Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu (?)

Alhamdulillah, setelah sekitar 8 (delapan) hari aksi genocide gerombolan (negara) yahudi di tanah Gaza, Palestina, aksi tersebut diakhiri. Kejadian tersebut diakhiri dengan diadakannya gencatan senjata antara kedua belah pihak yang mengharuskan kedua pihak mengehentikan serangan satu sama lain dan juga membuka blokade barang ke sana (untuk berita lebih lengkapnya lihat tautan  http://aje.me/SSiwnM). 

Kesepakatan gencatan senjata itu, yang diperantarai Mesir, berlaku mulai pukul 21.00 waktu setempat (Kamis, 02.00 WIB) (http://bit.ly/QaPIKN). Gencatan sejata tersebut juga menandai berakhirnya pertempuran yang menyebabkan meninggalnya 162 warga Palestina.

Tetapi yang jadi pertanyaan (yang bahkan sebenarnya tidak perlu menjadi pertanyaan karena jawabannya sudah jelas, sejelas matahari di langit cerah khatulistiwa), apakah dengan gencatan senjata ini kepedulian kita yang sudah ditunjukkan dengan gencarnya dukungan yang salah satunya melalui sosial media (sayangnya bukan media) harus berhenti? Juga gelontoran dana untuk pembangunan sarana umum, juga haruskah berhenti? Apakah tautan ekspor amunisi berupa do’a kepada saudara – saudara kita juga harus mengalami “gencatan” ?

Tanpa coba menjawab pertanyaan di atas, beberapa hari yang lalu saya secara “kebetulan” menemukan sebuah karya sastra anak bangsa terkait Palestina. Tentu kita semua sudah mengenal seorang Taufiq Ismail seorang penyair angkatan 66 (kalau gak salah saya dapat istilah ini di pelajaran bahasa Indonesia dulu, mohon di koreksi kalau salah🙂 ) yang tersohor. Salah satu karyanya yang hampir sama judulnya dengan judul tulisan di atas yaitu “Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu”  adalah karya yang baru saja saya temukan dan baca beberapa hari lalu. Melihat bahwa karya tersebut sudah dibuat sejak tahun1989 (waktu saya masih berstatus bocah ingusan, bahkan jabang bayi🙂 )  membuat saya kembali tersadar betapa lama dan panjangnya perjuangan saudara Palestina kita. Sedangkan bantuan dana, do’a dan, apapun yang bisa dilakukan hanya ada jika serangan besar atau ada momen-momen khusus terkait negara tersebut.

.

.

Dan penyesalan diringi dengan pertanyaan pun muncul.

“Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu (?) ”

Melupakanmu, sedangkan aku hidup enak di tanah yang damai ini.

Melupakanmu bagai kita adalah bangsa yang tidak berhubungan sama sekali.

Melupakanmu dengan tak acuh akan keadaanmu.

Melupakanmu dengan berhenti mengirim do’a dan dukungan walaupun sesaat.

Berganti dengan pernyataan sumpah dan ikrar dalam diri.

Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu

Sedangkan kita adalah saudara seiman yang diikat tali aqidah.

Sedangkan perjuanganmu adalah perjuangan seluruh umat muslim di dunia.

Sedangkan perjuanganmu  dan perjuanganku memiliki satu vektor besar yang sama.

Vektor ibadah meraih ridha Allah.

.

.

Bismillah, semoga (kita) bisa tetap istiqamah dalam berjuang dan beramal.

Wallahu ‘alam

nb: Berikut saya lampirkan puisi karya Taufiq Ismail berjudul “Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu”, yang menginspirasi tulisan saya kali ini.

Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu

oleh Tufiq Ismail

Ketika     rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer 
dengan suara gemuruh menderu, serasa pasir 
dan batu bata dinding kamartidurku bertebaran 
di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan 
mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika     luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan
apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan lalu di
Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari kantor
agraria, serasa kebun kelapa dan pohon mang-
gaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas 
mereka.

Ketika     kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai
kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu-
sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening
kita semua, serasa runtuh lantai papan surau
tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an
40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan
yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini
ditetesi
air
mataku.

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Ketika     anak-anak kecil di Gaza belasan tahun  bilangan
umur mereka, menjawab laras baja dengan tim-
pukan batu cuma, lalu dipatahi pergelangan
tangan dan lengannya, siapakah yang tak 
menjerit serasa anak-anak kami Indonesia jua yang
dizalimi mereka – tapi saksikan tulang muda
mereka yang patah akan bertaut dan mengulur
kan rantai amat panjangnya, pembelit leher
lawan mereka, penyeret tubuh si zalim ke neraka.

Ketika     kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-
Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim
Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang diba-
cakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami
semua berdegup dua kali lebih gencar lalu ter-
sayat oleh sembilu bambu deritamu, darah kami
pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan
kaligrafi

‘Allahu Akbar!’
dan 
‘Bebaskan Palestina!’

Ketika    pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi
dusta, menebarkannya ke media cetak dan 
elektronika, mengoyaki tenda-tenda pengungsi
di padang pasir belantara, membangkangit reso-
lusi-resolusi majelis terhormat di dunia, mem-
bantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser
Arafat dan semua pejuang negeri anda, aku pun
berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at
sedunia: doakan kolektif dengan kuat seluruh
dan setiap pejuang yang menapak jalanNya, 
yang ditembaki dan kini dalam penjara, lalu
dengan kukuh kita bacalah
‘laquwwatta illa bi-Llah!’

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.

Sumber :  foto dan puisi

Posted on November 22, 2012, in Brainstorming, hikmah, Indahnya Islam, Sastra, Wawasan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: