—Farewell Ramadhan— Agar “minal a’idzin wal faidzin” bukan sekedar ucapan dan tradisi

Sahabat, Ramadhan sudah pergi meninggalkan kita. Bebagai penyikapan dari umat islam di Indonesia menjadi bumbu tersendiri yang memberikan cita rasa yang tinggi akan  indahnya ragam kebudayaan umat muslim.

Ada yang menyikapi dengan kegembiraan, gembira karena idul fitri merupakan salah satu hari raya “resmi” seluruh kaum muslimin yang kita dianjurkan bergembira pada hari tersebut, gembira karena akan segera bertemu dengan sanak keluarga yang lama tidak ditemui, gembira karena terlepas dari belenggu puasa??? ^^! yang terakhir ini semoga tidak.

Ada yang menyikapi dengan kesedihan, sedih karena merasa belum maksimal memanfaatkan segala fasilitas setingkat dengan pelayanan “VIP”, yang diberikan Allah melalui Bulan Ramadhan kepada para insan yang haus akan ampunan dan balasan yang besar dari Allah SWT,  sedih karena tidak tahu apakah diri yang lemah ini akan diberikan kekuatan oleh Allah untuk bertemu lagi dengan Ramadhan selanjutnya.

Ada yang menyikapinya dengan kecemasan, cemas karena belum punya baju baru,cemas karena belum beli ayam untuk bikin opor, cemas karena jalanan macet sehingga belum sampai-sampai juga ke kampung halaman. Haha…kembali , inilah indahnya ragam kebudayaan umat muslim.

Lalu apa ada yang salah dengan penyikapan tersebut? menurut hemat penulis yang awam ini, selama sikap kita dilandaskan untuk mencari ridha Allah dan tidak berlebih – lebihan maka sikap manapun yang kita ambil. InsyaAllah tidak masalah.

Selain fenomena-fenomena unik diatas, terdapat juga budaya unik umat muslim Indonesia lainnya. Yaitu mudik (a.k.a. pulang kampung) , bersilaturahim, saling memaafkan, dan saling mengucapkan “Taqabalallahu minna wa minkum siamana wa siamakum minal aidzin wa faidzin, mohon maaf lahir dan batin”.

Yap, “minal aidzin….dst” sudah tidak asing dan bahkan sering kita ucapkan dalam momen idul fitri/”lebaran”.Tapi tahukah kita sedikit sejarah dan makna dari ucapan tersebut? Mungkin sebagian besar kita tidak mengetahuinya dan hanya sekedar mengucapkannya saja, padahal kalau kita renungi dan perdalam lagi, didalam do’a tersebut terdapat arti yang sangat indah yang bisa membantu kita untuk memaknai lagi perayaan Idul Fitri kita.

Idul fitri sendiri secara bahasa dan maknawi dapat kita artikan sebagai “kembali kepada fitrah atau kesucian” karena tempaan selama sebulan di bulan ramadhan dan sudah tentu berkat ampunan dari Allah  atau “hari raya berbuka” dimana setelah sebulan berpuasa,umat muslim berbuka sebagai ungkapan syukur kepada Allah.

Melihat kedua makna tersebut, tidak salahlah do’a yang sering dibacakan orang muslim ketika berjabat tangan dan saling memaafkan

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ الْفَائِزِيْنَ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

yang artinya kurang lebih: “Semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang kembali (kepada fitrah) dan sebagai hamba-hamba-Nya yang menang (melawan hawa nafsu). Dan semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita semua.

Ya…ucapan tersebut memang bukan hadist, melainkan do’a, adapun hadistnya (walaupunnya menurut Ibnu Hajar hadist ini dha’if (lemah)) adalah

Dari Khalid bin Ma’dan ra, berkata, Aku menemui Watsilah bin Al-Asqo’ pada hari Ied, lalu aku mengatakan, ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka”. Lalu ia menjawab, ‘Iya, Taqabbalallah Minna Wa Minka,’. Kemudian Watsilah berkata, ‘Aku menemui Rasulullah SAW pada hari Ied lalu aku mengucapkan ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka’, kemudian Rasulullah SAW menjawab, ‘Ya, Taqabbalallah Minna Wa Minka’ (HR. Baihaqi Dalam Sunan Kubra).

“Taqobbalalloohu Minnaa Waminkum” yang berarti do’a yang berisi harapan semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita semua dan “Minal ‘aidzin wal faidzin” yang juga do’a yang berisi harapan agar kita menjadi hamba-hamba-Nya yang kembali (kepada fitrah) dan sebagai hamba-hamba-Nya yang menang (melawan hawa nafsu).

Jadi walaupun bukan hadist,InsyaAllah do’a itu baik dan dapat mengingatkan kita akan makna Idul Fitri itu sendiri. Jadi dengan kita mengetahui arti dan makna yang terdapat didalam do’a tersebut semoga ucapan “Taqobbalalloohu Minnaa Waminkum” dan “Minal ‘aidzin wal faidzin” kita bukan sekedar ucapan dan tradisi, melainkan benar – benar menjadi do’a yang kita paham benar artinya dan benar – benar kita harapkan hal itu terkabul.

Terkabul Untuk orang yang kita doakan, juga untuk kita yang mendo’akan. Amiin.

(dari berbagai sumber)

Posted on September 9, 2010, in Indahnya Islam, Pesona Ramadhan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: