Abu Darda’ “Seorang yang bijak tiada duanya”

Singa padang pasir…” sudah kita kenal, “Pedang Allah…” sudah sering kita dengar kisahnya, “Pemilik dua cahaya…” apalagi.
Tapi “Seorang yang bijak tiada duanya” ??
Kalau temen2 tahu itulah gelar yang tersemat pada salah satu sahabat Rasullulah SAW di salah satu buku yang saya baca.

Temen2 tahu siapakah beliau?

Ya…dialah Abu Darda’ ra. (uda ada gitu  di judulnya)

Berikut sedikit kisah dan pelajaran yang bisa kita ambil dari beliau.

Awalnya beliau adalah pedagang yang sangat sukses di Madinah dan memiliki kekayaan yang sangat berlimpah,namun beberapa saat setelah masuk islam kehidupannya sangat berubah.

Hal itu dapat terlihat dari perkataannya:
“Ketika aku masuk islam,aku seorang pedagang. Aku ingin ibadah dan bisnisku berjalan beriringan, namun tidak bisa.Karena itu, aku tinggalkan bisnisku dan aku fokus pada ibadah.Sekarang meskipun setiap hari aku mendapat untung 300 dinar,atau bahkan toko itu berada di depan pintu masjid,aku sama sekali tak tertarik. Aku tidak mengatakan bahwa Allah mengharamkan jual beli , tetapi aku lebih suka menjadi orang yang tidak melalaikan zikrullah karena bisnis dan perdagangannya”.

Apakah beliau melarang orang untuk berdagang??? tidak, tapi itulah jalan hidup yang belaiu tempuh untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Beliau pun pernah menjadi seorang hakim di Syam, yang waktu itu adalah wilayah yang makmur dan penuh kemewahan hidup. Beliau pun datang dan mengingatkan mereka yang terlena tentang pola hidup dan kezuhudan Rasulullah dan para syuhada dan shidiqqin dari generasi pertama.

Apa yang beliau katakan kepada mereka?
“Wahai penduduk Syam, kalian adalah saudara seagama,tetangga rumah, dan pembela melawan musuh bersama. Akan tetapi ,aku heran melihat kalian yang tidak mempunyai rasa malu. Kalian kumpulkan apa yang tidak kalian makan.Kalian dirikan bangunan yang tidak kalian diami.Kalian harapkan apa yang kalian tidak akan capai.
Beberapa abad sebelum kalian, mereka juga mengmpulkan dan menyimpan harta. Mereka berangan-angan sangat tinggi .Mereka mambangun bangunan yang sangat kokoh. Tetapi pada akhiranya ,semua yang mereka kumpulkan menjadi sirna,apa yang mereka angankan sia-sia,dan rumah mereka menjadi kuburan.Mereka adalah kaum ‘Ad. Harta dan anak mereka melimpah di wilayah Adn hingga Oman”.

Dan bagi Abu Darda’ ibadah bukanlah hanya rutinitas kosong,melainkan upaya mencari kebaikan dan rahmat Allah,serta kepatuhan total untk mengingatkan kelemahan manusia dan nikmat yang diberikan tuhannya. Beliau selalu waspada dan mengingatkan orang lain agar berhatii-hati teradap ibadah yang kosong tanpa arti yang banyak meninmpa orang -oarng yang lemah imannya ketika mereka mambangga-banggakan ibadah mereka dan merasa lebih baik dari org lain dengan ibadah itu.

“Sekecil apapun kebaikan orang yang bertaqwa lebih baik dari ibadah sebesar gunung orang yang menipu diri.”
itulah perkataan beliau kepada mereka.

Kawan…inilah Abu darda’ seorang yang sangat bijak, seorang yang sangat zuhud, dan seorang yang telah memilih jalannya sendiri, telah memilih spesialisasinya sendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah.

So…jalan apa yang akan kita tempuh dan pilih ntuk mendekatkan diri kepada Allah???

Wallahu a’lam
Semoga bermanfaat.

Posted on January 5, 2010, in Indahnya Islam, Sirah sahabat. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Hidup dengan bergantung kepada Allah akan menuai berkahnya.. terbukti di cerita ini.. Thx gung..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: