Category Archives: Brainstorming

Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu (?)

Alhamdulillah, setelah sekitar 8 (delapan) hari aksi genocide gerombolan (negara) yahudi di tanah Gaza, Palestina, aksi tersebut diakhiri. Kejadian tersebut diakhiri dengan diadakannya gencatan senjata antara kedua belah pihak yang mengharuskan kedua pihak mengehentikan serangan satu sama lain dan juga membuka blokade barang ke sana (untuk berita lebih lengkapnya lihat tautan  http://aje.me/SSiwnM). 

Kesepakatan gencatan senjata itu, yang diperantarai Mesir, berlaku mulai pukul 21.00 waktu setempat (Kamis, 02.00 WIB) (http://bit.ly/QaPIKN). Gencatan sejata tersebut juga menandai berakhirnya pertempuran yang menyebabkan meninggalnya 162 warga Palestina.

Tetapi yang jadi pertanyaan (yang bahkan sebenarnya tidak perlu menjadi pertanyaan karena jawabannya sudah jelas, sejelas matahari di langit cerah khatulistiwa), apakah dengan gencatan senjata ini kepedulian kita yang sudah ditunjukkan dengan gencarnya dukungan yang salah satunya melalui sosial media (sayangnya bukan media) harus berhenti? Juga gelontoran dana untuk pembangunan sarana umum, juga haruskah berhenti? Apakah tautan ekspor amunisi berupa do’a kepada saudara – saudara kita juga harus mengalami “gencatan” ?

Tanpa coba menjawab pertanyaan di atas, beberapa hari yang lalu saya secara “kebetulan” menemukan sebuah karya sastra anak bangsa terkait Palestina. Tentu kita semua sudah mengenal seorang Taufiq Ismail seorang penyair angkatan 66 (kalau gak salah saya dapat istilah ini di pelajaran bahasa Indonesia dulu, mohon di koreksi kalau salah 🙂 ) yang tersohor. Salah satu karyanya yang hampir sama judulnya dengan judul tulisan di atas yaitu “Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu”  adalah karya yang baru saja saya temukan dan baca beberapa hari lalu. Melihat bahwa karya tersebut sudah dibuat sejak tahun1989 (waktu saya masih berstatus bocah ingusan, bahkan jabang bayi 🙂 )  membuat saya kembali tersadar betapa lama dan panjangnya perjuangan saudara Palestina kita. Sedangkan bantuan dana, do’a dan, apapun yang bisa dilakukan hanya ada jika serangan besar atau ada momen-momen khusus terkait negara tersebut.

.

.

Dan penyesalan diringi dengan pertanyaan pun muncul.

“Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu (?) ”

Melupakanmu, sedangkan aku hidup enak di tanah yang damai ini.

Melupakanmu bagai kita adalah bangsa yang tidak berhubungan sama sekali.

Melupakanmu dengan tak acuh akan keadaanmu.

Melupakanmu dengan berhenti mengirim do’a dan dukungan walaupun sesaat.

Berganti dengan pernyataan sumpah dan ikrar dalam diri.

Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu

Sedangkan kita adalah saudara seiman yang diikat tali aqidah.

Sedangkan perjuanganmu adalah perjuangan seluruh umat muslim di dunia.

Sedangkan perjuanganmu  dan perjuanganku memiliki satu vektor besar yang sama.

Vektor ibadah meraih ridha Allah.

.

.

Bismillah, semoga (kita) bisa tetap istiqamah dalam berjuang dan beramal.

Wallahu ‘alam

nb: Berikut saya lampirkan puisi karya Taufiq Ismail berjudul “Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu”, yang menginspirasi tulisan saya kali ini.

Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu

oleh Tufiq Ismail

Ketika     rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer 
dengan suara gemuruh menderu, serasa pasir 
dan batu bata dinding kamartidurku bertebaran 
di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan 
mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika     luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan
apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan lalu di
Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari kantor
agraria, serasa kebun kelapa dan pohon mang-
gaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas 
mereka.

Ketika     kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai
kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu-
sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening
kita semua, serasa runtuh lantai papan surau
tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an
40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan
yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini
ditetesi
air
mataku.

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Ketika     anak-anak kecil di Gaza belasan tahun  bilangan
umur mereka, menjawab laras baja dengan tim-
pukan batu cuma, lalu dipatahi pergelangan
tangan dan lengannya, siapakah yang tak 
menjerit serasa anak-anak kami Indonesia jua yang
dizalimi mereka – tapi saksikan tulang muda
mereka yang patah akan bertaut dan mengulur
kan rantai amat panjangnya, pembelit leher
lawan mereka, penyeret tubuh si zalim ke neraka.

Ketika     kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-
Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim
Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang diba-
cakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami
semua berdegup dua kali lebih gencar lalu ter-
sayat oleh sembilu bambu deritamu, darah kami
pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan
kaligrafi

‘Allahu Akbar!’
dan 
‘Bebaskan Palestina!’

Ketika    pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi
dusta, menebarkannya ke media cetak dan 
elektronika, mengoyaki tenda-tenda pengungsi
di padang pasir belantara, membangkangit reso-
lusi-resolusi majelis terhormat di dunia, mem-
bantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser
Arafat dan semua pejuang negeri anda, aku pun
berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at
sedunia: doakan kolektif dengan kuat seluruh
dan setiap pejuang yang menapak jalanNya, 
yang ditembaki dan kini dalam penjara, lalu
dengan kukuh kita bacalah
‘laquwwatta illa bi-Llah!’

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.

Sumber :  foto dan puisi

Antara Persepsi Iman dan Akal (Bag 1:Pelajaran dari 3 Ekor Lalat)

Apabila seekor lalat hinggap di tempat minum salah seorang dari kalian,hendaknya ia mencelupkan ke dalam minuman tersebut, kemudian membuangnya, karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat penawarnya. (HR. Bukhari)

“Ohh…baiklah”.

Seingat saya, kata itulah yang pertama kali muncul dalam benak pada saat pertama kali mendengar hadits tersebut.  Terkadang beberapa kali terlintas juga secara iseng dalam pikiran, “Gimana yah cara menangkap seekor lalat (untuk dicelupkan) yang kelincahannya cukup terkenal dikalangan golongan serangga tersebut, apa harus belajar kungfu dulu biar bisa nangkep pake sumpit kayak di film (hehe).” Karena memang selama pengalaman berhubungan dengan yang namanya lalat, mentok-mentok paling cuma hinggap aja di pinggiran gelas. Tidak pernah sekalipun sang lalat dengan kesadarannya sendiri terjun bebas ke dalam gelas yang berisi air minum.

Hari-hari pun berlalu dengan tidak terlalu memikirkan lagi akan hadits tersebut. Hingga pada suatu hari di kota Tanggerang, saat sedang berkunjung ke rumah pembimbing tugas akhir saya waktu berkuliah dulu. Seolah – olah Allah ingin menjawab rasa penasaran saya yang sudah memudar setelah sekian lama.  Entah kenapa tiba-tiba dengan sukarela ada tiga ekor lalat menceburkan diri dengan sukses atau bahasa gaulnya “nyemplung” ke dalam gelas yang berisi kopi hangat yang sedang saya minum. Dan berenang – renang agak meronta dengan santainya. Gak percaya? cekidot…

Kaget dan merasa jijk..tentu adalah reaksi normal bagi orang kebanyakan, apalagi dengan “cap” kotor yang sudah menempel erat pada lalat yang terkenal suka hinggap dimana saja. Dan itu pula yang saya rasakan dan pikirkan saat itu.

Membuang kopi yang sudah terkontaminasi mungkin merupakan solusi terbaik yang terpikir dan dapat dilakukan. Tetapi entah bagaimana, tiba-tiba teringat hadits yang sudah lama saya baca tersebut.  Sesaat, perang singkat pun terjadi dalam pikiran, antara membuang kopi tersebut sehingga memperkecil resiko terkena penyakit bawaan lalat, atau mencoba mengamalkan (sambil bereksperimen) hadist tersebut yang jarang – jarang ada kesempatan kayak gini.

Perang pun berakhir, dan pikiran kedua menang. Dengan sedikit ragu, satu per satu lalat yang masih berenang dengan gaya bebas (atau gaya lalat :)) tersebut saya celupkan kedalam kopi lalu saya buang. (catatan: alhamdulillah begitu dibuang lalat langsung terbang dengan bebas dan sehat wal ‘afiat, jadi buat para pejuang hak asasi lalat, tidak usah repot-repot menuntut saya :p)

Dan akhirnya dengan perasaan bercampur baur, kopi pun saya seruput hingga habis. (Kalau sahabat tidak percaya, sebenarnya ada foto buktinya tapi sengaja tidak dipublikasikan dengan alasan keselamatan kita semua..lho??) Dan hasilnya?? Tidak merasa apa – apa sih sebenarnya selain perasaan lega karena rasa penasaran berhasil terpuaskan, lega karena tidak ada gangguan kesehatan apapun setelahnya, juga lega karena insyaAllah sudah mengamalkan suatu anjuran Rasulullah saw.

Nah apa pelajaran dari kejadian (yang berkesan) gak penting dan iseng – iseng tersebut?

Setelah mencoba memikirkannya dalam – dalam, saya akhirnya mendapat suatu hipotesa yaitu terkadang dalam menghadapi konsekuensi keimanan yang salah satu bentuknya berupa kewajiban, larangan, perintah, ataupun anjuran. Kita seringkali membenturkannya dengan akal kita, sehingga konsekuensi-konsekuensi keimanan yang kita anggap tidak masuk akal (tidak logis) tidak kita amalkan bahkan kita ingkari. Tapi sadarkah kawan kalau ternyata bukannya konsekuensi (keimanan) tersebut yang tidak ‘masuk akal’ tapi akal kita yang tidak ‘masuk iman’. Bingung? Sama… dong, hehe 🙂

Contoh, misalnya yang sering kita lakukan setiap hari, gerakan shalat. Kalau ditanyakan kepada orang diluar muslim, yang sama sekali belum pernah melihat seseorang melakukan shalat, pasti mereka akan merasa aneh dan berfikir sangat tidak masuk diakal gerakan – gerakannya. Setelah sekian lama dilaksanakan oleh umat muslim, ternyata bisa dijelaskan secara logika baru-baru ini salah satu (salah satu lho..) dari hikmah gerakan shalat, yaitu saat orang ramai membicarakan hikmah dan keuntungan gerakan shalat bagi kesehatan. Walaupun begitu insyaAllah kita sebagai seorang muslim melakukannya karena logika iman kita untuk melakukannya sudah terpenuhi, yaitu karena diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah. Nah apakah dulu saat awal melakukannya sibuk mencari alasan logis yang sesuai dengan ilmiah dulu baru mau melakukannya? tentu tidak kan.

Nah kembali ke judul awal, apa sih persepsi iman dan persepsi logika itu sendiri? Persepsi dapat kita artikan secara mudah sebagai sudut pandang. Sehingga persepsi iman adalah bagaimana kita menghadapi/menyikapi suatu persoalan dari sudut pandang iman.  Begitu pula dengan persepsi akal.

Contoh penyikapan tersebut sudah coba saya ilustrasikan dengan kejadian tiga ekor lalat tersebut. Sebuah kejadian yang walaupun remeh , karena diliat dari sudut pandang iman, dapat memberikan suatu hikmah baru khususnya untuk saya pribadi.

Terus kalau ada dua persepsi tadi, iman dan akal itu bersebrangan? Lalu seberapa hebatkah logika iman itu sampai – sampai mengalahkan logika akal sehingga harus dimenangkan di atasnya??

Bersambung…

next: Antara Persepsi Iman dan Akal (Bag 2: Se-cartridge tinta melawan Samudra)

nb: pada awalnya akan saya buat judul dengan tulisan iman vs logika, ternyata setelah difikir lagi judul tersebut kurang tepat. kenapa? lihat di bagian 2 ya..:)

Inspirasi Siang Hari di Kota Depok (Pembentukan Yayasan)

Kantor pusat ppsdms (ppsdms.org)

“Orang yang hebat adalah orang yang dapat memberikan inspirasi bagi orang yang berinteraksi dengannya.” Setidaknya hal itulah yang selalu saya yakini ketika berinteraksi dengan sesorang. Terlebih lagi kalau inspirasi itu adalah inspirasi untuk berbuat kebaikan. Dan inspirasi itulah yang saya dapatkan beberapa hari yang lalu. Tepatnya hari Selasa 23 Agustus / Ramadhan lalu saya beserta beberapa orang teman mendapatkan kesempatan untuk mendapat inspirasi itu.

Adalah Pak Bachtiar Firdaus , orang yang pada hari siang itu memberikan inspirasi yang luar biasa. Beliau adalah manajer bidang program kemitraan dan juga salah satu “founding father” PPSDMS-NF (Program pembinaan sumber daya manusia strategis Nurul Fikri). PPSDMS (liat profil lengkapnya di ppsdms.org) adalah sebuah yayasan yang bergerak di bidang pembentukan pemimpin masa depan yang berbasis pembinaan berbentuk asrama yang tersebar pada beberapa perguruan tinggi negeri.

Dilatarbelakangi rencana saya dan beberapa orang teman almuni dan calon almuni ITB untuk membentuk suatu yayasan yang bergerak di bidang pendidikan pembentukan karakter. Kami pun bertolak dari Bandung untuk mengadakan studi banding ke PPSDMS yang kantor pusatnya berada di bilangan kota Depok. Sebuah yayasan yang menurut perspektif kami cukup besar, mapan, dan sukses.

Jam menunjukkan pukul 13.35 saat kami sampai disana, yang itu berarti terlambat 35 menit dari janji kami untuk bertemu, yaitu pukul 13.00. Keterlambatan yang disebabkan oleh suatu kejadian yang cukup membuat diri tersenyum kalau mengingatnya. (sengaja tidak saya ceritakan disini, khawatir membuka aib saudara sendiri…terus buat yang merasa lalu membaca ini, satu kata dari saya: ”Pisss”, hehe..). Sebuah kesalahan kecil yang membuat kami harus berjalan memutar cukup jauh untuk mencapai tempat tujuan.

Setelah sampai dan shalat , kami segera menemui beliau di kantornya. Beliau segera menyambut kami dengan hangat tanpa menyuguhi sesuatu (ya iyalah ..bulan puasa gitu.., hehe). Diawali dengan pembukaan dan penjelasan maksud kami datang kesini , dll. Beliau pun memulai dengan sharing pendirian awal PPSDM yang penuh liku, perjuangan, dan pengorbanan. Sehingga begitu mendengarnya, terbesit dalam benak bahwa wajar saja organisasi ini dapat sebesar sekarang.

Mulai dari mimpi yang besar, keterbatasan sumber daya, perjuangan memperjuangkan idealisme , hingga pengorbanan yang besar (salah satunya bagaimana pengurusnya pada awal-awal pembentukannya harus tahan untuk tidak digaji). Organisasi yang memulai programnya pada tahun 2002 dari satu asrama dan kantor yang sangat kecil ini , dapat berkembangan memliki asrama yang banyak dan kantor yang bisa dibilang cukup megah.

Selama sesi sharing dan tanya jawab tersebut, beliau menyampaikan beberapa tips bagaimana sebuah yayasan bisa menjadi yayasan yang besar. Yang pertama adalah Legalitas lembaga, tidak usah diperdebatkan deh apa pentingnya legalitas bagi suatu organisasi, terlebih suatu yayasan. Yang kedua adalah adanya SDM yang full time mengurusi yayasan tersebut, sehingga suatu yayasan tidak menjadi yayasan yang angin-anginan. Yaitu banyak agenda kalau para pengurusnya senggang saja (istilah beliau adalah paguyuban yang keberjalannya hidup segan , mati tak mau). Yang ketiga adalah modal awal sehingga program yang direncanakan dapat berjalan. Yang keempat adalah program yang baik, profesional, dan menjual ditambah dengan PR (Public Relation) yang baik. Lalu yang terakhir adalah daya ungkit yang baik (dalam bahasa beliau adalah dewan pembina dan penyantun yang baik dan berpartisipasi aktif). Yang kesemuanya dikemas dalam mimpi besar pada awalnya. Dan visi yang jelas mau dibawa kemana organisasi tersebut pada akhirnya, entah 3 tahun kedepan, 5 tahun kedepan, dan seterusnya. Yang kalau menggunakan istilah Stephen Covey adalah “Start from the end” atau “Maalikiyau middin” dalam terminologi Al-Qur’an.

Selain tips tadi, pengetahuan akan lembaga yang akan kita buat juga tidak kalah pentingnya. Untuk sebuah yayasan misalnya ada beberapa peraturan berupa undang-undang maupun peraturan pemerintah yang mengatur hal ini, peraturan tersebut antara lain:

(PP RI No. 63 Tahun 2008 Tentang Pelaksanaan Undang-undang Tentang Yayasan) http://prokum.esdm.go.id/pp/2008/PP%2063%202008.pdf

(UU No. 28 Tahun 2004 Tentang Perubahan UU No.16 Tahun 2001)http://djkd.depdagri.go.id/download.php?namafile=46_1.pdf&jenis=produkhukum

(UU No. 16 Tahun 2001 Tentang Yayasan)http://www.bpkp.go.id/uu/filedownload/2/42/333.bpkp

Setelah sekian lama berbincan tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, kami pun harus mengakhiri pertemuan singkat kami. Berbekal insiprasi, kami bertolak ke kampus UI untuk menunggu waktu berbuka. Setelah shalat Isya kami langsung berangkat ke kota Bandung tercinta. Lalu apakah yayasan kami akan menjadi yayasan yang besar dan berkontribusi nyata untuk banga dan umat manusia secara umum? Biarkan kami dan waktu yang akan menjawabnya.

🙂

Menyambut Ramadhan dengan Asa

Alhamdulillah setelah lebih dari sebulan tidak muncul dalam dunia tulis-menulis blog. Hari ini di hari pertama di bulan Ramadhan yang mulia ini saya kembali mendapatkan kesempatan untuk berbagi inspirasi. Dan untuk tema tulisan kali ini tidak jauh dengan realita yang ada, yaitu menyambut bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan seperti yang mayoritas umat muslim ketahui, adalah suatu waktu yang sangat agung dan istimewa dalam ajaran islam. Sehingga tidak jarang Ramadhan dijadikan suatu momentum dan inspirasi untuk melakukan suatu perubahan diri menuju yang lebih baik.

Di Negeri kita yang tercinta ini, banyak cara dan gaya dalam menyambut Ramadhan. Kesemuanya berbeda tergantung keadaan dan budaya masyarakat sekitar. Di Jawa Barat kita kenal ada acara “Munggahan”, di Jawa Timur kita kenal “Padusan”, dan lain-lain. Karena bukan ini yang akan saya angkat jadi dicukupkan saja bahasannya :).

Kembali dalam rangka menyambut Ramadhan. Sesuai dengan judulnya, terinspirasi oleh ceramah taraweh pembukaan Ramadhan yang saya rasa hampir mirip di berbagai tempat (pake khutbah nya Rasulullah yang memaparkan keutamaan-keutamaan Ramadhan) . Ternyata salah satu cara menyambut Ramadhan adalah dengan memupuk asa.

Asa a.k.a harapan memang harus senantiasa kita pupuk jika kita mau menjadi pribadi yang sukses dalam bidang apapun. Termasuk dalam menyambut dan menjalani Ramadhan. Yakin deh dengan setumpuk asa, insyaAllah kita akan dapat menjalani segala kegiatan di dalam Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Apa hubungannya asa dengan sukses dibulan Ramadhan?  Terus gimana cara agar asa selalu terpupuk sehingga Ramadhan kita insyaAllah sukses?

Ramadhan adalah salah satu waktu yang istimewa, dimana Allah banyak memberikan kita keistimewaan yang banyak. Salah satunya adalah dibukanya lebar-lebar pintu surga dan rahmat, juga ditutupnya rapat-rapat pintu neraka, dan masih banyak lagi.  Tentu kita berharap agar segala yang kita lakukan dapat dinilai sebagai ibadah di sisi Allah sehingga kita dapat mendapatkan keutamaan yang banyak dan tidak didapat diwaktu yang lain tersebut.

Ternyata untuk menumbuhkan dan memupuk asa, tidak semudah untuk diucap (tulis) kan, ada dua hal minimal yang harus kita persiapkan. Yang pertama adalah ilmu, yang kedua adalah keyakinan (keimanan).

Persiapan pertama adalah ilmu, dengan ilmu kita dapat mengetahui segala kebaikan dan keutamaan dalam bulan Ramadhan. Sehingga dapat menjadi moivasi kita dalam beribadah. Seperti contohnya:

“Jika datang Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan syetan dibelenggu” (HR. Muslim)

Lalu dengan ilmu, kita juga kita dapat mengetahui segalam macam cara beribadah yang  benar sehingga segala ibadah kita tidak sia-sia oleh karena kita salah dalam mengamalkannya. Contoh tidur untuk ibadah dalam bulan Ramadhan. Emang gak salah sih, tapi alangkah lebih baiknya kan jika kita isi waktu kita untuk hal yang jauh lebih bermanfaat selain tidur :).  Juga dalam hal tarawih, kecil emang tapi pernah diingatkan bahwa terkadang kita ke masjid pada saat adzan isya itu niatnya buat tarawih, bukan buat shalat isya berjamaah tepat waktu dimasjid dulu. Emang gak salah – salah amat juga sih, tapi kan sayang kalau kita lebih “mendahulukan” yang sunnah daripada yang wajib (yang insyaAllah pahalanya juga lebih besar).

Lalau..yang kedua, setelah ilmu yang ternyata tidak cukup. Kita juga harus berusaha memiliki keyakinan (keimanan). Kenapa tidak cukup? Coba saja kita tanya ke dalam diri kita. Apakah kita sudah tahu keutamaan dalam bulan Ramadhan? Kalau sudah apakah kita sudah bersungguh-sungguh mengejar keutamaan tersebut? Jika belum bisa dibilang keimanan kita belum cukup untuk mengaktivasi ilmu kita menjadi amal nyata.

So…mumpung masih awal Ramadhan. Muailah cari sebanyak-banyaknya ilmu tentang keutamaan dan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan.  Dekatkan diri kita kepada Allah, dan minta (berdo’a) kepada Allah agar kita diberi keimanan untuk meyakini dan mengamalkan ilmu yang kita punya. Sehingga asa dalam diri kita akan terpupuk sedikit demi sedikit bukan hanya dalam bulan Ramadhan tapi dibulan lain juga insyaAllah.

Terakhir…dengan memupuk asa, kita insyaallah akan selalu termotivasi untuk mengejar target akan janji-janji Allah tersebut. Juga mengisi tiap waktu (detik) kita pada bulan yang mulia ini dengan amal-amal (perbuatan-perbuatan) terbaik kita. Sehingga bulan ini harus jadi Ramadhan yang  jauuuuhhhhh…lebih baik dari Ramadhan tahun lalu.

.

Selamat memupuk asa sahabat. 🙂

Wallahu A’lam

Shaum Ayyamul Bidh yuk (hadits, keutamaan, dan hikmah)

Sahabat, tidak terasa kita sudah memasuki tengah bulan pada bulan hijriah. Bulan pun bersinar dengan terangnya dan tak lagi malu – malu menampakkan wajahnya. Bagi sebagian orang, mungkin menganggap fenomena ini adalah fenomena alam biasa dan harinya pun dilalui dengan biasa-biasa saja.  Untuk seorang peneliti fenomena pasut (pasang – surut) air laut, mungkin fenomena ini adalah salah satu dari sekian  fenomena yang akan mempengaruhi hasil penelitiannya (sekadar info, bahwa pengamatan untuk  penelitian dan pemodelan pasut air laut biasanya memakan waktu berhari – hari, bahkan bertahun – tahun lamanya).

Tapi lain halnya dengan seorang muslim, hari tersebut menjadi suatu hari yang istimewa dimana ia telah diberikan kesempatan untuk bertemu dengan suatu amal ibadah yang mendapakan tempat istimewa, dan melaksanakannya dengan sepenuh hati. Apa itu? Shaum Ayyamul bidh (terjemahan kasar: puasa hari putih/terang ).

Apa sih istimewanya?

Kenapa puasa ini begitu istimewa? Ada beberapa Alasan mengapa puasa ini terasa begitu istimewa ,antara lain:

Bahwa puasa ini memiliki ganjaran yang sangat besar di sisi Allah, sudah tentu kita sebagai umat muslim akan rugi jika melewatkannya.

Dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Puasalah tiga hari dari setiap bulan. Sesungguhnya amal kebajikan itu ganjarannya sepuluh kali lipat, seolah ia seperti berpuasa sepanjang masa.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan an Nasai)

Puasa ini juga puasa yang selalu dilakukan (sunah muakkad) oleh teladan terbaik kita Rasulullah Muhammad Saw, dan beliau juga mewasiatkannya kepada para sahabatnya juga umatnya:

Abu Hurairah ra. Berkata, “Teman dekatku (Nabi Muhammad saw.) berpesan tiga hal kepadaku: berpuasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.” (Muttafaq ‘alaih)

Ibnu Abbas ra. berkata, “Rasulullah saw. tidak pernah berbuka (tidak berpuasa) pada Ayyamul-Bidh, baik di rumah maupun sedang bepergian.” (h.r. Nasa’i. Sanad hadits ini hasan)

Luar biasa? pastinya…jadi tunggu apa lagi, pasang reminder di HP dan niatkan untuk melakukan puasa ini setiap bulannya.

Kapan, nih?

Terus gimana kalau terlewat atau lupa, atau hari tersebut jatuh pada hari dimana tidak diperbolehkan puasa misalnya…dan apakah harus di tiga hari tersebut?

Mu’adzah Al-Adawiyyah menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah ra., “Apakah Rasulullah saw. berpuasa tiga hari setiap bulan?” Aisyah menjawab, “Ya.” Saya bertanya, “Dari bagian bulan mana beliau berpuasa?” Aisyah menjawab, “beliau tidak peduli dari bagian mana beliau berpuasa.” (h.r. Muslim)

Imam Nawawi berpendapat bahwa tidak ada pengkhususan di hari berapa puasa sunah 3 hari setiap bulannya. Dan Yusuf Qardhawi dalam fiqh puasa juga berpendapat bahwa perbedaan hadits dalam menetapkan hari- hari puasa menunjukkan adanya toleransi. Setiap muslim boleh saja berpuasa di awal bulan, tengah bulan, atau akhir bulan, sesuai dengan kemudahan dan kesempatan yang ia miliki. Tapi kembali kata imam Nawawi, dalam hadits lain dijelaskan bahwa yang paling utamaadalah di harike -13, 14, dan 15 , seprti  dalam hadist:

Wahai Abu Dzarr, jika engkau ingin berpuasa tiga hari dari salah satu bulan, maka berpuasalah pada hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas.” (HR. At Tirmidzi)

Nah , gak bingung lagi kan? pastinya…jadi tunggu apa lagi, pasang reminder di HP dan niatkan untuk melakukan puasa ini setiap bulannya.

Hikmah

Wah kalau kita berbicara tentang hikmah pasti akan sangat banyak sekali hikmahnya. Apalagi suatu amalan yang memiliki ganjaran dan keistimewaan seperti ini. Gak akan sampai rasanya pikiran kita untuk melihat hikmahnya satu-persatu.

Salah satu hikmahnya adalah datang dari penelitian fenomenal seorang Psikolog dari Amerika Serikat bernama Arnold Lieber pada tahun 70-an. Bahwa perilaku manusia pada saat bulan purnama akan berubah menjadi  lebih buruk daripada biasanya. Terlepas dari segala kontroversi dan benar atau tidaknya penelitian tersebut. (kalau saya tidak salah baca di sini dan di sini sih masih diperdebatkan  kebenaran dan keabsahan penelitian itu).  Ketika ilmu sains modern mengungkapkan adanya kelabilan emosi manusia saat bulan purnama, Islam telah menganjurkan untuk melaksanakan puasa tepat saat munculnya sang bulan purnama. Islam telah memberi jalan pada umatnya agar tidak terkena pengaruh kelabilan emosi yang terjadi pada tanggal tersebut. Rasulullah menganjurkan kita berpuasa, agar hati kita selalu terjaga dari amarah, nafsu, dan segala sifat buruk lain yang cendrung lebih meluap pada saat itu dibanding saat-saat lainnya. Dengan kata lain Puasa yang umat muslim kenal sebagai pengendali hawa nafsu dan syahwat ini, seakan ditempatkan begitu pas pada saat potensi berbuat keburukan sedang dalam potensi tertingginya.Kebetulan? Pastinya enggak dong.

Luar biasa? pastinya…jadi tunggu apa lagi, pasang reminder di HP dan niatkan untuk melakukan puasa ini setiap bulannya. (haha…pasti bosen sama reminder ini, tenang…kesalah bukan pada mata anda.., emang sengaja kok)

Semoga bermanfaat dan bisa menjadi motivasi kita dalam beramal..Amiin.

Wallahu A’lam Bishawab.

.

Sumber:
-Buku Fiqh Puasa-Ust Yusuf Qardhawi
-Syarah Riyadushshalihin – Imam Nawawi
http://www.associatedcontent.com/article/612189/does_a_full_moon_influence_human_behavior.html?cat=58
http://abcnews.go.com/TheLaw/bad-moon-rising-myth-full-moon/story?id=3426758&page=3
http://nandahanyfa.blogspot.com/2010/03/rahasia-ayyamul-bidh.html

7 Alasan Mencela Diri (Oleh:Khalil Gibran)

7 Alasan Mencela Diri

Oleh:Khalil Gibran

.

Tujuh kali aku pernah mencela jiwaku

Pertama kali

ketika aku melihatnya lemah padahal seharusnya ia bisa kuat

Kedua kali

ketika melihatnya berjalan terpincang-pincang di hadapan seorang yang lumpuh

Ketiga kali

ketika berhadapan dengan pilihan yang sulit dan yang mudah, ia memilih yang mudah

Keempat kalinya,

ketika ia melakukan kesalahan, dan menghibur diri dengan mengatakan bahwa semua orang juga melakukan kesalahan

Kelima kalinya,

ketika ia menghindar karena takut ia mengatakannya sebagai sabar

Keenam kalinya

ketika dia mengejek kepada sebentuk wajah buruk, padahal ia tahu bahwa wajah itu adalah salah satu topeng yang sering ia kenakan

Dan ketujuh,

ketika ia menyanyikan lagu pujian, dan menganggap itu sebagai sesuatu yang bermanfaat

Kategori baru: Sastra

Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani
(Umar bin Khattab)

“Sesuatu yg dibutuhkan untuk menghaluskan jiwa adalah seni dan sastra” (Buya Hamka)

Entah kenapa akhir – akhir ini lagi tertarik dengan hal ini (baca: sastra). Dimotivasi juga oleh kedua petuah oleh kedua orang yang sangat luas ilmunya diatas, tentang pentingnya memepelajari sastra. Akhirnya dibuatlah kategori baru yang khusus mengumpulkan karya-karya sastra buatan sendiri maupun orang  lain yang sangat menginspirasi penulis. Walaupun latar belakang keilmuan dan pengalaman penulis yang sangat jauh dari kata sastra.

Semoga bisa memberikan inspirasi yang sama atau lebih banyak kepada sahabat-sahabat pembaca sekalian.

Sejauh Mana Kadar Kemuliaan Kita

Kemuliaan dan fitrah manusia

Sudah menjadi fitrah manusia untuk menjadikan dirinya seorang manusia yang mulia. Kata mulia sendiri jika kita lihat dalam KBBI(kamus besar bahasa indonesia-red) berarti tinggi kedudukan, pangkat ,atau  martabatnya, atau bisa juga tertinggi maupun terhormat. Dengan menjadi mulia seorang manusia akan dihargai dan mendapatkan kedudukan yang terhormat. Dalam “Hierarki kebutuhan Maslow” yang cukup terkenal dalam bidang psikologi, juga disebutkan bahwa kebutuhan untuk dihargai atau esteem needs adalah kebutuhan yang dimilki oleh setiap orang.

Jika kita lihat realita yang terjadi sekarang, banyak sekali fenomena yang terjadi di masyarakat dalam hal mencari kemuliaan ini. Khususnya mencari kemuliaan dimata manusia. Banyak cara mereka lakukan untuk mendapat kemuliaan, bahkan hingga menggunakan berbagai macam cara. Mulai dari membeli ijazah agar terlihat sebagai orang pintar, mengeluarkan uang yang tidak sedikit dan menggunakan berbagai cara yang kotor untuk mendapatkan jabatan, melakukan hal yang tidak baik untuk mendapatkan poularitas semata, dan lain-lain.

Lalu , apakah islam melarang kita mencari kemuliaan? Tentu sebagai dien yang mulia dan fitrah (yang sangat sesuai degan fitrah manusia, karena diturunkan langsung oleh Sang Pencipta manusia itu sendiri), islam sangat mengerti betul kebutuhan manusia yang satu ini. Lalu bagai mana islam memandang kemuliaan?

Kemuliaan sejati adalah kemuliaan di mata Allah

Dari Sulaiman bin Yasar, dia berkata: Suatu saat, ketika orang-orang mulai bubar meninggalkan majelis Abu Hurairah –radhiyallahu’anhu-, maka Natil berkata kepadanya, “Wahai Syaikh, tuturkanlah kepada kami suatu hadits yang pernah anda dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Abu Hurairah menjawab, “Baiklah. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah: Seorang lelaki yang telah berjuang demi mencari mati syahid. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya,“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku menemui mati syahid.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu berperang agar disebut-sebut sebagai pemberani, dan sebutan itu telah kamu peroleh di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.

Seorang lelaki yang menimba ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca/menghafal al-Qur’an. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku menimba ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca/menghafal al-Qur’an di jalan-Mu.” Allah menimpali jawabannya,“Kamu dusta. Sebenarnya kamu menimba ilmu agar disebut-sebut sebagai orang alim, dan kamu membaca al-Qur’an agar disebut sebagai qari’. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.

Seorang lelaki yang diberi kelapangan oleh Allah serta mendapatkan karunia berupa segala macam bentuk harta. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Tidak ada satupun kesempatan yang Engkau cintai agar hamba-Mu berinfak padanya melainkan aku telah berinfak padanya untuk mencari ridha-Mu.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sesungguhnya kamu berinfak hanya demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang dermawan. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.”

(HR. Muslim [1903], lihat Syarh Muslim [6/529-530])

Dari hadist yang cukup terkenal tersebut, dapat kita lihat bahwa bagi kita seorang muslim, kemuliaan dan penghargaan di mata manusia dapat saja bernilai kecil bahkan nol di hadapan Allah. Sudah barang tentu kita ingin dan bahkan lebih baik jika kita  menjadi mulia dimanapun kita berada dan dihadapan siapapun. Tetapi jika kita merujuk dari salah satu  hikmah yang bisa diambil dari hadits di atas adalah, kemuliaan kita di hadapan Allah adalah lebih kita prioritaskan dibading kemuliaan dihadapan siapapun.

Dapatkan kemuliaan itu 

Mendapatkan kemuliaan (di hadapan Allah) bukan perkara yang sulit sebenarnya, tetapi juga bukan perkara yang gampang. Karena Allah sudah banyak memberikan kita petunjuk , baik itu dari Al-Qur’an , Hadits, maupun hikmah dari para ulama. Dapat menjadi sulit karena banyak halangan dan kekurangan kita sebagai manusia yang itu dapat menghambatnya, seperti, keodohan, kesombongan, dll. Ada banyak jalan kemuliaan yang Allah tunjukkan kepada kita, salah satunya adalah:

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Yap, kebermanfaatan. Islam memberikan konsep yang sangat berbeda dengan hawa nafsu kita kebanyakan, yang menilai kemuliaan dari harta dan jabatan. Dimana orang yang mulia adalah orang yang mempunyai kebermanfaatan untuk sekitar dimanapun ia berada.

Juga

“Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang menzhalimimu, memberi orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu.” (H.R. Baihaqi).

Tidak jarang orang beranggapan bahwa orang yang minta maaf atau memaafkan itu hina, dan statusnya lebih rendah. Tapi islam berkata lain, dengan meminta maaf dan memaafkan ternyata memang kita menjadi orang yang  jauh lebih mulia. Lalu banyak cara-cara lainnya dalam memperoleh kemuliaan yang akan terlalu banyak jika disebutkan satu-satu.

Mengukur Kadar Kemuliaan kita

Setelah mengetahui apa pentingnya dan hakikat kemuliaan itu sendiri, tentu kita ingin tahu semulia apa kedudukan kita disisi Allah , ternyata dengan sangat indah Allah memberitahu kita melalui baginda Rasulullah saw, tentang hal itu:

Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah hendaklah dia mengamati bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya. Sesungguhnya Allah menempatkan hambaNya dalam kedudukan sebagaimana dia menempatkan kedudukan Allah pada dirinya. (HR. Al Hakim)

Sebagaimana kedudukan Allah didalam diri kita , seperti itu pulalah Allah menempatkan kita di sisi-Nya. Mari kita sama-sama introspeksi diri seperti apa keadaannya sekarang? Apakah panggilan-Nya untuk shalat tepat waktu sering kita abaikan. Apakah Qalam-Nya yang agung yaitu Al-Qur’an sering kita abaikan (tidak dibaca, ditaddaburi , dihafalkan, maupun diamalkan) , juga bila diperdengarkan kepada kita tidak membekas apapun pada diri kita?

Sudah terlalu banyak sepertinya jika kita ingat – ingat hal yang membuktikan bahwa kedudukan Allah dalam diri kita tidak setinggi harapan akan kedudukan kita di sisi-Nya. Jadi tunggu apa lagi, raih kemuliaan dan kita pertanyakan lagi pada diri kita sejauh mana kadar kemuliaan kita di sisi Allah.

Wallahu a’lam.

80 Persen Wartawan Indonesia Belum Profesional?

aksi keprihatinan wartawan (hileud.com)

Judul diatas diambil dari artikel dalam republika online yang saya baca beberapa hari yang lalu. Miris memang  jika melihat judul diatas, tak ayal banyak berita dan informasi yang beredar terkadang bukannya mencerdaskan masyarakat tapi malah membuat kekhawatiran berlebih atau membodohi masyarakat. Saya memang bukan seorang jurnalis maupun pakar dalam jurnalisme, juga tidak punya dendam pribadi terhadap wartawan. Tapi seperti yang kita tahu bagaimana besarnya peran wartawan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Membuat saya mengangkat tema ini dan selalu menjadi berfikir berkali-kali lalu berhati – hati dalam mengambil informasi dari media massa. Yah semoga para jurnalis juga sering-sering introspeksi diri jangan selalu menuntut “kebebasan pers” tapi  laksanakan juga “kewajiban pers” dengan sebaik-baiknya.  Sehingga bisa bergerak bersama rakyat untuk mencerdaskan dan memajukan bangsa. Berikut artikelnya yang dimuat republika online 25 april 2011:

REPUBLIKA.CO.ID, KALIANDA, LAMPUNG SELATAN – Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Margiono menyebutkan sekitar 80 persen wartawan atau pekerja media di Indonesia masih belum profesional dalam menjalankan tugas kewartawanan. “Masih ada wartawan yang tidak memahami kode etik jurnalistik sebagai salah satu pegangan atau tuntunan wartawan dalam menjalankan tugas peliputannya,” katanya saat peringatan Hari Pers Nasional 2011 dan HUT ke-65 PWI, di Kalianda Kabupaten Lampung Selatan, Senin (25/4).

Menurut dia, sebagai wartawan harus profesional dalam setiap melaksanakan peliputan sehingga tidak terjadi permasalahan dengan hukum. “Kalau wartawan suka dan gemar membaca buku, khususnya buku kode etik jurnalistik (KEJ), maka tidak ada lagi wartawan yang tersangkut permasalahan hukum, karena sudah memahami KEJ tersebut,” kata dia.

Ia juga menegaskan, tidak ada wartawan yang kebal hukum sehingga siapapun wartawan yang berani melanggar hukum maka dapat dipidanakan. “Pejabat pemerintah atau apapun apabila ada wartawan yang tidak mematuhi kode etik maka jangan segan-segan untuk melaporkannya kepada pihak yang berwajib,” katanya.

Untuk itulah, ia menambahkan, perlu adanya pemahaman yang matang tentang kode etik jurnalistik sehingga wartawan dapat bertindak profesional dalam menjalankan tugasnya. “Semakin banyaknya wartawan yang memahami kode etik maka akan menciptakan pekerja pers yang profesional,” ujarnya.

Wartawan, sambung Ketua Umum PWI Pusat itu, jangan hanya bisa mengeritik dan mengoreksi kesalahan saja, namun harus dapat melihat serta mengakui keunggulan orang lain sehingga dapat bersinergi dalam menjalankan tugasnya. Untuk itu, ia mengharapkan seluruh ketua-ketua cabang PWI dapat selalu memberikan pemahanan kode etik jurnalistik bagi anggotanya sehingga dapat menciptakan wartawan yang profesional.

Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara

(AKHIRNYA) UU INFORMASI GEOSPASIAL DISETUJUI DPR

Rapat Paripurna DPR-RI tentang RUU-IG (bakosurtanal.go.id)

Alhamdulillah,akhirnya disetujui juga RUU-IG ini, berita ini tentu menjadi kabar baik bagi praktisi atau orang – orang yang bergelut di bidang informasi geospasial khususnya dan masyarakat pada umumnya. Sudah kenyang sepertinya saya pribadi sebagai orang geodesi, salah satu bidang yang cukup mendalami bidang geospasial dengan permasalahan – permasalahan yang ada saat ini.Dan besar harapannya UU ini dapat menjadi salah satu jalan untuk  menyelesaikan berbagai permasalahan yang kerap terjadi. OK, rencana sudah ada dan bagus, tinggal realisasinya nih. Semangat buat bapak-bapak yang berwenang, soalnya saya belum ada kemampuan buat bantu banyak nih ^_^ . Mau tahu gambaran umum dari UU yang sudah diajukan pemerintah kepada DPR-RI sejak tanggal 16 Februari 2010 ini dan urgensinya?

Bakosurtanal — Rancangan Undang-Undang tentang Informasi Geospasial (RUU-IG) disetujui Dewan Perwakilan Rakyat untuk segera diundangkan. Demikian hasil Sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat, Selasa, 5 April 2011 di Gedung DPR RI Senayan Jakarta. Sidang paripurna  dibuka oleh Wakil Ketua DPR-RI, Pramono Anung dan dilanjutkan oleh Paparan dari Pemerintah  yang diwakili oleh Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata. Hadir dalam Sidang tersebut, Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, Asep Karsidi dan segenap pejabat terkait.

Lahirnya UU Informasi Geospasial didedikasikan untuk mendukung pengelolaan sumberdaya alam dan sumberdaya lainnya di negeri ini bagi kemakmuran seluruh rakyat Indonesia, dimasa kini dan masa yang akan datang, sebagaimana diamanatkan pasal 33 ayat (3) UUD 1945.

Bagi segenap Warga Negara Indonesia (WNI), hadirnya UU-IG merupakan satu jaminan yang melengkapi hak dalam memperoleh informasi untuk meningkatkan kualitas pribadi dan kualitas lingkungan sosial sebagaimana dituangkan pada Pasal 28F, UUD 1945. Lahirnya UU-IG juga didedikasikan untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya di negeri ini bagi kemakmuran seluruh rakyat Indonesia, di masa kini dan masa yang akan datang, sebagaimana diamanatkan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.
UU-IG memuat prinsip penting, bahwa informasi geospasial dasar (IGD) dan secara umum informasi geospasial tematik (IGT) yang diselenggarakan instansi pemerintah dan pemerintah daerah bersifat terbuka. Semangat UU ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Artinya segenap WNI dapat mengakses dan memperoleh IGD dan sebagian besar IGT untuk dipergunakan dan dimanfaatkan dalam berbagai aspek kehidupan. Masyarakat pun dapat berkontribusi aktif dalam pelaksanaan penyelenggaraan IG, sehingga diharapkan industri IG dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Sementara itu segenap penyelenggaraan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah yang terkait dengan geospasial (ruang-kebumian) wajib menggunakan IG yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Perlu pula disampaikan prinsip lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu bahwa IGT wajib mengacu kepada IGD. Prinsip atau aturan ini diberlakukan untuk menjamin adanya kesatupaduan (single referency) seluruh IG yang ada. Sehingga tidak ada lagi kejadian tumpang tindih IG dan perbedaan referensi geometri pada IG. Sebagaimana dimaklumi, tumpang tindihnya pembuatan berbagai IG, atau lebih dikenal secara umum dengan kata “peta”, saat ini masih sering terjadi, hal ini mengakibatkan borosnya anggaran pembangunan. Sementara itu perbedaan referensi geometris sering berakibat pada ketidakpastian hukum. Ketika dua atau lebih kawasan digambarkan secara tidak akurat di lapangan, misalnya terjadi pada ketidaksepahaman masalah batas wilayah administratif hingga masalah batas wilayah negara, atau antara kawasan tertentu kehutanan dengan kawasan pengelolaan pertambangan.

IGD secara definisi di dalam UU-IG terdiri atas jaring kontrol geodesi dan peta dasar. Jaring kontrol geodesi menjadi acuan referensi posisi horizontal dan vertikal serta acuan gayaberat. Peta dasar merepresentasikan berbagai unsur penting di muka bumi yang dapat menjadi acuan geometris (titik, garis dan poligon atau luasan) di darat, pesisir dan laut, seperti garis pantai, hipsografi (garis kontur dan/atau garis batimetri), jaringan transportasi dan utilitas, hidrologi (perairan), batas wilayah, nama geografis (atau nama rupabumi), bangunan dan fasilitas umum, dan penutup lahan.

IGT adalah informasi geospasial yang memuat satu atau lebih tema tertentu. IGT sangat beragam, baik pada pemerintahan ataupun pada masyarakat. Instansi pemerintah bertanggung jawab menyelenggarakan IG terkait dengan tugas, fungsi dan kewenangan masing-masing. Contoh IGT yang diselenggarakan dalam rangka pemerintahan antara lain IG: pertanahan, kehutanan, pertanian, perkebunan, kelautan, pertambangan, perhubungan, komunikasi dan informasi, lingkungan hidup, penataan ruang, pariwisata, cagar alam, dan penanggulangan bencana. Sementara masyarakat dan badan usaha dapat menyelenggarakan IGT, seperti informasi perkotaan, perhotelan, restoran, panduan navigasi elektronik, perumahan/real estate, dan lain-lain. Mereka dapat membuat IG untuk kepentingan sendiri atau sebagai komoditas komersial dalam jasa IG.

Kami berharap dengan lahirnya UU-IG ini dapat menjamin kemudahan akses untuk memperoleh IG yang sistematis, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga kebijakan dan pelayanan publik, khususnya yang terkait dengan kebijakan ruang-kebumian, akan lebih akurat dan terpercaya. Selain itu industri IG dapat tumbuh, hingga pemanfaatan IG dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat di tanah air.

sumber : bakosurtanal.go.id

.

Naskah RUU dan naskah akademiknya (tipe yang lebih enak dibaca) bisa di DL di:

RUU

Naskah Akademik