Serial Kepemimpinan 2: Terminologi Kepemimpinan.

Bmillahirahmaanirraahim.

Asalamu’alaikum.

Pertama – tama sebelum kita melangkah lebih jauh, seperti yang sahabat lihat tulisan ini berjudul “Terminologi Kepemimpinan”. Mungkin ada yang bertanya apa itu teminologi? terminalkah?apa hubungannya kepemipinan dengan terminal, emang ada sih hubungannya tapi kalau kita lihat dalam kbbi (kamus besar bahasa indonesia) ternyata terminologi adalah “peristilahan” atau “ilmu mengenai batasan atau definisi istilah “. Lalu pertanyaan selanjutnya terminologi kepemimpinan menurut apa? dalam tulisan ini, tentunya menurut islam.

Ok, setelah mengetahui tentang terminologi. Sebagai pembuka dan refleksi akan sedikit penulis ceritakan mengenai salah satu pemimpin teladan kita dalam zaman keemasan islam. Yaitu, Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz disebut para ulama sebagai khulafa’ur rasyidin ke-5, karena kesamaan manhaj kepemimpinan beliau dengan empat khalifah pertama penerus Rasulullah saw. Nama lengkapnya Abu Hafsh Umar bin Abdul Aziz Marwan bin Al-Hakam. Ia seorang pemimpin dari generasi tabi’in. Lahir di Halwan Mesir tahun 61 H. Dibai’at menjadi khalifah pada saat wafat saudara sepupunya, Sulaiman bin Abdul Malik, pada tahun 91 H.

Pada saat dibai’at Umar bin Abdul Aziz berpidato. ”Wahai manusia, sesungguhnya tidak ada kitab sesudah Al-Qur’an dan tidak ada nabi sesudah Muhammad saw. Saya bukanlah qadhi (hakim), tetapi saya adalah pelaksana. Saya bukanlah tukang bid’ah, tetapi pengikut setia. Dan saya bukanlah yang terbaik di antara kalian, tetapi saya adalah yang paling berat tanggung jawabnya di antara kalian. Orang yang lari dari imam yang zhalim, bukanlah kezhaliman. Ingatlah, tidak ada ketaatan pada makhluk dalam kemaksiatan pada Khalik,” begitu sebagian isi pidatonya.

Umar bin Abdul Aziz adalah pemimpin yang sangat wara’, zuhud, bersih, dan peduli pada umat. Istrinya menceritakan bahwa pada suatu hari sedang di kamar tidur dan ingat tentang akhirat, beliau gemetar seperti burung dalam air, duduk, dan menangis. Sedangkan perhatiannya kepada umat sangat besar. Ketika akan istirahat siang sejenak karena capai melaksanakan tugas, anaknya memberi nasihat, ”Apakah Ayah menjamin umur ayah akan panjang sesudah istirahat sehingga menunda banyak urusan yang harus diselesaikan?” Umar bin Abdul Aziz tidak jadi istirahat dan langsung meneruskan tugasnya.

Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah hanya dua tahun lebih. Tetapi pada masa itu sangat banyak kesuksesan yang beliau lakukan. Salah satunya adalah pada saat pemerintahan beliau tak ada rakyatnya yang mau menerima zakat karena mereka semua hidup dalam kesejahteraan dan kedamaian.

Sahabat, untuk meraih kesuksesan seperti itu tentu banyak yang harus dilakukan dan dipersiapkan. Dan tentunya bukan perkara mudah yang bisa kita lakukan dengan bersantai ataupun berleha – leha. Dari sekian banyak hal yang dilakukan maka penulis yakin salah satu resep kesuksesan seorang pemimpin adalah seberapa jauh ia berhasil memaknai arti kekuasaan dan kepemimpinan.

Lalu, seperti apa islam memaknai kepemipinan? Ustad Hidayat Nur Wahid dalam salah satu bukunya menuliskan bahwa Al-Qur’an dan As-Sunnah sabagai rujukan pertama dan utama umat islam telah menampilkan lima terminologi tentang kepemimpinan, yaitu:

A. Al-Imam (perhatikan QS. 25:74), bentuk jamaknya adlah al-aimmah sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih Bukhari dan Muslim. Imam artinya pemimpin yang berada di depan (amam). Istilah ini juga sangat populer dipergunakan selain untuk kepemimpinan politik dan intelektual, ia juga populer dipakai untuk kepemimpinan dalam shalat berjama’ah. Ungkapan ini dalam bahasa Arab tampil dengan bentuk isim fa’il (subjek). Tetapi dalam bahasa Arab bentuk ungkapan ini juga berarti objek (makmum). Oleh karenannya mengomentari ayat 25:74 itu, Imam Ibnul Qayyim menyampaikannya dengan ungkapan , “Ya Allah jadikanlah kami makmum bagi orang-orang yang bertaqwa.” Karena seorang pemimpin berada dalam posisi imam , maka dari itu haruslah siap berada di depan atau dibelakang bersama orang-orang yang bertakwa, dan bahkan ia harus siap untuk menjadi imam maupun makmum dalam shalat dengan segala hikmah yang terkandung di dalamnya.

B. Al-Khalifah bermakna pemimpin yang mewakili , menggantikan, dan siap diganti oleh selanjutnya (QS 2 : 30). Karenanya para khulafa’ ar-Rasidun selain menggantikan Rasulullah s.a.w. sebagai pemimpin , mereka jga melanjutkan risalah beliau, bahkan siap dan rela bila kepemimpinannya dilanjutkan oleh pemimpin-pemimpin berikutnya. Dalam terminologi ini seorang pemimpin haruslah dalam posisi tidak melanggengkan kekuasaannya , melainkan ia selalu beraktifitas bijak termasuk mempersiapkan keberlanjutan kepemimpinan generasi berikutnya.

C.Al-Malik artinya raja. Hanya saja Al-Qur’an sekaligus mengaitkan status ini dengan hakikat kerajaan yang sepenuhnya adalah milik Allah saja. Sementara kekuasaan kerajaan yangdiberikan kepada manusia hanyalah bersifat nisbi yang semestinya digunkan untuk merealisir kemaslahatan kehidupan. Di antara kemaslahatan tersebut adalah memunculkan kesentausaan bagisang Raja dan bagi rakyatnya dengan sepenuhnya melaksanakan ketentuan – ketentuan Allah SWT. Karenya Allah menegaskan Dia-lah Raja dari para raja. Oleh karenanya para raja di dunia itu haruslah menselaraskan diri dengan hakikat kekuasaan yang mereka miliki dan tidak melampauinya agar tidak muncul kehinaan dan kedzaliman bagi kemanusiaan. Hal ini jelas terungkap dalam QS 3:26.

D.Al-Amir artinya seorang pemimpin yang dapat memerintah. Ia pun berarti ism maf’ul (objek) sehingga bermakna pemimpin yang dapat dikoreksi oleh rakyatnya atau diperintah untuk memperbaiki diri oleh rakyatnya. Seorang pemimpin dalam terminologi ini adalah seorang pemberani dan berwibawa, sehingga ia dapat efektif memerintah melalui perintahnya yang ditaati rakyat, ketika perintah itu benar. Ia dapat berlapang dada untuk menerima perintah dari rakyat melalui koreksi mereka. Dengan cara ini, kehidupan kepemimpinan di suatu negeri akan membawa manfaat yang besar bagi kehidupan bangsa dan efektifnya penyelengaraan negara. Rasulullah s.a.w. adalah contoh tipe kepemimpinan dalan terminologi al-amir ini yang secara realistis sungguh berhasil melahirkan masyarakat madani dan negara Madinah yang rahmatan lil-‘alamin.

E.Ar-Ra’i artinya adalah pemimpin yang senantiasa memberikan perhatian kepada ra’iyah (rakyat) (HR. Bukhari Muslim). Dalam hadist Rasulullah s.a.w. sering mengingatkan bahwa peran kepemimpinan yang selalu peduli kepada rakyatnya itu ada di seluruh level kepemimpinan. Beliau pun mengaitkan secara langsung korelasi positif timbal balik antara rai’i dengan ra’iyyah-nya. Keakraban semacam ini lah yang bila dilakukan seorang pemimpin tentu akan menciptakan iklim kepemimpinan yang penuh empati, kepdulian, dan kedekatan dengan rakyat. Oleh karenanya sang pemimpin tidak akan berlak dzalim, aniaya, dan semena-mena dalam kebijakannya terhadap rakyat.

Sahabat, insyaAllah dengan kita mengetahui terminologi kepemimpinan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Maka diharapkan setiap diri kita bisa memaknai kepemimpinan dengan sebaik – baiknya dan bisa menjadi sebaik – baik pemimpin. Karena kata Rasulullah tiap kita adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya tentang apa yang kita pimpin. Jadi sudah siapkah kita untuk dimintai pertanggungjawaban akan kepemimpinan kita kelak?

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat.

-agung pandi nugroho-

 

sumber:

http://www.dakwatuna.com

Majalah Tarbawi

Buku mengelola masa transisi menuju masyarakat madani – Ustad M.Hidayat Nur Wahid.

Posted on December 11, 2010, in Brainstorming, hikmah, Indahnya Islam, Wawasan. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. assalamu’alaikum wr wb.
    Kak agung, maaf mau
    nanya,
    klo kelas pak agus yg hari
    rabu jam 9 itu ujiannya di
    ruang berapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: