Antara Persepsi Iman dan Akal (Bag 1:Pelajaran dari 3 Ekor Lalat)

Apabila seekor lalat hinggap di tempat minum salah seorang dari kalian,hendaknya ia mencelupkan ke dalam minuman tersebut, kemudian membuangnya, karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat penawarnya. (HR. Bukhari)

“Ohh…baiklah”.

Seingat saya, kata itulah yang pertama kali muncul dalam benak pada saat pertama kali mendengar hadits tersebut.  Terkadang beberapa kali terlintas juga secara iseng dalam pikiran, “Gimana yah cara menangkap seekor lalat (untuk dicelupkan) yang kelincahannya cukup terkenal dikalangan golongan serangga tersebut, apa harus belajar kungfu dulu biar bisa nangkep pake sumpit kayak di film (hehe).” Karena memang selama pengalaman berhubungan dengan yang namanya lalat, mentok-mentok paling cuma hinggap aja di pinggiran gelas. Tidak pernah sekalipun sang lalat dengan kesadarannya sendiri terjun bebas ke dalam gelas yang berisi air minum.

Hari-hari pun berlalu dengan tidak terlalu memikirkan lagi akan hadits tersebut. Hingga pada suatu hari di kota Tanggerang, saat sedang berkunjung ke rumah pembimbing tugas akhir saya waktu berkuliah dulu. Seolah – olah Allah ingin menjawab rasa penasaran saya yang sudah memudar setelah sekian lama.  Entah kenapa tiba-tiba dengan sukarela ada tiga ekor lalat menceburkan diri dengan sukses atau bahasa gaulnya “nyemplung” ke dalam gelas yang berisi kopi hangat yang sedang saya minum. Dan berenang – renang agak meronta dengan santainya. Gak percaya? cekidot…

Kaget dan merasa jijk..tentu adalah reaksi normal bagi orang kebanyakan, apalagi dengan “cap” kotor yang sudah menempel erat pada lalat yang terkenal suka hinggap dimana saja. Dan itu pula yang saya rasakan dan pikirkan saat itu.

Membuang kopi yang sudah terkontaminasi mungkin merupakan solusi terbaik yang terpikir dan dapat dilakukan. Tetapi entah bagaimana, tiba-tiba teringat hadits yang sudah lama saya baca tersebut.  Sesaat, perang singkat pun terjadi dalam pikiran, antara membuang kopi tersebut sehingga memperkecil resiko terkena penyakit bawaan lalat, atau mencoba mengamalkan (sambil bereksperimen) hadist tersebut yang jarang – jarang ada kesempatan kayak gini.

Perang pun berakhir, dan pikiran kedua menang. Dengan sedikit ragu, satu per satu lalat yang masih berenang dengan gaya bebas (atau gaya lalat :)) tersebut saya celupkan kedalam kopi lalu saya buang. (catatan: alhamdulillah begitu dibuang lalat langsung terbang dengan bebas dan sehat wal ‘afiat, jadi buat para pejuang hak asasi lalat, tidak usah repot-repot menuntut saya :p)

Dan akhirnya dengan perasaan bercampur baur, kopi pun saya seruput hingga habis. (Kalau sahabat tidak percaya, sebenarnya ada foto buktinya tapi sengaja tidak dipublikasikan dengan alasan keselamatan kita semua..lho??) Dan hasilnya?? Tidak merasa apa – apa sih sebenarnya selain perasaan lega karena rasa penasaran berhasil terpuaskan, lega karena tidak ada gangguan kesehatan apapun setelahnya, juga lega karena insyaAllah sudah mengamalkan suatu anjuran Rasulullah saw.

Nah apa pelajaran dari kejadian (yang berkesan) gak penting dan iseng – iseng tersebut?

Setelah mencoba memikirkannya dalam – dalam, saya akhirnya mendapat suatu hipotesa yaitu terkadang dalam menghadapi konsekuensi keimanan yang salah satu bentuknya berupa kewajiban, larangan, perintah, ataupun anjuran. Kita seringkali membenturkannya dengan akal kita, sehingga konsekuensi-konsekuensi keimanan yang kita anggap tidak masuk akal (tidak logis) tidak kita amalkan bahkan kita ingkari. Tapi sadarkah kawan kalau ternyata bukannya konsekuensi (keimanan) tersebut yang tidak ‘masuk akal’ tapi akal kita yang tidak ‘masuk iman’. Bingung? Sama… dong, hehe🙂

Contoh, misalnya yang sering kita lakukan setiap hari, gerakan shalat. Kalau ditanyakan kepada orang diluar muslim, yang sama sekali belum pernah melihat seseorang melakukan shalat, pasti mereka akan merasa aneh dan berfikir sangat tidak masuk diakal gerakan – gerakannya. Setelah sekian lama dilaksanakan oleh umat muslim, ternyata bisa dijelaskan secara logika baru-baru ini salah satu (salah satu lho..) dari hikmah gerakan shalat, yaitu saat orang ramai membicarakan hikmah dan keuntungan gerakan shalat bagi kesehatan. Walaupun begitu insyaAllah kita sebagai seorang muslim melakukannya karena logika iman kita untuk melakukannya sudah terpenuhi, yaitu karena diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah. Nah apakah dulu saat awal melakukannya sibuk mencari alasan logis yang sesuai dengan ilmiah dulu baru mau melakukannya? tentu tidak kan.

Nah kembali ke judul awal, apa sih persepsi iman dan persepsi logika itu sendiri? Persepsi dapat kita artikan secara mudah sebagai sudut pandang. Sehingga persepsi iman adalah bagaimana kita menghadapi/menyikapi suatu persoalan dari sudut pandang iman.  Begitu pula dengan persepsi akal.

Contoh penyikapan tersebut sudah coba saya ilustrasikan dengan kejadian tiga ekor lalat tersebut. Sebuah kejadian yang walaupun remeh , karena diliat dari sudut pandang iman, dapat memberikan suatu hikmah baru khususnya untuk saya pribadi.

Terus kalau ada dua persepsi tadi, iman dan akal itu bersebrangan? Lalu seberapa hebatkah logika iman itu sampai – sampai mengalahkan logika akal sehingga harus dimenangkan di atasnya??

Bersambung…

next: Antara Persepsi Iman dan Akal (Bag 2: Se-cartridge tinta melawan Samudra)

nb: pada awalnya akan saya buat judul dengan tulisan iman vs logika, ternyata setelah difikir lagi judul tersebut kurang tepat. kenapa? lihat di bagian 2 ya..:)

Posted on April 4, 2012, in Brainstorming, hikmah, Indahnya Islam, Wawasan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. wahhh,, makasih banget informasinya gan,, ane baru tahu soalnya,, he

  2. Saya pernah mendengar hadits tetntang lalat nyemplung tsb diragukan kesohehannya….

    Ada info tambahan Bro….

    • Terima kasih kunjungannya dan infonya…kalau saya salah silahkan dikoreksi. Mungkin mas Dino bisa menyampaikan sumbernya pendapat yang meragukan keshahihannya? Karena kalau saya pribadi tahu-nya bahwa yang meriwayatkan adalah imam bukhari dalam kitab shahihnya juga disampaikan melalui abu hurairah…silahkan kalau memang saya salah agar dikoreksi, saya akan sangat berterima kasih kalau ada yang mengingatkan dikala saya salah…:)

  3. sambungannya belum juga muncul..hehehe…

    • iya nih…karena kelamaan inspirasinya jadi bias dan berserak tak tentu arah. Jujur sempet lupa mau nulis apa. Tapi karena diingetin InsyaAllah sudah nemu titik cerah dan segera ditulis lanjutannya minggu ini.
      nuhun udah diingetin🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: