Menyelami Sedikit Lebih Dalam Makna Kata “Maaf”

.

Keadaan hari itu di kota Madinah,mungkin sama seperti hari-hari yang sebelumnya yang juga tenang. Kalaupun ada yang tidak biasa di hari tersebut, adalah rencana kunjungan rombongan Bani Tamim kepada Rasulullah saw. Tanpa mengetahui apa maksud kedatangan mereka, Rasul pun menunggu kedatangan tamunya dengan tenang. Hingga pada akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun datang. Rasul mempersilahkan mereka semua duduk dengan tertib.  Semua tamu disalaminya dan mendapat senyuman yang paling tulus, yang membuat masing-masing mereka selalu menganggap bahwa mereka adalah orang yang paling penting dalam kehidupan Rasul.

.

Ketika semua sudah duduk dan menyantap hidangan yang dihidangkan oleh Rasulullah, maka Rasulullah pun berkata, “Semoga Allah swt senantiasa memberkahi kita semua. Apakah maksud kedatangan kalian ini, wahai sahabat-sahabatku semua?”

“Kami semua baik-baik saja ya Rasulullah. Terima kasih telah menerima kami semua. Sesungguhnya kami sekarang ini sedang berada dalam keadaan yang sangat pelik. Kami membutuhkan bantuanmu sekali, jika engkau sekiranya tidak keberatan.”

Rasulullah mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menunggu saja.

Salah seorang dari mereka bicara lagi, “Sesungguhnya kami ini hendak memilih pemimpin di antara kami….”

“Dan?” Rasulullah berkata ketika ia tidak melanjutkan bicaranya.

“Dan kami tidak punya pengetahuan yang sebagus engkau. Kami sebelumnya telah berselisih siapa kiranya yang akan dan harus jadi pemimpin kami……”

“Begitu ya….?”

Semua orang diam sekarang. Mereka menundukkan kepala mereka. Ada sejumput perasaan malu karena mereka telah melibatkan Rasul dalam urusan yang tampaknya tidak seberapa itu. Rasul masih terus mengangguk-angguk kepalanya. Beliau terdiam. Cukup lama.

Dan ketika Rasulullah hendak membuka mulut, tiba-tiba Abu bakar yang berada bersama rombongan berkata cukup keras, “Angkat Al-Qa’qa bin Ma’bad sebagai pemimpin!”

Semua kepala mendongak memandang Abu Bakar. Ada mata yang setuju namun ada juga yang kelihatannya menentang.

Umar yang juga datang bersama Abu Bakar berdiri, “Tidak, angkatlah Al-Aqra bin Habis.”

Kedua orang itu kini berdiri. Suasana tampak tegang. Rasulullah hanya diam saja. Apakah Abu Bakar dan Umar akan bertengkar?

Abu Bakar dengan sedikit mendelik berkata, “Kau hanya ingin membantah aku saja, hai Sahabatku!”

“Aku tidak bermaksud membantahmu!” jawab Umar.

Keduanya untuk beberapa saat masih saja saling berkata-kata sehingga suara mereka terdengar makin keras. Mereka tampaknya tidak peduli bahwa di situ ada orang lain. Tidak peduli bahwa di tempat itu pun ada Rasulullah, panutan mereka.

Waktu itu, turunlah ayat, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari..” (Al-hujurat: 1-2).

Setelah mendengar teguran itu langsung dari Allah, semua orang di situ tertegun. Sebaliknya Abu Bakar langsung menangis. Setelah ia meminta maaf kepada sahabatnya Umar, ia menghadap Rasulullah. “Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia.”

Rasulullah mendegar itu hanya mengelus-elus punggung Abu Bakar. Ia tersenyum kepadanya. Sedangkan Umar bin Khattab setelah itu berbicara kepada Nabi hanya dengan suara yang lembut. Bahkan kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus.

.

Sahabat, mendengar dan menyelami kisah Rasul dan para sahabatnya yang penuh dengan dinamika tetapi selalu dibalut dengan indahnya islam, membuat kita seakan sedang menyelami samudra hikmah yang sangat luas. Banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil dari kisah – kisah mereka.

.

Kisah yang melatarbelakangi turunnya beberapa ayat Al-Qur’an tersebut mungkin memang tidak secara eksplisit memberikan kepada kita makna dan pentingnya kata maaf, tapi dapat memberikan keteladanan untuk kita tentang bab bertaubat dan kerendahan hati, yang akan sangat erat hubungannya dengan satu kata yang akan kita bahas nantinya.

.

Bertaubatlah Karena Kita Berlumuran Dosa

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya…”(TQS 66: 8 )

Jika kita membahas kata maaf maka tidak dapat kita pungkiri bahwa hal tersebut akan sangat erat kaitannya dengan kata taubat. Karena dalam makna kata maaf yang murni terdapat unsur-unsur penyesalan, janji untuk tidak mengulangi kesalahan, dan tekad yang kuat untuk menebus segala kesalahan yang kesemuanya juga adalah syarat pemenuhan suatu taubat.

.

Sudah menjadi pengetahuan dan pemakluman bahwa manusia adalah salah satu sarang tempat dosa, kesalahan, dan kekhilafan berkumpul. Kalau kita coba hitung dan bayangkan seberapa banyak dosa – dosa yang sudah kita perbuat selama hidup kita, maka pasti akan sangat sulit untuk mengkuantifikasikannya. Bahkan waktu yang singkat antar shalat saja sangat besar kemungkinannya kita melakukan suatu kesalahan, jadi mungkin saja karena memaklumi hal itulah Allah mewajibkan kita untuk shalat lima waktu setiap harinya.

Abu Hurairah r.a. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. Bersabda, ‘ Bagaimana pendapat kalian, seandainya ada sungai di depan pintu rumah seorang dari kalian. Dia mandi di sungai itu lima kali sehari. Apakah masih ada kotoran yang tersisa?’ Para sahabat menjawab,’Tidak akan ada kotoran yang tersisa.’ Rasulullah saw. bersabda, Begitulah perumpamaan shalat lima waktu. Dengannya Allah menghapuskan dosa-dosa. (Muttafaq ‘alaih).

.

Bahkan Rasulullah saw. teladan kita dalam segala hal, yang dirinya ma’shum (terpelihara dari kesalahan) dan diampuni dosanya yang telah lewat dan yang akan datang mencontohkan kepada kita bahwa beliau tidak pernah kurang dari 70 kali beristighfar setiap harinya. Subhanallah!

.

Membuka Pintu Gerbang Ampunan Allah dengan Kata Maaf

“…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An Nuur, 24:22)

Mari renungi lebih dalam dan kita akan mendapati bahwa bertaubat langsung kepada Allah yang Maha Pengampun prosesnya relatif jauh lebih mudah. Karena menurut Imam Nawawi dalam kitabnya yang tersohor, Riyadhus Shalihin,  jika kemaksiatan yang kita lakukan tidak berkaitan dengan hak sesama manusia kita “hanya” (walaupun dalam praktiknya kita semua tahu betapa sulitnya melakukan hal ini) perlu memenuhi tiga syarat,yaitu menghentikan kemaksiatan yang dilakukan, menyesalinya ,dan bertekad untuk tidak melakukan kemaksiatan itu lagi. Maka akan sangat berbeda bila dalam kemaksiatan yang kita lakukan terkandung hak sesama manusia. Selain tiga syarat yang sudah disebutkan di atas, ada satu syarat lagi yang harus kita penuhi, yaitu membebaskan diri dari hak tersebut. Yang salah satu caranya adalah meminta maaf.

.

Kata Maaf, jika kita merujuk ke KBBI (Kamu Besar Bahasa Indonesia- red) artinya adalah 1 pembebasan seseorang dr hukuman (tuntutan, denda, dsb) karena suatu kesalahan; ampun:minta –; 2 ungkapan permintaan ampun atau penyesalan. Maaf juga adalah sebuah kata yang sangat singkat dan terdiri hanya terdiri dari empat huruf, m, a, a, dan f. Tetapi seringkali sangat sulit kita ucapkan. Bahkan ketika kita tahu ada kontribusi kesalahan kita dalam suatu masalah dan masalah tersebut akan selesai jika kita mau minta maaf. Sifat sombong dan khawatir dianggap sebagai orang yang hina adalah salah satu penyebab kenapa sangat sulit sekali untuk meminta maaf. Padahal dalam Allah sangat membenci orang yang bersikap congak lagi sombong.

.

dari Haritsah bin Wahab r.a. bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Senangkah kalian jika aku beritahukan tentang ahli surga? Ia (ahli surga itu), setiap orang yang lemah dan memandang diri (sendiri) lemah, yang jika bersumpah kepada Allah pasti dikabulkan. Dan, sukakah kalian aku beritahukan tentang ahli neraka? Ia (ahli neraka itu) adalah setiap orang yang kasar, tidak sabaran, dan congkak lagi sombong.” (Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).

.

Dibalik Segala Kesulitan Tersebutlah Tersimpan Ridha Allah

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (TQS.7:199)

Jika meminta maaf saja tantangannya sudah besar maka memberi maaf punya tantangan dan keutamaannya tersendiri yang bahkan jauh lebih besar dari meminta maaf. Maka tidak berlebihan Rasulullah menempatkan sikap memberi lebih baik daripada meminta, “Tangan diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah.Tangan yang di atas itu ialah tangan yang memberi; sedangkan tangan yang di bawah ialah yang meminta-minta.” , ungkapnya.

Seakan mempertegas keutamaannya Rasulullah pun memposisikan memberi maaf adalah sebagai akhlak yang paling mulia di dunia dan akhirat  Nabi saw bersabda: “Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang menzhalimimu, memberi orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu.” (H.R. Baihaqi).

.

Selain kebaikan ruhani dan akhlak, sifat memberi maaf bahkan juga memiliki kebaikan jasmani, yaitu membuat tubuh kita menjadi lebih sehat. Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres.

.

Dibalik semua keutamaan tersebut, yang sudah tentu tidak kita ragukan lagi kebaikannya. Mamang membuat setan tidak bisa diam, dengan segala bujuk rayunya setan selalu menggelitik sifat sombong kita dan mebisikkan kepada kita betapa hinanya bila seseorang meminta maaf, apalagi memberi maaf. Maka sifat sombong dan khawatir menjadi hina kembali menjadi hambatan kita untuk memberi maaf. Padahal dihadapan Allah tidak ada penghargaan lain terhadap orang yang redah hati (tawadhu’) dan suka memaafkan kecuali kemuliaan di sisi-Nya.

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tiada berkurang harta karena sedekah, dan tiada Allah menambah seseorang karena (mau) memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidak ada seorang hamba pun yang tawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah kecuali Allah akan mengangkatnya.” (Muslim no. 2588)

“Allah lebih gembira terhadap taubat hamba-Nya daripada seseorang diantara kamu yang mendapatkan untana yang telah hilang di Gurun Sahara. (Muttafaq ‘alaih)

Sebagai seorang muslim yang taat, sudah tentu kita ingin semua hal yang kita lakukan lebih mendekatkan kita kapada Allah dan membuka jalan menuju Ridha-Nya. Maka sudah sepatutnya taubat  (termasuk meminta maaf)  dan memberi maaf kita masukkan menjadi menu makanan harian yang tidak pernah kita lewatkan. Karena kita tidak tahu, kapan kesempatan kita untuk bertaubat akan berkhir.

.

Wallahu a’lam.

(dari berbagai sumber)

About these ads

Posted on September 12, 2010, in Brainstorming, hikmah, Indahnya Islam, Pesona Ramadhan. Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 865 other followers

%d bloggers like this: