyah, selama mengakui Mirza Gulam A. sebagai nabi, maka tidak ada opsi lain selain mendirikan agama baru seperti yang dikatakan para ulama yang ditulis disini.

Sehingga ahmadiyah dapat melaksanakan ajarannya dengan tenang , dan umat muslim pun tidak merasa dilecehkan dengan ajaran tersebut. Karena sejatinya ajaran islam adalah ajaran yang jauh dari anarkisme, yaitu ajaran yang ditujukan untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin (rahmat semesta alam) , jangankan manusia yang berbeda keyakinan , lah wong bahkan hewan,tumbuhan, lalu alam aja seharusnya gak dizhalimi kok sama orang muslim. Apalagi manusia yang derajatnya lebih tinggi.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS 21:107)

wallahu a’lam.

dari berbagai sumber

Sadari dan bersiaplah, karena setiap hal ada konsekuensinya.

Bismillahirrahmannirrahim.

Hidup adalah pilihan dan setiap pilihan mempunyai konsekuensinya masing –  masing. Entah dari mana kata – kata itu aslinya berasal tapi jika kita lihat lagi dalam konteks kehidupan nyata mungkin kata – kata ini ada benarnya juga.

Diawali dari tadabbur salah satu firman Allah :

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS 29:2-3)

Ayat tersebut mengatakan kepada kita bahwa menjadi seorang yang mendeklarasikan diri sebagai orang beriman beriman (mukmin) mempunyai konsekuensinya sendiri, yaitu berupa ujian dari Allah SWT yang akan memisahkan antara yang “benar” dan yang “dusta”.  Dan dengan menjadi orang yang “benar” konsekuensinya adalah balasan yang terbaik.

Dan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. (QS 29:7)

Melalui perumpamaan tentang mukmin tadi, saya pun berfikir bahwa bukan hanya deklarasi keimanan kita saja yang mempunyai konsekuensi , tapi setiap hal dalam hidup ini mempunyai konsekuensinya sendiri. Dengan menjadi seorang pekerja kita mempunyai konsekuensi kita sendiri,dengan menjadi seorang pemimpin kita mempunyai konsekuensi sendiri, dengan menjadi seorang pelajar ataupun mahasiswa kita mempunyai konsekuensi sendiri, bahkan dengan hanya menjadi seorang manusiapun kita mempunyai konsekuensi sendiri.

Sebelum berlanjut lebih jauh , mari kita lihat arti kata konsekuensi itu sendiri. Kalau menurut KBBI online, konsekuensi adalah “akibat (dr suatu perbuatan, pendirian, dsb)” atau “persesuaian dng yg dahulu”. Nah terus memang kenapa kalau setiap hal mempunyai konsekuensi?

….Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS 4 : 78-79)

Karena setiap hal mempunyai konsekuensi, maka sudah seharusnya kita harus selalu mengisi kehidupan kita dengan kebaikan. Karena setiap hal mempunyai konsekuensi maka kita harus menyelesaikan dengan baik segala kewajiban maupun amanah kita. Karena segala hal yang buruk yang terjadi dalam diri kita  , seperti dalam ayat diatas adalah hasil dari perbuatan kita sendiri. Oleh karena itu , menyadari konsekuensi dari suatu hal yang akan kita lakukan akan membatu kita agar dapat melaksanakan sesuatu dan mendapatkan hasil yang terbaik.

Terlihat mudah memang , tapi ternyata tidak semua orang menyadari konsekuensi dari hal yang ia lakukan. Hal yang paling mendasar saja dalam islam. Banyak orang yang bersyahadat, tapi ada berapa banyak dari orang yang bersyahadat tersebut menyadari konsekuensi dari syahadat yang sudah mereka ucapkan. Bahwa syahadat adalah janji, ikrar, dan sumpah yang kita ucapkan kepada Allah sehingga konsekuensinya menuntut kita untuk selalu berpegang teguh dan tidak pernah mengkhianati (dengan berbagai macam cara) ikrar tersebut. Juga syahadat adalah satunya-satunya jalan menuju kebahagiaan (sejati) dunia dan akhirat,  jika kita istiqamah dalam iman kita.

Ternyata menyadarinya saja belumlah cukup, setelah kita menyadari dan tau konsekuensinya. Yang kita lakukan selanjutnya adalah bersiap – siap. Sehingga kita siap atas segala kemungkinan yang terjadi.  Karena melalui penyadaran diri atas konsekuensi, pasti persiapan yang harus kita lakukan berbeda tergantung hal yang kita lakukan.

Jadi..Sahabat, Sadari dan bersiaplah , karena setiap hal ada konsekuensinya. Jangan sampai kita menyesal karena kesalahan dan kelalaian kita sendiri.

Wallahu a’lam

Dakwah adalah cinta (Ust Rahmat Abdullah)

Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan
meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu.
Berjalan, duduk, dan tidurmu.

Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang
umat yg kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu.
Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di
tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang
hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang
akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat
yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya
sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi
orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.
Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang
segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah
kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai
jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga
terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa
pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya
diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang
sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang
bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah
bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah
bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama
mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan
segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu
menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana
pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan
rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus
mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk
mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka.
Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda
dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar
wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar.
Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi
kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..

Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya
adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan
pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan
Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya
besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu
mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru
jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah
dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya
dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta…
Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

(alm. Ust Rahmat Abdullah)

Karena Kita Keluarga

Dengarlah wahai keluargaku!

Sesungguhnya Allah swt telah berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 103 yang artinya:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah keadaanmu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.”,

dan pada surat Al-Hujurat ayat 10 yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara.”,

pada surat At-Taubah ayat 71 yang artinya:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain.”

Dan Rasul yang mulia, Muhammad saw. juga pernah bersabda:

“Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.”

Begitulah generasi Islam pertama -semoga keridhaan Allah atas mereka-  dalam memahami makna persaudaraan dan kekeluargaan dalam Islam yang agung ini. Iman dalam dada telah menumbuhkan rasa cinta, kedekatan, dan persaudaraan yang paling luhur dan abadi di antara mereka. Mereka ibarat satu tubuh, satu hati, dan satu tangan. Dan inilah karunia Allah yang selalu diingat-ingatkan kepada mereka oleh-Nya pada surat Al-Anfal ayat 63 yang artinya:

“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.”

Dalam sirah yang nyata, kita dapat ambil hikmah Sang Muhajir yang telah pergi meninggalkan keluarga dan tanah tumpah darahnya (Mekkah) untuk menyelamatkan agamanya, akhirnya mendapati para pemuda Yatsrib menanti kedatangan mereka dengan penuh rindu dan kehangatan cinta. Mereka semua bergembira menyambutnya, walaupun mereka tidak mengenalnya sebelum itu, tak ada hubungan kekeluargaan yang mengikat mereka, dan tak ada ambisi atau kepentingan tertentu yang mereka harapkan.

Tapi begitulah, aqidah Islam membuat mereka (kaum Anshar) merindukan dan menyatu dengan kehidupan kaum Muhajirin. Orang-orang Anshar menganggap kaum Muhajirin sebagai belahan jiwanya yang tak terpisahkan, maka sesaat setelah tiba di masjid, orang-orang Aus dan Khazraj segera menghambur mengelilingi mereka. Masing-masing orang dari mereka mengajak kaum muhajirin untuk tinggal di rumahnya, dan untuk itu mereka bersedia mengorbankan harta, jiwa, serta kepentingan keluarganya, Situasinya semakin mengharukan ketika mereka berkeras dengan permintaan mereka, hingga akhirnya rumah kediaman kaum Muhajirin ditetapkan berdasarkan undian. Imam Bukhari meriwayatkan,

“Tak seorang pun Muhajir yang menetap di rumah seorang Anshar melainkan dengan undian.”

Begitulah, sehingga Allah berkenan mengabadikan keluhuran budi kaum Anshar itu dalam Al-Qur’an agar dikenang oleh manusia sepanjang zaman. Hingga kini keluhuran itu masih tampak bersinar terang di permukaan wajah zaman. Tentang kaum Anshar Allah berfirman,

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan mereka (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)

Begitulah putera-putera Islam selanjutnya menapaki tangga keluhuran khususnya generasi pertama yang jiwa-jiwa mereka dipenuhi oleh rasa persaudaraan imani. Pada mereka tak ada perbedaan antara Muhajir dan Anshar, tak ada jarak antara orang Mekkah dengan orang Yaman. Bahkan dalam salah satu sabdanya, Rasulullah saw. pernah memuji kabilah Asy’ariyah dari Yaman.

“Sebaik-baik kaum adalah kaum Asy’ariyah, bila mereka kesusahan dalam perjalanan atau dalam keadaan menetap, maka mereka mengumpulkan semua yang mereka miliki, lalu mereka simpan di tempat perbekalan mereka, kemudian membaginya secara merata,”

Bila anda membaca Al-Qur’an, Sunah Rasul yang agung, dan sejarah para leluhur dari putera-putera terbaik agama ini, niscaya akan kita temukan semua yang dapat menyejukkan mata dan menenteramkan telinga dan hati kita. Dan itulah arti keluarga bagi kita, keluarga yang bersatu atas dasar kekuatan aqidah dan kekuatan iman. Karena itulah saudaraku, mengapa kita bersatu dan bergerak bersama dalam langkah gerak meraih keridhoanNya. Karena kita keluarga…

(sumber: Bluprint GAMAIS ITB 2008-2013)