Kenikmatan yang (bahkan) Tidak Bisa Dibayangkan.

Hadist Qudsi: “Kupersiapkan buat hamba-hamba-Ku yg shalih kenikmatan yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga dan tak pernah terbayang di benak siapa pun (manusia), “bacalah (firman Allah), ‘Seseorang tidak mengetahui apa yang disembunyikan buat mereka , yaitu (bermacam2 nikmat)yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan”(QS 32:17). [HR. Bukhari muslim]

Subhanallah, membaca hadist tersebut membuat saya pribadi menjadi berfikir dan merenungi lagi. Nikmat apa yang biasanya paling dingiinkan banyak orang , nikmat yang paling sulit didapat, nikmat yang mungkin hanya sebagian orang saja mendapatkannya di dunia ini dan sebagian lagi hanya mampu melihat, mencium, dan bahkan membayangkan.

Kalau kita bertanya kepada orang yang sakit, pasti jawabannya nikmat kesehatan. Kalau kita coba tanya kepada orang yang sedang sibuk , dan bayak kerjaan pastinya nikmat waktu yang luang. Kalau kita tanya kepada anak yatim, jawabannya adalah nikmat memilki orang tua. Kalau kita tanya kepada psangan suami-istri yang sudah menikah lama tapi belum memiliki anak pasti kebanyakan ingin mempunyai nikmat berupa anak yang lucu dan sehat. Pun mungkin kalau kita tanya orang kebanyakan, maka tidak jauh kenikmatan yang diinginkan adalah jabatan ataupun harta.  Kalau kita tanya kepada para da’i tentunya nikmat berupa hidayah dalam keislaman dan hidayah untuk berdakwah sepanjang hayatnya, dan mendapatkan ridha Allah di dunia dan akhirat.

Memang kalau kita bicara tentang kenikmatan yang paling diinginkan khususnya didunia ini, jawaban tiap orang sangat mungkin berbeda. Tergantung latar belakang, lingkungan , pola pikir, tingkat kesejahteraan, tingkat pendidikan, bahkan tingkat keimanan. tetapi bukan tadi yang akan saya bahas disini.

Bahwa setiap orang pastinya mempunyai sesuatu yang sangat diinginkannya itu merupakan keniscayaan yang ada dan tidak bisa dipungkiri. Tapi jika kita melihat hadist di atas dengan kacamata keimanan yang bersih. Maka akan timbul motiasi dalam diri kita, untuk menjadi hamba-hamba Allah yang shalih.

Untuk menjadi hambanya yang shalih, yang menurut saya perlu kita lakukan “hanya” bersabar untuk beriman dan bertaqwa kepada Allah selama hidup kita,tentu  dengan segala konsekuensinya. Karena kita yakin bahwa keidupan dunia ini hanya sebentar dibandingkan kehidupan akhirat yang “unlimited time” . Kalau kita mau jujur dan berpikir sedikit saja maka bisa kita bandingkan “63-100 tahun (usia manusia) ” berbanding “tak hingga tahun”.

Maka waktu hidup kita yang 63-100 tahun itu menjadi sangat kecil bahkan bisa tidak diperhitungkan (sering dalam perhitungan di teknik, suatu hal yang relatif sangat kecil walaupun ada itu tidak diperhitungkan).

Jadi sebenarnya kita tinggal pilih…bersabar dalam ketaqwaan dan keimanan kepada Allah , menjadi hambanya yang shalih selama 63-100 tahun sehingga mendapat kenikmatan yang tak terbayangkan selama “unlimited tahun”. Atau kita menikmati seluruh “nikmat dunia” secara berlebihan dan membuat kita lalai terhadap Allah , kita mungkin “bahagia” selama 63-100 tahun , tapi naudzubillah … sengsara selama “unlimited tahun” nantinya.

Sahabat,tinggal pilih nih…mau jadi yang mana kita??

Eitss…

Ternyata ada lagi nikmat melebihi nikmat yang tak terbayangkan tadi.

“Apabila ahli surga sudah masuk surga, Allah bertanya ,”Maukah aku tambahkan sesuatu buat kalian?” Mereka menjawab, “Bukankah wajah-wajah kami sudah bercahaya? Bukankah kami sudah engkau masukkan ke dalam surga? Bukankah Engkau telah selamatkan kami dari api neraka?”. Rasulullah bersabda, “maka tersingkaplah hijab, dan tidak pernah mereka diberi nikmat yang lebih mereka senangi dari pada melihat Rabb mereka”. Kemudian beliau membaca firman Allah, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat Allah)….” (Qs 10: 26) [HR. Muslim]

Nah, Mau???

Wallahu A’lam

Posted on December 24, 2010, in Brainstorming, hikmah, Indahnya Islam. Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. quote gan “Tapi jika kita melihat hadist di atas dengan kacamata keimanan yang bersih. Maka akan timbul motiasi dalam diri kita, untuk menjadi hamba-hamba Allah yang shalih.”

    nah, gimana tu cara kita bisa melihat dengan kacamata keimanan yang bersih ? beli baru ? ato dibersihiin aja kacamatanya ?

    • Agung Pandi Nugroho

      itu kan perumpamaan aja bro. Soalnya pernah dapet materi bahwa penghayatan kita akan sesuatu hal bisa berbeda tergantung keadaan masing-masing orang yang melakukannya. Pun sama dengan keadaan keimanan kita saat menghayati suatu hal (dalam hal ini contohnya hadist diatas).

      Gimana cara membersihkannya?? dengan melakukan pembersihan diri (tazkiyatun nafs) kalau dari pendapat ane sih. dan itu banyak caranya. Nanti kalau ada kesempatan ane tuliskan lebih lanjut ^^.

    • hoke,, ditunggu broo tulisannyaa..
      (~*.*)~ ~(*.*~)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: