Shaum Ayyamul Bidh yuk (hadits, keutamaan, dan hikmah)

Sahabat, tidak terasa kita sudah memasuki tengah bulan pada bulan hijriah. Bulan pun bersinar dengan terangnya dan tak lagi malu – malu menampakkan wajahnya. Bagi sebagian orang, mungkin menganggap fenomena ini adalah fenomena alam biasa dan harinya pun dilalui dengan biasa-biasa saja.  Untuk seorang peneliti fenomena pasut (pasang – surut) air laut, mungkin fenomena ini adalah salah satu dari sekian  fenomena yang akan mempengaruhi hasil penelitiannya (sekadar info, bahwa pengamatan untuk  penelitian dan pemodelan pasut air laut biasanya memakan waktu berhari – hari, bahkan bertahun – tahun lamanya).

Tapi lain halnya dengan seorang muslim, hari tersebut menjadi suatu hari yang istimewa dimana ia telah diberikan kesempatan untuk bertemu dengan suatu amal ibadah yang mendapakan tempat istimewa, dan melaksanakannya dengan sepenuh hati. Apa itu? Shaum Ayyamul bidh (terjemahan kasar: puasa hari putih/terang ).

Apa sih istimewanya?

Kenapa puasa ini begitu istimewa? Ada beberapa Alasan mengapa puasa ini terasa begitu istimewa ,antara lain:

Bahwa puasa ini memiliki ganjaran yang sangat besar di sisi Allah, sudah tentu kita sebagai umat muslim akan rugi jika melewatkannya.

Dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Puasalah tiga hari dari setiap bulan. Sesungguhnya amal kebajikan itu ganjarannya sepuluh kali lipat, seolah ia seperti berpuasa sepanjang masa.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan an Nasai)

Puasa ini juga puasa yang selalu dilakukan (sunah muakkad) oleh teladan terbaik kita Rasulullah Muhammad Saw, dan beliau juga mewasiatkannya kepada para sahabatnya juga umatnya:

Abu Hurairah ra. Berkata, “Teman dekatku (Nabi Muhammad saw.) berpesan tiga hal kepadaku: berpuasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.” (Muttafaq ‘alaih)

Ibnu Abbas ra. berkata, “Rasulullah saw. tidak pernah berbuka (tidak berpuasa) pada Ayyamul-Bidh, baik di rumah maupun sedang bepergian.” (h.r. Nasa’i. Sanad hadits ini hasan)

Luar biasa? pastinya…jadi tunggu apa lagi, pasang reminder di HP dan niatkan untuk melakukan puasa ini setiap bulannya.

Kapan, nih?

Terus gimana kalau terlewat atau lupa, atau hari tersebut jatuh pada hari dimana tidak diperbolehkan puasa misalnya…dan apakah harus di tiga hari tersebut?

Mu’adzah Al-Adawiyyah menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah ra., “Apakah Rasulullah saw. berpuasa tiga hari setiap bulan?” Aisyah menjawab, “Ya.” Saya bertanya, “Dari bagian bulan mana beliau berpuasa?” Aisyah menjawab, “beliau tidak peduli dari bagian mana beliau berpuasa.” (h.r. Muslim)

Imam Nawawi berpendapat bahwa tidak ada pengkhususan di hari berapa puasa sunah 3 hari setiap bulannya. Dan Yusuf Qardhawi dalam fiqh puasa juga berpendapat bahwa perbedaan hadits dalam menetapkan hari- hari puasa menunjukkan adanya toleransi. Setiap muslim boleh saja berpuasa di awal bulan, tengah bulan, atau akhir bulan, sesuai dengan kemudahan dan kesempatan yang ia miliki. Tapi kembali kata imam Nawawi, dalam hadits lain dijelaskan bahwa yang paling utamaadalah di harike -13, 14, dan 15 , seprti  dalam hadist:

Wahai Abu Dzarr, jika engkau ingin berpuasa tiga hari dari salah satu bulan, maka berpuasalah pada hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas.” (HR. At Tirmidzi)

Nah , gak bingung lagi kan? pastinya…jadi tunggu apa lagi, pasang reminder di HP dan niatkan untuk melakukan puasa ini setiap bulannya.

Hikmah

Wah kalau kita berbicara tentang hikmah pasti akan sangat banyak sekali hikmahnya. Apalagi suatu amalan yang memiliki ganjaran dan keistimewaan seperti ini. Gak akan sampai rasanya pikiran kita untuk melihat hikmahnya satu-persatu.

Salah satu hikmahnya adalah datang dari penelitian fenomenal seorang Psikolog dari Amerika Serikat bernama Arnold Lieber pada tahun 70-an. Bahwa perilaku manusia pada saat bulan purnama akan berubah menjadi  lebih buruk daripada biasanya. Terlepas dari segala kontroversi dan benar atau tidaknya penelitian tersebut. (kalau saya tidak salah baca di sini dan di sini sih masih diperdebatkan  kebenaran dan keabsahan penelitian itu).  Ketika ilmu sains modern mengungkapkan adanya kelabilan emosi manusia saat bulan purnama, Islam telah menganjurkan untuk melaksanakan puasa tepat saat munculnya sang bulan purnama. Islam telah memberi jalan pada umatnya agar tidak terkena pengaruh kelabilan emosi yang terjadi pada tanggal tersebut. Rasulullah menganjurkan kita berpuasa, agar hati kita selalu terjaga dari amarah, nafsu, dan segala sifat buruk lain yang cendrung lebih meluap pada saat itu dibanding saat-saat lainnya. Dengan kata lain Puasa yang umat muslim kenal sebagai pengendali hawa nafsu dan syahwat ini, seakan ditempatkan begitu pas pada saat potensi berbuat keburukan sedang dalam potensi tertingginya.Kebetulan? Pastinya enggak dong.

Luar biasa? pastinya…jadi tunggu apa lagi, pasang reminder di HP dan niatkan untuk melakukan puasa ini setiap bulannya. (haha…pasti bosen sama reminder ini, tenang…kesalah bukan pada mata anda.., emang sengaja kok)

Semoga bermanfaat dan bisa menjadi motivasi kita dalam beramal..Amiin.

Wallahu A’lam Bishawab.

.

Sumber:
-Buku Fiqh Puasa-Ust Yusuf Qardhawi
-Syarah Riyadushshalihin – Imam Nawawi
-http://www.associatedcontent.com/article/612189/does_a_full_moon_influence_human_behavior.html?cat=58
-http://abcnews.go.com/TheLaw/bad-moon-rising-myth-full-moon/story?id=3426758&page=3
-http://nandahanyfa.blogspot.com/2010/03/rahasia-ayyamul-bidh.html
About these ads

Posted on June 15, 2011, in Brainstorming, hikmah, Indahnya Islam, Wawasan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 16 Comments.

  1. nice post gung,
    terus terang, ayyamul bidh mah masih sering terlewat…
    request: sms saya H-1 ayyamulbidh ya, biar habit buruk saya tiap tengah bulan gak muncul :)
    jzk

  2. indah sumaryanto

    inilah akibat krg paham ayyamul bith,akhirnya salah jawab arti puasanya…malu deh rasanya.niatnya puasa aja..karena program yayasan.tapi, Allah telah memberi peringatan untuk meluruskan niat.bahwa apa yang kita lakukan harus ada dasarnya..thx ya berbagi infonya..jadi makin tahu arti puasa 3 hari. semoga diberi keistiqomahan. amiin..

  3. Mohon di check lagi hadist ini ya

    Ibnu Abbas ra. berkata, “Rasulullah saw. tidak pernah berbuka (tidak berpuasa) pada Ayyamul-Bidh, baik di rumah maupun sedang bepergian.” (h.r. Nasa’i. Sanad hadits ini hasan)

    Apakah rasulullah : tidak ber berpuasa pada ayyamul bidh ya?…. kalau tidak pernah berbuka pada ayyamul bidh kan bisa diartikan beliau berpuasa pada ayyamul bidh kan? … bukan diartikan tidak berpuasa pada ayyamul bidh… syukron, mohon penjelasannya.

    • @malik: terima kasih sebelumnya atas kunjungan dan komentarnya…
      Mengenai hadist diatas, jujur saya pribadi tidak berani mengomentari secara langsung dikarenakan keterbatansan ilmu yang saya miliki. Dan saya juga merasa tidak memiliki kafaah untuk menjawabnya. Tetapi yang saya yakini dan saya baca beberapa literatur dari para ulama tentang puasa, dapat disimpulkan bahwa selama ini saya belum menemukan tulisan yang menyebutkan larangan untuk berpuasa ayamul bidh. Kalaupun kesimpulan yang mas malik katakan tadi benar adanya tentunya para ulama sudah melarangnya diri dulu…Oiya salah satu buku tentang puasa yang saya ingat itu buku “fiqh puasa” nya ust Yusuf Qardhawi, selain beberapa buku lainnya yang saya lupa judulnya. :)

  4. Kata “tidak berpuasa” yg di dlm kurung di sini untuk mengartikan kata “berbuka”nya saja.
    kata “tidak pernah”nya tidak di ikut sertakan.
    jadi kata “tidak berpuasa”bukan untuk mengartikan “tidak pernah berbuka”.
    dengan kata lain….rosululloh tidak pernah berbuka pada ayyamul bidh=rosululloh tidak pernah tidak berpuasa pada ayyamul bidh.
    Begitu mungkin yang sy pahami dari teks hadist di atas.sukron

    • @anang: Hmm…kembali dengan keterbatasan ilmu saya, akan coba saya tanggapi.

      Memang menurut saya agak susah kalau memahami hadist (apalagi qur’an) secara tekstual dari terjemahan, karena adanya distorsi (kesalahan/ketidakmampuan) dalam penerjemahan arab-indonesia karena memang tidak bisa 100 % bahasa arab diterjemahkan ke bahasa indonesia. Kebetulan saya sedang coba mempelajari bahasa arab (walaupun masih sangat pemula) dan ternyata memang ada kasus (mungkin bisa saja banyak) kosa kata / istilah arab yang sangat sulit diterjemahkan secara tekstual ke bahasa indonesia.

      Oleh sebab itu kenapa orang yang boleh menafsirkan Al-Qur’an salah satu syarat mutlaknya adalah bisa berbahasa arab dengan baik.

      Wallahu a’lam

  5. Makasih yah artikelnya bermanfaat sekali jadi tambah ilmu dan ibadah

  6. Makasih yah artikelnya bermanfaat sekali jadi tambah ilmu semoga bisa menambah amalan ibadahnya

  7. Alhamdulillah jelas banget, smg sy istiqomah ..aamiin. Jazakallahu khoir tulisan ini, manfaat banget :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 865 other followers

%d bloggers like this: