Ka’ab bin Malik dan kisahnya yang abadi sepanjang masa. (part two: dan Bumi pun terasa sempit)

“dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja……” (TQS 9 : 118)

Bagian dua dari trilogi kisah abadi Ka’ab bin Malik yang masih diambil dari kitab riyadushalihin imam nawawi, berdasarkan hadist muttafaqun ‘alaih.

Kebayang ga,  bumi yang luasnya kayak gini kerasa sempit dan menyesakkan jiwa. Pastinya sulit untuk membayangkannya dan ujian yang dihadapi ka’ab bin malik jelas sangat berat hingga keluar istilah seperti itu.

Tidak usah berlama-lama lagi…Selamat menikmati.

============ ========= ========= ========= ========= ========= ================

….Lalu aku datang . Ketika aku ucapkan salam, beliau tersenyum penuh kemarahan. Lalu berkata, “Kemarilah”. Aku mendekat hingga berada di hadapan beliau.

“Apa yang membuatmu tidak ikut? Bukankah kamu telah membeli kendaraan (kuda)?”

“Ya Rasulullah, seandainya aku berhadapan dengan orang selain engkau, aku akan bisa selamat dari kebenciannya, karena aku bisa mengemukakan berbagai alasan. Akan tetapi , aku sekarang berhadapan dengan engkau. Jika saat ini aku memberikan alasan palsu sehingga engkau tidak marah , aku khawatir setelah itu Allah menjadikan engkau marah kepadaku. Jika aku berkata jujur , engkau pasti pasti marah kepadaku. Namun, aku berharap mendapatkan ampunan dari Allah. Demi Allah, aku tidak mempunyai alasan untuk tidak ikut berperang. Saat itu, kondisi ekonomi dan fisikku sangat baik.

” Rasulullah saw. bersabda, “Adapun orang ini, ia telah berkata jujur. Berdirilah wahai Ka’ab, tunggulah keputusan Allah.”

Beberapa laki-laki dari Bani Salamah berjalan mengikutiku. Mereka berkata, “Demi Allah, kami belum pernah melihatmu berbuat dosa sebelum ini. Mengapa kamu tidak mampu mengajukan alasan kepada Rasulullah saw., sebagaimana orang-orang yang tidak ikut berperang itu mengemukakan alasannya. Sungguh, istigfar Rasulullah saw. sudah cukup untuk mengampuni dosamu.” Mereka terus menyalahkan tindakanku sampai timbul keinginan dalam diriku untuk kembali kepada Rasulullah saw. dan berkata bohong kepadanya.

Aku bertanya kepada mereka , “Adakah orang lain yang mengalami hal sepertiku?”

Mereka menjawab , “Ada, dua laki-laki yang berkata seperti kamu katakan kepada Rasulullah saw. Beliau berkata kepada mereka seperti yang dikatakannya kepadamu.”

“Siapakah mereka?”

“Murarah bin Rabi’ah dan Hilal bin Umayah Al-Waqifi.” Kemudian mereka menyatakan bahwa kedua orang itu adalah orang – orang shalih yang ikut perang Badar, dan merekalah yang menjadi teladan.Aku segera pergi dari hadapan mereka.

Lalu, Rasulullah saw. melarang para sahabat untuk berbicara dengan kami bertiga. Orang- orang pun menghindari kami. Sikap mereka berubah terhadap kami. Sampai- sampai, aku merasakan bumi berubah, bukan bumi yang sebelumnya kukenal. Keadaan seperti ini menimpa kami selama lima puluh hari.Dua temanku, Murarah dan Hilal, hanya menetap di rumah masing – masing dan terus – terusan menangis. Sementara aku, orang yang usianya paling muda, dan paling kuat di antara kami, masih menghadiri shalat berjamaah dengan kaum muslimin, dan pergi ke pasar. Aku tetap melakukan itu, meski tidak ada seorangpun yang mau berbicara denganku.

Aku juga mendatangi Rasulullah saw.Kuucapkan salam kepadanya ketika beliau di tempat duduknya setelah shalat. Aku berkata dalam hati, “Apakah beliau menggerakkan bibirnya untuk menjawab salam atau tidak?” Kemudian aku mengerjakan shalat di dekat beliau sambil melirik kepada beliau. Saat aku tidak menoleh ke arah beliau, beliau memandangku. Namun , jika aku memandang beliau, beliau berpaling.

Ketika perlakuan keras ini kurasakan cukup lama, aku berjalan menuju kebun Abu Qatadah dan kupanjat pagarnya. Dia adalah sepupuku dan orang yang paling aku sukai. Aku mengucapkan salam kepadanya. Akan tetapi, ia sama sekali tidak menjawab salamku. Aku berkata kepadanya, “Aku bersumpah dengan nama Allah untukmu, apakah kamu mengetahui bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?” Dia hanya diam. Aku mengulangi pertanyaanku. Dia menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Air mataku jatuh bercucuran, lalu aku pergi dengan memanjat pagar.

Pada suatu hari, ketika aku berjalan di pasar Madinah,seorang petani dari penduduk Syam, berkata,”Siapakah yang bisa menunjukkan aku kepada Ka’ab bin Malik?” Orang – orang menunjuk kepadaku, lalu ia mendatangiku dan menyodorkan surat dari raja Ghassan. Kubaca isinya sebagai berikut: Kami telah mendengar bahwa temanmu (Muhammad) telah bersikap keras kepadamu, padahal Allah tidak menjadikanmu untuk dihina atau ditelantarkan. Oleh karena itu, bergabunglah dengan kami, kami akan menolongmu.” Selesai kubaca, aku berkata dalam hati, “Surat ini juga bagian dari cobaan.” Aku pergi ke tempat pembakaran dan kubakar surat itu.Keadaan seperti ini sudah berlangsung selama empat puluh hari, dan wahyu yang berkaitan dengan masalah ini belum juga turun.

Tak berapa lama, utusan Rasulullah mendatangiku dan berkata, “Rasulullah memerintahkan kepadamu untuk menjauhi istrimu.”

Aku berkata, “Apakah aku harus menceraikannya, atau apa yang harus aku perbuat terhadapnya?” Ia menjawab,

“Tidak, tapi jauhilah dia.” Rasulullah saw. juga mengutus seseorang kepada dua temanku, dengan perintah yang sama.

Aku berkata kepada istriku, “Pergilah kepada keluargamu. Tetaplah bersama mereka hingga Allah memberikan keputusan tentang masalah itu.”

Istri Hilal bin Umayah menemui Rasulullah saw. dan berkata, “Ya Rasulullah ,Hilal bin Umayah adalah orang yang sudah lanjut usia dan tidak mempunyai pelayan. Apakah engkau tidak suka bila aku membantunya?”

Rasulullah saw. menjawab, “Boleh,tapi jangan sampai dia mendekatimu.” Istri Hilal berkata, “Demi Allah, ia sudah tidak memikirkan apa-apa lagi. Sejak peristiwa itu sampai saat ini, ia tidak berhenti menangis.”

Beberapa keluargaku berkata kepadaku, “Sebaiknya kamu meminta izin kepada Rasulullah untuk istriku, karena beliau telah memberikan izin kepada istri Hilal untuk membantunya.”

Aku menjawab, “Aku tidak akan meminta izin kepada Rasulullah untuk istriku. Aku tidak mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Rasulullah jika aku meminta izin kepada beliau untuk istriku, padahal aku masih muda.”

Keadaan seperti ini berlangsung selama sepuluh hari, sehingga genap lima puluh hari sejak sanksi tersebut diberlakukan. Pada hari kelima puluh, ketika aku melakukan shalat subuh di salah satu ruang rumah kami , aku sangat sedih, dan bumi yang luas pun terasa sempit. Kondisi hatiku telah Allah gambarkan dalam Al-Qur’an.

Saat itu aku mendengar suara orang yang berteriak dari atas gunung Sal’in….(Bersambung)

============ ========= ========= ========= ========= ========= ========= ======

Sumber : Syarah dan Terjemah Riyadhus Shalihin Jilid 1

Posted on March 22, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: