Perjalanan seorang sahabat dalam mencari kebenaran. Part:1 (dari seorang mulia hingga budak)

deset dunes (beijinghikers.com)

Disuatu hari, dibawah pohon rindang di kota Madinah. Terdapat seorang sahabat Rasulullah yang mulia. Tampak terlihat ia sedang berada di dalam suatu majelis bersama rekan – rekannya. Di sana ia menceritakan kepada rekan – rekannya, perjuangan berat yang ia alami demi mencari kebenaran.

Mari sejenak kita mendekat ke dalam majelis ilmu dan hikmah tersebut untuk mendengarkan lalu menyimak dengan seksama penuturan beliau.

“Aku berasal dari wilayah Ishafan , dari desa Ji, ayahku seorang kepala wilayah. Aku adalah orang yang paling disayanginya. Aku membaktikan diri dalam agama Majusi. Aku bertugas sebagai penjaga api peribadatan agar tetap menyala.

Ayahku memiliki sebidang tanah. Suatu hari aku disuruhnya kesana. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, aku melewati sebuah gereja. Kudengar mereka sedang sembahyang, maka aku masuk untuk melihat apa yang mereka lakukan. Aku kagum melihat cara mereka sembahyang. Aku berkata dalam hati , “ini lebih baik dari agama Majusi yang kuanut selama ini.”

Aku berada di gereja itu sampai matahari terbenam. Aku tidak ke ladang ayahku dan juga tidak pulang, hingga ayah mengirim oarng untuk menyusulku.

Karena agama mereka menarik perhatianku, kutanya kepada orang-orang Kristen itu, dari mana asal-usul agama mereka. Mereka menjawab, “Dari negeri Syam.”

Ketika pulang kuceritakan pada ayah, “Aku melewati suatu kaum yang sedang sembahyang di gereja. Aku tertarik dengan cara sembahyang mereka. Menurutku , agama mereka lebih baik dari agama kita.”

Terjadi dialog antara kami. Ayah marah. Aku dirantai dan dikurung.

Aku kirim kabar kepada orang – orang kristen bahwa aku telah menganut agama mereka. Aku meminta kepada mereka untuk mengabariku jika ada rombongan dari Syam yang datang. Aku akan ikut mereka saat pulang ke Syam. Permintaanku itu mereka kabulkan. Aku putuskan ikatanku lalu keluar dari kurungan dan bergabung dengan rombongan itu menuju Syam.

Sesampainya disana , aku bertanya tentang ahli agama mereka. Mereka menjawab, “Uskup pemilik gereja.” Maka aku menemuinya, meneritakan keadaanku. Aku tinggal bersamanya, menjadi pelayan gereja, sembahyang dan belajar. Sayang , uskup ini orangyang tidak baik. Ia mengumpulkan sedekah dari warga yang semstinya dibagikan, namu ia simpan untuk kepentingan pribadinya.

Kemudian, uskup itu meninggal dunia. Mereka mengangkat orang lain sebagai penggantinya. Uskup baru ini saat taat beragama . Aku belum menjumpai orang lain yang  lebih zuhud dan lebih rajin beribadah darinya.

Aku sangat menghormatinya, melebihi yang lain. Saat ia akan meninggal dunia, aku bertanya kepadanya, “Anda tahu bahwa kematian akan menjemput anda. Apa yang harus kuperbuat? Kepada siapa aku harus berguru?”

“Anakku, hanya ada satu orang yang sepertiku. Dia tinggal di Mosul.”

Setelah ia wafat, aku berangkat ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkannya. Kuceritakan apa yang terjadi. Aku tinggal bersamanya cukup lama, hingga ia meninggal dunia. Sebelum ia meninggal , aku bertanya kepadanya. Dia menunjukkanku kepada seorang ahli ibadah di Nasibin. Aku datang kepadanya dan kuceritakan keadaanku. Aku tinggal bersamanya cukup lama , hingga ia meninggal dunia. Sebelum ia meninggal dunia , aku bertanya kepadanya. Aku disuruh berguru kepada sesorang lelaki di Amuria, Romawi. Aku berangkat ke sana dan tinggal bersamanya. Untuk memenuhi kebutuhanku , aku berternak sapi dan kambing.

Ketika dia akan meninggal dunia, aku memintannya menunjukkanku orangyang harus kuikuti. Dia berkata, “Anakku, aku tidak menyuruhmu datang ke siapa pun. Saat ini sudah diutus seorang Nabi yang membawa risalah Nabi Ibrahim. Dia akan hijrah ke satu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak diantara dua bebatuan hitam. Jika kau bisa pergi ke sana, lakukanlah. Dia mempunyai tanda-tanda yang jelas. Dia tidak menerima sedekah, tapi menerima hadiah. Dipundaknya ada tanda kenabian. Jika kamu melihatnya, kamu pasti mengenalnya.”

Suatu hari, ada rombongn lewat. Kutanyakan asal – usul mereka. Merka dari jazirah Arab. Maka aku berkata kepada mereka, “Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, dan sebagai imbalannya kuberikan kepada kaliansapi-sapi dan kambing-kambingku ini?”

“Baiklah,” kata mereka.

Aku ikut bersama rombongan itu. Ketika Sampai di daerah Wadil Qura, mereka berkhianat. Aku dijual ke seorang Yahudi. Aku melewati daerah yang penuh dengan pohon kurma. Aku mengira tempat itulah yang dimaksud oleh pendeta. Tempat yangakan dijadikan tujuan hijrah Nabi. Tapi ternyata bukan… (Bersambung ke Part 2: Aku seorang muslim merdeka)

.

Siapakah beliau? karena ceritanya cukup terkanal, sepertinya banyak sahabat yang bisa menebak. Yang belum..tunggu part selanjutnya dari kisah sarat hikmah ini.

.

Sumber:  dimodifikasi dari “60 sirah sahabat Rasulullah saw”-khalid muhammad khalid

Posted on April 12, 2011, in hikmah, Indahnya Islam, Sirah sahabat, Wawasan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: